Search and Hit Enter

Andre Albicia Hamzah

“Kamu mana tahu cinta. Dari dulu selalu begitu. Harusnya kamu belajar dari saya,” bombardir Albi semangat.

“Apaan. Kamu itu yang perlu dikasihani, Bi. Dari dulu ngga pernah ngerti apa itu cinta.”

Andre Albicia Hamzah. Albi selalu ceria dan bersemangat. Ia tampak malu kalau di hadapanku ia tiba-tiba kuyu tak bertenaga. Barangkali, takut dibilang kurang makan atau penyakitan. Didukung perutnya yang besar dan kacamata gaulnya yang nyesek di hidung, komplit membangun kesan bahwa Albi benar-benar bukan orang susah. Ia juga jarang terlihat berjalan kaki atau naik angkot. Kalau pun mengendarai motor, ia agak sungkan kalau harus menaiki motor bebek. Ya, dari dulu ia terbiasa dengan tangki motor besar. Mungkin, biar bisa mengakomodasi perut besarnya itu.

Kawanku ini orang baik. Biar diplomatis, tapi ia kelihatan lucu kalau berbohong. Maksudnya, ia tak bakat berbohong. Sebab, aku selalu tahu. Ia juga selalu menghubungkan kenyataan dengan nilai agama dan indahnya berbagi. Perasaannya sangat peka, terutama perihal perempuan. Sepertinya, mata binarnya hanya akan memancar seharian, bila ada misi advokasi buat perempuan. Benar, ia sangat menyayangi perempuan, seperti ia menyayangi Umi-nya.

Dulu, sewaktu masih satu kepengurusan di HMI Cabang Sukoharjo, ia paling tak suka berurusan dengan uang. Program-program kepengurusan tak harus melulu disandarkan pada alumni, begitu pendapatnya. Albi bahkan menyatakan tak akan pernah meminta sumbangan dari siapa pun untuk menunaikan tanggung jawab. Ia malu untuk bergerilia dari satu tempat ke tempat lain, padahal sebenarnya ia mampu untuk itu. Itu sebabnya, nalar EO sudah mengalir deras sejak dulu.

“Sebenernya, apa yang kamu cari dari perempuan, Bi?”

“Kalo saya sih sederhana. Pertama, jelas harus pinter. Ngga mungkin kan kita punya partner yang susah diajak bicara. Komunikasi itu yang paling penting. Kedua, menyayangi Umi-ku.”

“Nah, repotnya, cewe yang begitu itu susah. Kalo ketemu yang cantik, pasti ngga pinter. Kalo pinter, biasanya ngga cantik. Ada yang bilang, orang yang cantik itu pasti ngga pinter. Soalnya, dia sibuk ngurusi citra cantiknya itu. Mo belajar, gengsi. Mo gabung, takut dideketin orang. Akhirnya, dia malah ngga berkembang.”

“Yang bener?”

“Ya. Berarti memang harus ada perspektif baru.”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, ada hal lain yang bisa kita cari, Bi. Dulu, aku yakin kalo cewe pinter itu pasti emosinya bagus alias baik, dewasa, keibuan, pengertian. Dengan pinter, ia banyak tahu. Jadi, ia gampang mengerti. Tapi ternyata, banyak cewe pinter justru susah mengerti, egonya tinggi, pengin menang sendiri. Aku baru tahu kalo sebenernya, emosi yang bagus itu bisa didapat langsung tanpa harus pinter.”

“Caranya?”

“Berempati. Susah lho kita ketemu sama cewe-cewe yang bisa hidup teratur, buang sampah ngga sembarangan, reaktif kalo ada yang susah. Biasanya, Emaknya yang ngebentuk dia jadi begitu. Tapi ada cara lain, yakni dengan dekat pada kenyataan.”

“Oo… trus kamu mau cerita, kalo cewe yang keren itu cewe yang tiap saat rutin ke panti asuhan,” timpal Albi agak merem-merem, menahan tawa. Ia mulai menangkap apa yang aku mau.

“Yap. Bahagia itu soal kepuasan batin. Kepuasan batin itu kalo ada dedikasi, bukan hanya kalkulasi. Kalo uang bisa dihitung, tapi indahnya berbagi hanya bisa dirasakan. Moral yang terus menguat gara-gara kita sering berbagi itulah yang membuat kita semakin tangguh menghadapi hidup. Kesimpulannya, itulah cinta. Jadi, aku kasihan sama kamu kalo kamu ngga ngerti soal ini,” mimikku mulai culun.

“Ha ha ha…. Sialan kamu!” Albi tertawa keras.

***

“Tapi sebentar, cewe yang kamu maksud itu siapa?” Albi mengambil celah lemahku.

“Cinta kan hanya memberi. Kalo pun dapet, itu ya efek aja.”

“Ya… tapi siapa?”

“Kira-kira siapa ya, Bi?”

“Ha ha ha…. Bisa-bisanya kamu aja. Itu berarti kamu belum ngerti apa itu cinta. Saya kasihan sama kamu.”