Search and Hit Enter

Waktu, Eksistensi, dan Dialektika

Dialektika. (Foto: ilady.info)
Dialektika. (Foto: ilady.info)

So little time… so much to do. I’d like to spend one day with you…

And if that day is not enough, may be we can stay in touch.

But I’m not making plan for tomorrow.

Lirik sebuah lagu di era Smashing Pumpkins masih berotot—sebelum Linkin Park membuatnya dilupakan—ini dilantunkan Arkarna, berjudul So Little Time. Entah ke mana band itu sekarang. Maklumlah, selera publik terlalu cepat berganti. Genre rock alternatif yang aku suka keapaadaannya itu tetap saja harus menyingkir dari pasar, lantaran bisa jadi kurang atraktif, juga jauh dari modis.

Aku tertarik dengan besutan falsafati sederhana yang memuliakan waktu dengan persembahan dan kebersamaan. Ya, ada yang yakin bahwa sedikit waktu untuk bersama bukan berarti tak indah. Ada yang masih bisa memaklumi persembahan tanpa banyak syarat. Ada yang masih bisa mendaku kebahagiaan tanpa ungkapan sentimentil yang melangit. Pada akhirnya, aku sedikit berani melestarikan simpulan tentang berian yang terbaik meski sedikit dan kadang, tak lagi ada artinya. Sebutlah itu, senyum. Anggaplah itu memberi tempat duduk pada perempuan di bus. Katakanlah itu membukakan pintu bagi semua orang. Atau yakinlah, bisa jadi itu seribu rupiah yang sangat berarti bagi orang yang membutuhkan. Semacam kelangsingan peran untuk kelangsungan perikeadaban yang jauh lebih mulia dari pengorbanan bernama ‘kepedulian yang wajar’.

Andrea Hirata membuatku terperangah atas kepeduliannya pada kekuatan masa depan. Ia bercerita masa lalunya untuk meyakinkan semua kalangan tentang hidup yang tak selalu linier. Latar belakang seseorang tak selalu berakhir seperti yang dikira banyak orang. Meski kemudian ia bercerita untuk harapan yang lebih baik. Dari masa lalunya itu, ia berharap masa depan Indonesia akan jauh berkualitas dengan pendidikan yang minimal, bisa membangkitkan kesadaran untuk gigih. Kalau pendidikan baik, tentu masyarakat akan semakin berkualitas. Ehm… itu juga cara berpikir linier. Sebab, banyak pula hadir di sekitaran kita orang-orang yang berkecukupan pendidikan, tapi justru tak berguna.

Onno W. Purbo menggiring keculasanku pada terminal obsesi yang lebih terukur. Ia peduli pada akses teknologi bagi kaum miskin yang sepertinya tidak mungkin bagi kalangan maju sekalipun. Ya. Bagaimana mungkin orang miskin bisa ‘berpesta’ teknologi, sementara untuk memilikinya saja, itu susah untuk diharap. Onno melewatinya. Ia bisa mendesain cara strategis itu dengan tetap meng-elite-kan teknologi, dengan sedikit orang yang paham fungsi maksimalnya, tapi bernafsu memahamkan ke kalangan miskin untuk tak canggung. Ia berharap pada mentalitas yang lebih berani… untuk kemudian, peduli.

Sayangnya, aku tak sepintar keduanya. Aku berbaiat pada mereka atas semua karya-karya konsisten itu—yang sekali lagi, pintar—dan meyakinkanku pada sangat berartinya niatan untuk setidaknya, iri pada orang pintar. Ya, ada yang bilang, aku terlalu generalis. Ada yang pernah meledek, “Untuk urusan narasi, kamu memang jagonya.”

Aku sedih. Betapa pun segeneralisnya aku, kans untuk menghindar dari kesan bebal pun juga sulit. Ada yang ketus dan menyelaku, “Semoga kamu tetap begini sampai kelak.” Yang lain meliukkan kalimatnya, “Apa pun, aku tetap dukung kamu. Meski aku tak pernah benar-benar paham apa maksud kamu.”

Terkadang, aku lebih dari mengaku bahwa selidikku tak seketat nyaliku. Pada beberapanya aku malah merasakan kepalaku lebih berat dari tangan dan kakiku. Itu mungkin sebab paling rasional yang tak disukai ibuku untuk perilakuku yang seringnya, terlalu bersemangat. Beliau pernah bilang, “Makanya hati-hati kalau ngomong.”

Terkadang, aku lebih dari mengelak kalau aku tak sebaik yang diharap orang lain. Pada kali seketika yang melulu memprihatinkan, aku sering berdalih, “Begitulah, kadang aku memang tak berguna.” Semakin ditekan dan dipersoalkan, aku pun memilih untuk terus sembunyi pada kengerian ketidakmampuanku. Parahnya, dengan kalimat yang itu-itu saja. Tak terasa, aku membentuk pola keterlibatan nafsu binalku pada justifikasi ketidakjujuranku tentang aku yang tak mampu, juga aku yang tak jujur.

Atau sebenarnya, aku sedikit bernegoisasi tentang caraku yang selalu ingin dimengerti. Cara yang berkonsekuensi ingin mendapatkan yang besar dengan sedikit manipulasi. Semacam bangunan kekhawatiran yang menaikkan reputasi, tampaknya. Kerling kesungguhan yang setengahnya jelas cenderung menggiringku pada kepecundangan obsesif. Keterikatan unik yang mengategorikanku pada sedikit keluhan beruntun, “Membosankan!!”

Gerilia ini menyesakkan. Makanya aku tak tertarik untuk terus memeliharanya. Apalagi menguntit kesan tentang sesuatu yang tampak lebih beradab. Agak diplomatis, menurut Tan Malaka—yang ia tegaskan dalam Madilog—bahwa realitaslah yang menentukan ide, bukan sebaliknya. Artinya, perubahan bukan lahir dari satu-dua orang besar atau satu-dua gagasan. Bukan pada tempatnya bila aku jumawa pada tindak-tandukku. Bila pun semua tak seperti yang aku kira, berarti jelas realitas tak bisa aku terjemahkan dalam gagasan yang semestinya. Ya, realitas tak terlalu menginginkan aku.

Pun dengan keinginanku untuk mengasihi. Keinginan yang kemudian akan menggulir pada pilihan-pilihan nyaman yang sulit ditengarai pada bingkai kewajaran, lantaran lebih mirip aksioma, ketimbang dalil estetika seputar kepedulian yang indah. Semisal mampu memiliki semua kekuranganku itu pada ranah yang lebih manusiawi. Selayak generalitasku yang tak secerdas Hirata dan Onno. Semesti inginku yang lebih ingin dikasihi daripada mengasihi. Hingga saat semua telah tertata… kasih itu tentu akan juga terasa penting bagi orang lain.

Dan aku hanya bisa mengamini pilihan pikir Tan Malaka tentang revolusi yang terjadi karena banyak hal. Jadi kalau aku masih saja merasa paling benar atau memaksakan inginku, berarti aku tak mengerti dialektika realitas.