Search and Hit Enter

Komisariat Salman Al-Farisi In Memoriam

HMI Komisariat Salman Al-Farisi UMS tahun 2000
HMI Komisariat Salman Al-Farisi UMS tahun 2000. (Foto: HMI Sukoharjo)

Back drop Milad HMI ke-54 tertanggal 5 Februari 2001 oleh HMI Sukoharjo terbentang gagah di atas panggung kecil sulapan yang lebih mirip pentas 17-an. Kali ini akan digelar inagurasi untuk menutup rangkaian agenda ultah seperti pengobatan gratis, lomba penulisan anak-anak SMA, dan seabrek program sosial. Aku boleh tersenyum nyalang. Pasalnya, aku didaulat sebagai sekretaris panitia bersama Muhammad Anwar, sang ketua panitia. Tokoh ini teman bicaraku seputar filsafat di masa awal masuk HMI. Aku dan dia hidup seatap di sekretariat komisariatku.

Masing-masing institusi di kawasan UMS dan STAIN (kini IAIN) diharapkan akan tampil total dengan kreativitas masing-masing. Rencananya, akan ada yang berteater, ada yang menyanyikan Hymne HMI dengan sound rock, dan ada pula yang hanya bernyanyi lagu-lagu populer. Miris juga kalau selama ini, HMI sering dianggap komunitas yang hanya doyan berdebat dan tak tahu cara menikmati hidup.

Alkisah, komisariat tempat aku lahir tak punya superstar satu pun. Kabarnya, ketua umumku dulu pengagum Nuno Bettencourt, gitaris Extreme. Setiap kali bercerita tentang band rock idealis itu, ia bisa berbusa-busa. Namun, itu dulu. Gitar akustik dengan fret dilebihkan mirip gitarnya Nuno jarang tersentuh, hanya karena meja baca tiba-tiba tampak lebih menarik.

Sekumku lebih parah. Ia orang desa yang tak tahu-menahu gaya hidup perkotaan. Ia hanya tahu rembuk desa soal keamanan dan kebersihan lingkungan. Bendahara Umumku seorang akuntan dan wirausaha. Tiap hari yang ia tahu hanya menambah kas komisariat. Katanya, kabid perkaderanku pernah masuk organisasi mahasiswa teater. Tapi, sudah lama ia tak berminat lagi. Kabid kemahasiswaanku sering genjrang-genjreng rame. Tapi, ia orang Medan yang tak suka cengkok. Sementara, kabid komunikasi umatku atlet karate. Rambutnya jabrik tapi tak tahu banyak soal musik. Dan sisanya, hanya serombongan kader baru yang tengah kesengsem-kesengsemnya pada filsafat, untuk menutupi ketidakgaulan mereka.

Setelah agak lama berkomat-kamit, rapat dadakan pun menunjuk gagasan binal, acoustic performance. Meski terbilang nekat, uji sahihnya tak terbantahkan. Selanjutnya, konsep panggung dibuat sangat sederhana. Satu orang akan bertindak sebagai penyanyi dan satu orang lagi mengiringinya dengan gitar. Aku pun mulai membayangkan konser-konsernya Ebiet G. Ade yang disuka ibuku.

Yang fantastis, lagu terpilih adalah More Than Words-nya Extreme. Lagu ini sempat naik darah lagi sewaktu di release ulang West Life, boy band Irlandia yang kisahnya tak banyak aku ketahui. Yang aku paham, cewe-cewe teman kuliahku sering melongo salto saat cowo-cowo metroseksual itu tampil di TV menyanyikan More Than Words. Mereka hafal di luar kepala. Aku yakin, tak banyak yang tahu kalau lagu itu hanya recycle—istilah Dhani Ahmad yang artis, bukan yang musisi.

Posisi vokal jatuh ke tangan staf bidang perkaderan. Ia sebidang denganku. Namanya Lis. Ia mahasiswi Geografi, mahasiswa teladan, Ketua II Racana, dan berparas manis. Aku baru tahu kalau ternyata ia seorang DJ, penyiar sebuah radio swasta di kota tempat aku kuliah. Tahu sendiri, kan? Mana ada DJ yang tak mengerti musik? Itu bagian dari pekerjaannya. Maka pantas bila komisariatku agak berbangga dengan komposisi ini.

Kali itu Lis tampil feminin. Jilbab besar menutup semua badannya dengan rok panjang yang agak ketat berwarna cerah. Sandal plus kaos kaki mengesankan dirinya yang tak ingin disentuh oleh lawan jenis. Ditambah kaca mata minus tak terlalu tebal semakin membuat audiens terpikat. Smart!!

Fathul Alam dibaiat menjadi gitaris pendamping Lis. Ia ketua umumku. Dengan senyum katrol agar Lis tak hilang kepercayaan diri, ia menyandang gitar akustik yang disediakan panitia. Aku tahu mengapa ia memilih More Than Words. Soalnya, kalau harus membekap penonton dengan Get The Funk Out atau Hip Today ia tak akan sanggup. Terlalu sulit. Kalau pun ia sedikit melirik Midnight Express, solo guitar performance yang membuat Nuno tampak dominan di Extreme, bagaimana nasib Lis nanti? Namanya juga solo performance. Dan Fathul pun pasti tak mampu. Ia akan berdalih, “Jarang latihan!!”

Assalamu ‘alaikum. Kami dari Komisariat Salman Al-Farisi akan membawakan lagu lama dari Extreme,” ujar Fathul membuka show. Komisariatku mendapatkan kesempatan pertama. Agak menepuk dada, kata Goebbels, tangan kanan Hitler, “Siapa yang berani bicara pertama, ia akan menguasai dunia.”

Audiens bertepuk tangan semangat. Posisi duduk Fathul dan Lis persis di depan fokus penonton, dan didesain lesehan tak seperti di TV-TV yang biasanya berkursi tinggi. Fathul kelihatan kikuk. Bukan karena penonton, tapi karena Lis yang berharap sukses show tanpa kesalahan darinya. Kalimat itu terbaca dari mata dan senyum setengah PD, dipaksakan, dan sentuhan fatwa sakti, “Kalo ngga gue siapa lagi?”

Aneh. Mengapa Fathul tak menjelaskan siapa Extreme? Soalnya, rata-rata pencinta musik tanah air generasi reformasi hanya familier dengan Bon Jovi dan Guns and Roses. Aku curiga, jangan-jangan Fathul juga tak tahu menahu tentang lagu itu yang kembali berjaya di tangan West Life. Ah, benar-benar tak gaul.

Tepuk tangan mereda. Tak ada yang bicara, bahkan berbisik. Hening!! Semua mata tertuju ke panggung tempat dua makhluk indah itu bersanding saling senyum. Benar, Fathul Alam adalah Platoku. Ia membangun desain pandangku atas dunia dengan kekuatan teorisasi brilian. Dulu, ia tak ubahnya seperti guru les yang tak bosan mencekokiku struktur pikir ketat tentang apa pun. Hingga kemudian aku sangat bangga saat menulis moto hidup di curriculum vitae, Logis dan Dinamis.

Sementara itu, Lis adalah kawan perempuan pertamaku di belantara gerakan mahasiswa. Ia satu bidang garap denganku di kepengurusan komisariat. Sebenarnya bidangku diketuai seorang perempuan. Tapi karena alasan struktur, aku lebih sering bicara dengan Lis ketimbang ketua bidangku. Dan aku tak pernah benar-benar tahu mengapa Lis tertarik pada organisasi aneh ini. Sedikit kabar memenuhi telingaku, “Anak kecil pengen tau aja.”

Saying I love you

Is not the words I want to hear from you

It’s not that I want you

Not to say, but if you only knew

How easy it would be to show me how you feel

More than words is all you have to do to make it real

Then you wouldn’t have to say that you love me

Cos I’d already know

Mata Fathul dan Lis beradu. Bukan apa-apa. Mereka hanya butuh kompak. Agar penampilan tak kocar-kacir. Lain halnya dengan audiens, terutama kaum Adam. Mereka mulai mereka-reka, ada apa di balik semua ini. Apalagi, belakangan kudengar banyak senior yang merayu darah untuk menaklukkan hati Lis. Fathul yang gila buku tentu sulit menengarainya, lantaran ia hanya ingin berlaku total sok-Nuno.

What would you do if my heart was torn in two

More than words to show you feel

That your love for me is real

What would you say if I took those words away

Then you couldn’t make things new

Just by saying I love you…

More than words

Untung saja tak ada kerusakan temporer seperti mic yang ngadat, speaker yang kurang treble, atau lemparan kacang dari penonton. Semua berjalan sesuai rencana. Penampilan tak gemerlap itu beriring decak kesengsem audiens. Sajian sederhana yang hanya disiapkan dalam beberapa menit itu berbuah manis di pelupuk mata khalayak pencita insan kamil.

Aku tahu. Semua tentang saling percaya. Komisariatku percaya bahwa Fathul dan Lis tak akan mengundang cibiran. Fathul percaya pada Lis karena hanya dia yang punya kualifikasi. Lis percaya Fathul karena jelas, ia ketua umum. Feodal gitu loh!!

Now I’ve tried to talk to you and make you understand

All you have to do is close your eyes

And just reach out your hands and touch me

Hold me close don’t ever let me go

More than words is all I ever needed you to show

Then you wouldn’t have to say that you love me

Cos I’d already know