Search and Hit Enter

Anto Mulyanto

“Kamu jangan terlalu sibuk ngurusin masalah-masalah begituan. Sayang aja. Soalnya kamu itu potensial. Kamu pasti bakal produktif kalo ngga terlalu deket sama perempuan.”

Kalimat ini menjadi penting waktu Anto berusaha keras menyelesaikan persoalan tanpa harus mengasihani aku, juga memberikan spirit baru untuk terus hidup. Ketika itu, aku gagal mendesain idealitas insting kelelakianku atas perempuan, dan Anto berusaha menghiburku, dengan caranya sendiri. Baginya, aku tak diperkenankan berlama-lama bersedih, hanya untuk sesuatu yang justru membuatku tak produktif. Ia juga yakinkan aku kalau sebenarnya aku punya potensi besar yang harus terus diasah, bukan malah dialihkan terlalu banyak ke perempuan.

Anto termasuk sosok maskulin. Kesan bahwa ia cowo banget kental terasa ketika ia bicara tentang perempuan. Bukan berarti ia banyak pengalaman. Justru karena terlalu maskulin itu, ia tak tertarik untuk menghabiskan waktunya mengurusi perempuan. Bersamaku ia selalu desakkan gagasan-gagasan baru seputar analisis sosial, skenario perkaderan, atau memaknai sastra. Bila mendekat ke persoalan perempuan, ia mulai tak fokus dan sering ngelantur tak tentu arah. Satu lagi, ia paling tak suka ditertawakan. Baginya, itu terlalu merendahkan. Untuk ini, dagunya tampak kelihatan lebih tinggi dari biasanya.

Aku juga tahu, Anto sebenarnya tak dapat seimbangkan kebutuhannya akan intelektual, eksistensi, dan perempuan dalam satu waktu sekaligus. Ia harus menelan kekecewaan yang sangat saat hidup harus dipisahkan dengan kenyataan-kenyataan yang paradoks. Ia tak suka kalau harus bergerilia epistemologi di satu sisi, sementara di sisi lain, ia berhadapan dengan perempuan yang tidak mendukungnya untuk itu. Ia tak suka kalau ia serius baca buku di satu waktu, sementara di waktu lain ia mesti ‘sayang-sayangan’ dengan seperti melupakan buku yang pernah ia baca. Dengan buku ia bisa hidup, tapi dengan perempuan malah menurunkan tensi belajarnya.

Praktis Anto beranggapan, cewe yang tidak mendukung proses belajarnya adalah merepotkan. Aneh saja waktu cinta yang seharusnya saling mendukung harus berujung pada keakuan yang tak saling dukung. Jadi wajar kalau Anto tak terlalu suka membicarakan perempuan, apalagi perempuan yang anti-intelektual.

Setelah lulus sekolah, ternyata ia tak banyak berubah. Sesederhana mungkin ia maknai hari-hari dan sesederhana mungkin ia menikmati hari. Ia bahkan malas berkomentar kalau memang terlalu berat untuknya. Kini ia tak malu kalau harus mengaku tak tahu-menahu tentang sesuatu atau lemah terhadap tekanan. Tentu bukan berarti merepotkan orang. Dan yang pasti, juga dengan terus berusaha menjadi lebih baik setelah paham bahwa ia lemah.

“Lakukan yang dibisa aja. Yang penting kita enak jalaninnya. Jangan terlalu dipaksain,” jelas Anto padaku membahas tekanan masa depan yang kadang aku maknai berlebihan.

“Begini Engkong Anto, kejam sekali dunia kalo kita cuma santai-santai.”

“Setuju. Tapi yang penting ngga kepaksa aja. Kalo ngga ada tuntutan, pekerjaan juga enak diselesein.”

Anto penganut tulen kebebasan bersikap. Untuk bahagia, orang harus berani menyatakan keinginan dan memperjuangkannya. Tapi, untuk berkeinginan, seseorang tak boleh melebihi kekuatannya. Hidup dapat dinikmati bila kita ada di tempat dan posisi yang benar-benar kita pahami. Artinya, kita harus sadar penuh pada keinginan kita itu, bukan mimpi. Hidup serasa sulit kalau harus diberi standar yang tak terlalu kita pahami.

Anto juga tak mau dipaksa-paksa. Sekalinya ia bilang ngga… ya ngga. Ia lebih memilih untuk dicibir, dijauhi, dianggap tak toleran saat ia menolak paksaan. Cueknya minta ampun. Aku tak merasa aneh waktu di pintu kamarnya sering berderet kalimat-kalimat singkat, tanda ia tak mau diganggu. Tapi, aku tak pernah kecewa dengan itu. Sebab, aku tahu Anto tak mau nanti malah merepotkan aku, bukan karena ia tak mau tahu.

“To, lagi butuh dukungan, nih. Kayaknya bulan ini bakalan berat,” pintaku agak lembek, suatu ketika.

“Oke. Biar elo salah, tetep gue belain. Edan, ngga?” jawab Anto tegas.

Anto pernah cerita soal Om-nya. Si Om dulu aktivis masjid. Waktu lulus, ia minta dua hal ke Engkongnya Anto (Bapaknya si Om). Pertama, pergi haji. Kedua, nikah. Kalau pergi haji, bisa saja diongkosi sang ayah, tapi kalau urusan nikah, ini agak rumit. Pasalnya, setahu beliau, si Om tak pernah bersinggungan dengan perempuan. Si Om memang tak seperti lelaki kebanyakan yang doyan pamer-pamer calon pendamping.

Si Om lalu berkisah, kalau si cewe yang ia maui itu adalah cewe baik-baik. Si cewe sama-sama aktivis masjid, juga berkerudung besar. Waktu si Om bertandang ke rumah si cewe, bapak si cewe ternyata intelektual paten. Di ruang tamunya terpampang foto-foto pemikir-pemikir Islam kelas dunia. (Ini mungkin alasan Anto ngiri sama Om-nya trus di kamar Anto penuh dengan foto-foto pemikir dunia) Satu lagi, si Om harus rela di-test bahasa Arabnya oleh bapak si cewe. Syukurlah, walau pas-pasan, si Om dapat melewatinya dengan baik.

Setelah mendengar cerita panjang si Om, Engkong Anto berkelakar asyik, “Jangan-jangan cewenya kumisan? Kan ngga kelihatan. Soalnya pake kerudung gede.” Semua orang tertawa keras.

Sewaktu Anto berkunjung dan berkenalan dengan si Tante barunya, ia terperangah dahsyat, “Ya ampun, Men. Cantik sekali.” Kata Anto mirip Inneke Koesherawati. Anto beruntung dapat melihat Tante Cantiknya itu di dalam rumah. Jadi, pas dia tak mengenakan kerudungnya. Ups, aurat bukan, sih? Mmm… muhrim bukan, sih?

Pantesan aja. Aku dulu sering lihat Anto berbinar-binar kalau ketemu cewe-cewe kerudung gede. Ia malah pernah bertanya bloon, “Kakak, saya ini shalatnya susah. Gimana caranya biar rajin shalat?” Terang saja si Akhawat tiba-tiba berusaha keras menjelaskan detail semua yang dimaui Anto. Kepentingan dakwah lah maksud si cewe kerudung gede. Padahal, Anto cuma ingin bersamanya dan membayangkan banyak hal menarik tentang si Akhawat.

“Jatuh cinta boleh-boleh aja. Tapi dipastiin dulu. Jangan udah korbanin banyak hal… eh ngga taunya udah milik orang,” pesannya padaku beberapa waktu belakangan.

Ya, sekali lagi. Anto tak mau aku larut dalam konsentrasi besar yang justru tidak membuatku produktif.