Search and Hit Enter

Will Smith

Will Smith hadir berbeda di The Pursuit of Happyness (bukan happiness). Ia berperan sebagai Chris Gardner, mantan US Navy lulusan SMA yang kesulitan mempertahankan rumah tangganya lantaran tak bisa menghidupi anak istrinya. Film yang diproduksi tahun 2006 kemarin ini ber-setting 80-an dan diinspirasi kisah nyata.

Cerita berawal dengan ketidakharmonisan pasangan suami istri di pagi hari. Penyebabnya, mereka tak cukup uang. Setiap kali pencarian solusi dibicarakan, mereka kemudian perang mulut. Gardner, si suami, merasa telah maksimal berusaha. Sementara, Linda, sang istri, juga merasa bekerja di atas rata-rata seorang perempuan seharusnya bekerja.

Dulu, menjelang pernikahannya dengan Linda, Gardner memang membelanjakan semua uang tabungannya untuk ratusan alat scanner tulang. Dari sanalah ia berharap bisa membangun keluarga mudanya yang harmonis. Tapi keadaan kemudian berubah. Belum lagi setengahnya terjual, alat scanner tulang itu mulai jarang diminati pihak medis. Tak jelas alasannya. Gardner pun mulai berhadapan dengan deretan persoalan rumah tangga seperti menjual mobil untuk memenuhi kebutuhan, telat bayar sewa apartemen, menyekolahkan anaknya di Pecinan dengan pembayaran yang telat pula, dan perusahaan-perusahaan yang tak mau menerima lamarannya.

Puncaknya, Linda memutuskan pergi, karena tak kuat lagi. Christopher, anak semata wayang mereka, turut bersama Gardner, atas persetujuan Linda. “Aku tahu kau akan menjaganya selalu,” ucap Linda di saat-saat perpisahan mereka.

Setelah berjuang mati-matian, usaha Gardner dan Christopher menuai hasil. Gardner akhirnya bekerja di sebuah perusahaan saham besar dengan prestasi yang membanggakan.

Dalam dunia nyata, pemeran Christopher, anak Gardner, adalah anak kandung Will Smith, yang juga bernama Christopher. Usianya belum genap 5 tahunan tapi sangat berhasil membangun kesan kuat tentang duet mereka yang mengagumkan. Film ini terasa sangat minimal kekliseannya. Christopher diajari cara bertahan hidup dengan tetap terhormat, tak cengeng, dan selalu semangat.

Bukan main detailnya penggarapan film yang bisa menghadirkan keluarga seorang pria berdasi yang diusir pemilik apartemen lantaran tak kuat bayar sewa; seorang pebisnis yang turut dalam antrian panjang gelandangan untuk mendapatkan kamar semalam; seorang broker saham yang bahkan tak punya uang buat bayar taksi; seorang ayah pencinta basket yang hanya membolehkan anaknya membawa bola basket ke mana pun dia pergi, bukan memainkannya; seorang ayah yang berpura-pura pada anaknya bahwa scanner tulang yang ia bawa adalah mesin waktu.

Aku menjadi ingat Badut-Badut Kota, film lokal tahun 90-an yang diperanutamai Dede Yusuf dan Ayu Azhari. Si ayah berprofesi sebagai badut dan lebih suka dipanggil ‘Papi’ oleh anak laki-laki satu-satunya. Berbeda dengan Gardner yang akhirnya single parent, Badut-Badut Kota justru menghadirkan sebuah keluarga yang kompak menghadapi kemiskinan. Lebih klise tapi lumayan berbobot. Setidaknya, untuk tidak cengeng di depan kenyataan.

Aku jelas kesengsem pada keteguhan Gardner untuk tidak menyerah di depan masalah, meski mungkin, banyak yang harus dipertaruhkan. Apalagi, semua menyangkut masa depan anaknya. Yang keren, ia justru berusaha menanamkan nilai-nilai mulia pada anaknya dalam situasi sulit itu. Berbanding lurus. Dalam satu waktu, Garder bisa bekerja keras keluar dari masalah, demi sang anak, dan mengajari anaknya langsung tentang cara bertahan hidup yang tetap bermartabat.

Pada film ini, tak ada senyum di bibir Will Smith; aktor yang bahkan telah sangat dikenal sebagai komedian selevel Jim Carrey. Kesungguhan yang bukan hanya untuk industri film semegah Hollywood, tapi juga eksistensi diri di depan kemanusiaan. Bahwa sebenarnya, semua itu terjadi di Amerika. Amerika yang punya Superman dan seabrek superhero. Amerika yang punya kapal induk dengan ratusan pesawat tempur. Amrik yang sangat bangga dengan kebebasan dan penghidupan layak warganya. Ya, antitesis samar tentang kerapuhan Amerika bila hanya narsis, dan tak peduli pada kondisi warga negaranya.

Gardner dan Christopher juga sering mempersoalkan huruf I dan Y. Sebuah ejaan yang gampang diucapkan, tapi sering salah dituliskan. Ia bahkan nekat menjuduli filmnya dengan The Pursuit of Happyness, bukan The Pursuit of Happiness. Ya, Kebahagiaan memang sulit dieja, bahkan bila pun dengan menuliskannya saja. Tapi, semua itu wajar di mata Smith. Wajar dengan hanya perlu mendebat huruf I atau Y untuk menyusun kata yang tepat.

“Seorang pria akan tenggelam. Kemudian muncul sebuah kapal yang akan menolongnya. Pria itu tak mau ditolong dan berkata, ‘Tuhan akan menolongku.’ Kapal kedua datang dan akan menolongnya. Pria itu tetap tak mau dan berkata, ‘Tuhan akan menolongku.’ Akhirnya pria itu tenggelam dan masuk surga. Ia kemudian bertanya pada Tuhan, ‘Tuhan, mengapa engkau menyelamatkanku ke surga?’ Tuhan berkata, ‘Aku telah kirimkan dua kapal padamu,’” tutur Christopher.