Search and Hit Enter

Love After Married

Judul ini bukan pembanding sex before married yang resmi dianggap biang keladi kehancuran masa depan remaja Indonesia, hingga kemudian nikah muda semakin dianggap wajar di tengah pergaulan dunia yang semakin bebas. Ia juga bukan kalimat yang dipilih asal-Inggris. Sederhana saja, aku tak nyaman mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia. Selain aku belum tentu bisa menafsirkan tuntas makna harfiahnya dalam bahasa Indonesia, aku takut berdebat tentang rasa. Aku hanya tengah bersemangat membuat batasan pemahaman yang aku ingini dengan sedikit meminimalisasi keberatan orang lain. Semirip menyudahi pembicaraan agar tak terlalu lama, dan semua orang tak merasa dikecewakan. Itu diplomasi penting bernama moderasi konflik.

Beberapa waktu lalu, seorang kawan beropini menyeberang saat aku ungkapkan semua keberatan perempuan-perempuan yang pernah dan akan aku ingini. Telah bisa diprediksi bahwa seisi forum di tempat itu sedianya akan mendukung semua kekhawatiranku. Lazim adanya bila aku lebih suka mengumbar ketidakpercayaandiriku ketimbang cara ofensif menaklukkan hati perempuan. Bila aku telah over estimation atas semua kekuranganku, banyak kawan yang kemudian mendukungku karena tak tega menyakitiku.

Kawanku yang ini ngotot angkat bicara, “Apa pun, kalau ada cewe yang nekat bilang, cinta itu ada setelah menikah, menurutku, ia cewe yang bisa dipercaya,” begitu simpulan bernasnya.

Aku menatapnya dengan tersenyum. Ia adalah Bimbim. Nama aslinya, Arif Setyo Budi. Ia memang mirip Bimbim Slank. Orang baru dalam bangunan struktur pikirku setelah Fathul Alam sang peletak dasar caraku berpikir, Mulyanto sang sharing partner-ku, Budi Gunawan Sutomo sang sparring partner-ku, dan Apri Sulistyo yang berhasil mensistematisasi pikiran-pikiranku. Bimbim berhasil menderivasikan buah pikirku hingga ke tataran praksis, menyentuh bumi. Fathul adalah guruku. Anto adalah teman ideologisku yang santun. Budi adalah lawan formulasi pikirku yang intens. Apri adalah penyusun epistemologi pikirku. Sementara Bim-Bim berhasil mewujudkannya dalam bentuk aksi nyata. Aku tak bisa bayangkan bila semua orang itu berkumpul dalam satu wadah perjuangan. Mungkin, benturan peradabannya Huntington hanyalah isapan jempol.

Bimbim menjelaskan, pilihan untuk mencintai setelah menikah sering terjadi di komunitas Islam formal, semisal PKS. Kalangan ini beranggapan, pacaran adalah tradisi tak islami yang hanya mengumbar kebohongan. Kalau kemudian ada seorang cewe yang sama sekali tak tampak sebagai pengusung Islam formal, tapi memiliki sikap itu, ia cewe yang sangat teguh pendirian. Sepintas, ia tampak seperti sosok yang tak terlalu serius memikirkan hubungan laki-laki dan perempuan tapi bila telah memutuskan untuk bersama, komitmennya sangatlah tinggi.

Bimbim sampai pada pilihan untuk mendukung, persis seperti yang aku kira. Bila Fathul mengenalkan filosofi mengapa hidup harus berpasangan, Anto memberikan kriteria pasangan yang tepat untukku, Budi menyederhanakan persoalan dengan tak terlalu memikirkannya, Apri menyesuaikan ketertarikanku itu dengan cara pikirku, maka Bimbim membuatku yakin pada pilihanku. Mirip pilihan berganda di buku PSPB semasa aku SD. Kalau tak benar ya salah.

Aku berusaha keras mengulang runutan pikirku atas pilihan dengan menggabungkan semua pendapat orang-orang itu sekaligus. Aku mulai curiga, Bimbim hanya ingin mencairkan suasana. Karena aku tak bersemangat, ia memberiku antitesis menarik, agar setidaknya, aku tak berkeinginan surut dedikasi. Tapi melihat kesungguhannya meyakinkanku, aku kembali mengetatkan nyali. Bisa jadi, Bimbim benar.

Boleh dibilang, dari dulu pendapatku tentang ini sering berubah-ubah. Dulu, aku selalu beranggapan bahwa mencium kening itu tanda sayang. Aku bahkan kesengsem dengan lirik Aerosmith dalam I don’t Want to Miss a ThingThen I kiss your eyes and thank God we’re together. Ketika itu, aku tafsirkan cium pipi bertaraf kerabat, dan cium bibir terlalu permisif.

Aku kemudian berpendapat bahwa menikah hanya kulminasi dari persatuan gagasan dua insan yang menyetujui satu kata sakti, cinta. Konsensus dibangun untuk meyakinkan keduanya, hingga berakhir di pelaminan. Maksudnya, sebelum menikah telah banyak ditempuh proses layaknya menjalani hidup berumah tangga. Seorang kawan menertawakannya dengan istilah, kawin-kawinan.

Setelahnya, menurutku cinta adalah chemistry. Bila dulu aku tak pernah percaya cinta pada pandangan pertama, aku mulai belajar mengenali pola ini. Tapi aku sering merasa bahwa cinta jenis ini bertepuk sebelah tangan dan hanya ada di film-film. Aku pun memutuskan kembali ke cara pandang lama tentang cinta yang harus disepakati. Ya, cinta itu konsensus persepsi tenta rasa, peduli, kebersamaan, dan mengarungi hidup.

Aku juga pernah memaklumi, tesis bahwa cinta bisa dipelajari kemudian. Walau tak saling kenal, dua orang bisa saling mencintai atas dasar syariat. Dengan tekad kuat menuju ridha Ilahi, cinta model ini diyakini mencapai sakinah, mawadah, dan rahmah. Tapi, aku tetap tak bisa memiliki orang yang sama sekali belum aku kenal.

***

“Atau sebenarnya, kamu ngga bisa nerima aku sebagai cowo yang bisa dicintai?” segumpal pertanyaan miris dan mendebarkan pernah aku lontarkan.

“Buatku, cinta itu ya setelah menikah,” jawaban itu berdesing menembus kebebalanku menafsirkan agama terlalu liberal.

Kalimat itu berlanjut, “Kalau aku telah merasa nyaman bersama orang, berarti memang ada unsur cintanya. Aku juga malas bersama orang lain, bila aku telah nyaman bersama seseorang.”

Tak ada kalimat yang absurd dan bersayap memang. Semua gamblang di kepala dan benakku. Aku mengerti semua kata itu pada kadar rasionalitasku sebagai malaikat juga setan. Bisa jadi, ini biasa disebut sebagai kemengertian instan. Ya, aku bertendensi kuat memburu restu dengan logika rakusku.

“Menurutku, cewe tipe ini berubah-ubah. Sekali waktu ia yakin, tapi pada waktu yang lain ia ragu. Nah, saranku, tegaskan sikap saat dia yakin. Itu akan sangat membantu. Syukur-syukur bisa terwujud agendanya. Kalau pun penegasan sikap itu masuk saat ia sedang ragu, ini akan memperkuatnya kembali menjadi yakin,” Bim-Bim mulai determinan.

“Lho?! Bukannya cewe teguh itu biasanya hanya bilang ya kalau ya dan bilang ngga kalau ngga. Ia tak bisa diberi pilihan,” elakku agak realistis.

“Seperti kata Apri, ia hanya ingin ditaklukkan,” Bimbim meyakinkanku untuk ke sekian kalinya.

“Begini saja. Aku menyamakan ridha cewe dengan hidayah Tuhan. Bila hidayah itu tidak berfungsi, aku tak akan bisa melawan sunatullah. Itu hak paling asasi. Keputusan atas hak yang diberikan Tuhan pada hamba-Nya. Manusia tak akan bisa menembusnya,” simpulku sekenanya. Hingga akhir, aku tetap saja tak bisa setaktis Bimbim.

Aku bisa jadi menyetujui semua persepsi tentang cinta, tapi kepercayaan membangun persepsi cinta itu tentu jauh lebih penting.