Search and Hit Enter

Kemengertian Ningrat

Air -Song For You Sejak Milad HMI yang menampilkan Fathul dan Lis, aku mulai berangan pinang. Apa susahnya membuat performa tandingan? Semua kan bisa dipelajari. Begitu pikirku. Aku mendadak durhaka pada jariku yang tak secepat Fathul. Bahkan aku mengenal Extreme baru saja, semenjak kuliah.

Tanpa sadar, ternyata aku menyimpan guntingan gambar Nuno Bettencourt di kotak pandoraku. Sejak SD, bapak memang rajin menyuapiku dengan majalah-majalah ibu kota, yang jelas tak beredar di daerah tempat tinggalku. Sewaktu Fathul melihatnya, aku pun ikhlas menghadiahkan gambar sosok yang sangat dikaguminya itu. Kabar baiknya, aku tetap merasa punya jodoh dengan Extreme. Sekuat kantong, aku pun mengunyah distorsi dan speed gitar Nuno yang menggelegak tak tentu arah. Terkadang enak untuk dance, ada kalanya ngebeat, dan lebih sering kompleks.

Setelah berkeliaran insting dan ngotot, aku menyerah pasrah. Ternyata sulit. Pantas saja ada yang bilang, perlu 8 jam sehari untuk merapikan harmoni gitar.

Beruntung, Beng-Beng, gitaris PAS, mengeluarkan album baru bersama adik cewenya di bawah bendera Air Band. Buatku, PAS lebih bisa dimengerti. Selain liriknya yang radikal, musiknya ingar-bingar dan membuatku bersemangat. Kalau pun Beng-Beng harus berkolaborasi dengan adiknya yang mellow, tentu tak terlalu membuatnya banyak berubah.

Album itu dinamai Air, sesuai nama band pengusungnya. Mereka punya single andalan, Bintang dan Song for You. Lagu pertama mirip lagu anak-anak karena rancak dan gampang dimengerti. Yang penting, ada video klipnya. Sementara lagu kedua hanya beredar di kuping-kuping para pencinta radio di jagad Indonesia, tanpa video klip.

Don’t cry, just sweap your pain from your eyes

Let’s make me fall to your heart

Sorry, it’s all I can say to your heart

You’re always with me

Aku mulai tertarik. Sepertinya, tak sesulit More Than Words. Benar, dengan sedikit usaha contek-mencontek, aku pun bisa menyanyikannya dengan skill gitar yang tak terlalu ribet. Meski jelas, tak sesempurna aslinya. Apalagi melodinya. Ampun…. Tapi setidaknya, aku tak semerinding tapping-nya Nuno.

Aku ingat, dulu semasa SMA aku pernah menjual diriku dengan mendirikan sebuah band. Rencananya, untuk pentas akhir kelulusan. Bagaimana tidak menjual diri? Semua personel hanya berkemampuan pas-pasan. Drummer pertamaku bahkan tak hafal ketukan dan irama. Hancur!! Aku pun hanya bernyali untuk posisi rhytm guitar, bukan lead guitar. Artinya, aku hanya bertanggung jawab pada harmonisasi, pengiring, dan memenuhi ruang-ruang yang tak dimasuki lead guitar. Itu berarti, aku tak boleh merusak melodi.

Sebelum kuliah, sepupu jauhku bertekad membentuk band dangdut. Awalnya, aku dan dia hanya berlatih berdua dengan gitar akustik sederhana. Seiring kemampuan sepupuku yang semakin prima dengan rujukan lagu yang mulai sulit seperti Rhoma Irama dan Evie Tamala, sound effect dan gitar elektrik pun dibeli. Dan sekali lagi, aku hanya kebagian rhytm. Aku mengiringinya tanpa begitu tahu lagu apa yang tengah dinyanyikan. Menjelang aku kuliah, band itu semakin lengkap dengan pemain bas, gendang, suling, dan tentu, penyanyi perempuan. Sayang, aku tak tahu lagi kelanjutan karier mereka.

Aku pernah mengidolakan Jason Newsted, eks basis Metallica, yang tak banyak gaya tapi membuat sound metal band cadas itu penuh. Untuk ukuran Padi, Indra lebih menarik ketimbang Piyu. Aku juga memilih Izzy Stradlin daripada Slash di Guns and Roses. Sepertinya, mentalku di musik hanya sebatas pendamping. Agak mirip posisi stopper-ku di sepakbola yang hanya bisa… bertahan.

You’re my dreams… my sweetest dreams

Please babe, don’t live me alone

Hold me tight, closing my arms

I with you wherever you are

You’re always be my happy life

This love will last forever

Sederhana tapi mengoyak kelelakianku. Aku bisa berlagak seperti Fathul meski aku bingung, siapa yang akan menggantikan posisi Lis. Yang paling penting, Song for You membuat aku merasakan kejujuran yang sangat atas fungsi kecewean yang dianugerahkan pada makhluk feminin bernama perempuan. Umumnya, perempuan selalu ingin didampingi… ke mana pun.

Trust me, I know what you have been through

Believe me, I’m here for you

Feel me, I always be around you

Wherever I go

Ada yang lebih dahsyat. Aku suka percaya itu. Sebab, kebersamaan tak selalu dimaknai fisik. Keberduaan tak selalu diingini saling tatap. Ada yang lebih dalam dari itu. Soal saling percaya.

Dan ternyata, More Than Words pun harus luluh keperkasaannya di depanku. Ya, ada yang jauh lebih sulit. Aku menyebutnya, kemengertian ningrat.