Search and Hit Enter

Separatisme

Foto: tophockeytilburg.nl
Foto: tophockeytilburg.nl

Beberapa waktu lalu, aku sempat bicara serius bareng Budi Gunawan, seorang kawan HMI, soal separatisme. Sebab, pada hari ini, menurutku, problem Indonesia mendesak, bukanlah keadilan, kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, atau apa pun.

Masalah besar negeri besar ini adalah separatisme; tak ada lagi keinginan bersama sebagai bangsa.

Mengutip kalimat Goenawan Mohamad, “Bangsa adalah cita-cita.” Ya. Ia bukan sesuatu yang telah jadi. Sama seperti logika Iguh Rahardi, seorang kawan HMI lain, untuk memahamkanku tentang pernikahan. Bahwa menikah itu seperti kredit motor. Menikah yang sesungguhnya adalah saat motor lunas. Setiap saat, kita hanya berpikir cicilan, dengan selalu bersama.

Kata Budi, Hassan Tiro pernah bilang, kalo selama ini, ia telah melakukan banyak riset untuk merumuskan strategi berhadapan dengan kekuasaan. Semua isu seperti desentralisasi, demokratisasi, dan sejenisnya, tidak efektif. Yang paling efektif adalah mengembuskan separatisme.

Mungkin, hal itu pula yang sekarang masih bercokol kuat di kepala pemimpin-pemimpin RMS, OPM, atau organisasi apa pun yang tak tampak.

Sebenarnya, nasionalisme bukan harga mati dalam kadar universal, apalagi hakikat. Nasionalisme itu sejarah dan komitmen, yang kemudian menjadi modal besar bertahan di era global. Saat semua negara sangat rakus mengagresi negara lain.

Kalau sekarang, yang melakukan show of force atas Palestina hanya kelompok-kelompok yang sering dianggap sebagai ‘Islam formal’ barangkali, kembangan dari rendahnya nasionalisme sebenarnya adalah turunan dari ‘tidak adanya keinginan untuk hidup bersama sebagai manusia’.

Ya, pada hari ini, semua hal bermakna politik, dengan analisis dan penanganan politik pula.

Atau Budi memang benar, “Kita ini tak pernah benar-benar mau memberi kesempatan pada Islam formal untuk memimpin.”

1 Comment

Comments are closed.