Search and Hit Enter

What Sweet Is

Indah. Perasaan bahagia maksimal yang jujur, sangat jarang aku temui sejak kepalaku dipenuhi besutan moral-moral tak berkesudahan tentang hari yang lebih baik. Tak sepenuhnya terkatakan, tapi menembus semua keraguanku pada hidup yang sesungguhnya, sangat mungkin bisa berbahagia.

Aku sadar, aku terlalu serius. Bahkan sangat serius. Beberapa orang mengasihani keseriusanku. Sebagian yang lain menjadikannya inspirasi. Sebagian yang tersisa meyakinkanku bahwa semua itu utopis. Tak banyak penilaian sederhana, selain bahwa aku memang terlalu serius.

Tapi terkadang, mendadak aku bisa sangat bahagia, hanya karena seorang anak kecil dusun dengan baju sekolah kucel menyapaku. Aku bisa tersenyum melihat serombongan anak muda kosmopolit berbicara kemandirian bangsa. Aku tertawa renyah mendengarkan cerita orang-orang yang menyadari ketololannya tanpa ratapan. Tak seperti yang disangka orang, aku tersungging melihat pasangan laki-laki dan perempuan bergandengan tangan menyeberang jalan.

Sepintas, kegilaanku pada sosok berkarakter memang menuai kejemuan permanen. Aku tampak rigid, berkriteria, menilai, juga men-judge. Ada yang bilang, aku seperti pribadi yang hanya mau bicara hal-hal khusus, mirip orang Israel yang tampak selalu merencanakan rekayasa baru. Tapi setidaknya, ketakjubanku pada sosok berkarakter justru mengurangi ketakutan dan keresahanku tentang lemahnya manusia tak berkarakter. Sebab, aku merasa kalau aku pun sebenarnya tak terlalu berkarakter. Semacam kekhawatiran khusus publik untuk berempati padaku yang tak mampu.

Beberapa perihal bisa aku ungkapkan untuk mengacak-acak kompleksitas pikirku. Kadang kala, hanya dengan pesan singkat, “Malem Pejuang,” aku serasa bertemu kembali dengan belaian lembut orang-orang yang aku cintai. Sepagi yang didambakan orang, histeria tertahan seorang yang aku temui membuatku ada. Meski aku tahu, tak baik terlalu mengagumi orang lain pada kadar yang tak semestinya. Aku bungah alang-kepalang saat seorang yang hanya bisa aku kagumi tersenyum karena lawakanku yang aneh.

Kedaulatanku terlukis dari mimik optimis orang-orang yang aku temui, separuhnya karena kehadiranku. Senang rasanya membawa kabar gembira. Sedih rasanya mematikan keinginan orang, hanya aku tak bisa diajak bicara, atau aku tak bisa bersudut pandang. Aku bahkan tak merasa hidup kalau sedikit persoalan di hadapanku, memaksaku untuk menelan ludah, tanda aku tak bisa berapresiasi. Perasaan sok hero akut yang hingga kini tak terbendung. Entah mengapa?

“Kamu pernah tanya ngga ke orang-orang yang menurut kamu dekat, soal kelebihan kamu?” lontaran pertanyaan sulit seorang kawan mendesakku.

Aku tersenyum. Pertanyaan ini terlalu berhati-hati. Aku tahu itu. Logika terbaliknya, “Apa sebenarnya kamu ngga pernah merasa PD dengan semua kelebihan kamu itu?”

“Gimana ya? Aku susah bertanya soal kelebihanku ke orang lain. Aku ngga biasa,” ungkapku kemudian.

“Kalau ditanya, sebenarnya orang-orang di sekitar kamu pasti punya jawabannya. Meski banyak juga yang ngga utuh. Ada yang bilang kamu tuh begini dan begitu. Semua baik. Nah, aku cuma sarankan, seharusnya kamu juga bisa menerima semua komentar itu dalam hidup kamu. Semisal ada yang bilang, kalau kamu baik karena pernah kerjain tugas kuliahnya, jelas dia pragmatis. Tapi kamu ngga bisa anggap itu jelek. Karena begitulah dia mempersepsikan kepribadian kamu. Hingga kelak, ada yang bilang, kalau kamu itu ya… kamu. Kamu yang begini ini. Kamu yang menurut dia, ngga perlu dikriteriakan.”

Kawanku ini berusaha memahamkanku tentang pernyataan kekaguman yang wajar. Hal itu nyata adanya, dan aku tak perlu sungkan menganggapnya ada. Termasuk saat banyak orang yang tak suka padaku. Kenyataan itu juga tak perlu diingkari. Satu lagi tentang semua hal yang berpasangan ciptaan Tuhan.

Aku mendesah pelan. Barangkali bukan itu masalahnya. Aku bukan orang yang susah mengagumi. Aku bukan orang yang miskin pujian. Aku juga gampang terkesima pada hal-hal baru yang berbeda. Jadi sebenarnya, aku sangat terbuka pada banyak hal yang menyusuli ketakjuban dan pujianku atasnya.

Bagiku, masalahnya, kalau kekaguman itu telah diikrarkan, pertanyaannya, lantas apa selanjutnya? Aku telah terikat kebersamaan saat aku memuji. Aku merasa ada empati tak berujung sewaktu aku mengagumi. Aku memilih untuk tak beranjak dari kekagumanku itu bila pun banyak hal sulit mengikutinya.

Ya, semua itu membuatku sangat membutuhkannya. Aku menginginkan itu selalu. Tak harus selalu dimiliki. Tapi aku sangat ingin tetap tampak memilikinya. Itu kata lain dari kepercayaanku atasnya.