Search and Hit Enter

Together Forever

Foto: Chefthecity Blogspot
Foto: Chefthecity Blogspot

Hayo, Genduk. Cah Ayu. Mumpung Kangmase durung dadi Walikota, lho. Tak rewangi adol-adol sawah ki mung yo kanggo awakmu.”

Seorang kawan berburu simpati mengerikan dari seorang cewe yang layak goda. Romantisme klise ini didesain grass-root dan jelas sangat bercanda. Aku tahu bahwa sebenarnya kawanku hanya berkehendak untuk mendeterminasi pilihan si cewe yang mungkin, terlalu strukturalis (Walikota) dan sangat diburu banyak orang (adol sawah). Kritik sederhana tapi genap ironinya.

Selanjutnya, tak penting membahas apakah si cewe dapat menangkap semua pesan di balik semua itu. Sebab, si cewe tentu tidak berkepentingan pada manuver kawanku yang dari awal telah ia nilai sebagai mengada-ada. Yang lebih menarik, kawanku punya cara sendiri untuk mengkreasi kebinaran perempuan tentang indahnya ‘dipuji’, ‘diharapkan’, dan ‘dikejar’ tapi sebenarnya semua hanyalah taktis kawanku untuk ‘memenuhi’ lantaran ia menganggap, perempuan memang harus selalu ‘dipenuhi’.

Menjarah persepsi publik, aku sering berpikir mengapa perlu ekspresi ekstra besar untuk menerjemahkan kelebihsukaan. Bahkan ada yang rela mendayu-dayu, vulgar. Bahwa aku pun begitu, meski dengan cara berbeda, adalah benar. Tapi aku masih merinding kalau mendengar, membaca, atau melihat gelagat pen-supremasian posisi perempuan itu. Coba lihat, lagu, novel, film sontak kehilangan gigi kalau harus jujur tanpa klise. Bahkan Denias sekalipun. John de Rantau, sang sutradara, mengungkapkannya padaku; semua memang klise.

Itu keinginan publik, benar. Tapi, kalau PAS band masih galak tanpa satu kata melankolis pun, apakah AADC lantas surut dan menghilangkan lagu Kesepian Kita sebagai OST-nya? Tapi, kalau Metallica masih eksis dengan seabrek teriakan miring atas realitas kompleks duniawi, apa lantas MI-2 garapan Tom Cruise akan men-delete lagu I Disappear? Maksudku, tentu tak sesederhana takluk di depan publik, problemnya. Sebab, belum tentu semua hal yang diminati umumnya khalayak adalah kebenaran. Perlu keberanian antitesis yang tentu membutuhkan karakter khusus. Kalau aku tak suka Dhani Ahmad sekalipun, toh ternyata tetap banyak yang suka. Kecenderungan memang soal berapa banyak yang mendukung.

Tapi okelah, pembicaraan tentang ini tentu menjadi riskan kalau kemudian muncul kesan ketidakhabisan pikir di pihak laki-laki atau perempuan. Sebab, pendikotomian jelas bukan pilihan bijak. Itu persoalan lama. Salah-salah hubungan ini semakin bermasalah dengan anggapan, perempuan lebih butuh atau sebaliknya. Sangat kontraproduktif di depan kemanusiaan. Juga mengingkari libido.

Ketertautan mungkin lebih adil. Makanya dulu waktu masih duduk di bangku SMP, aku pernah mengira-ngira, mengapa kata together sering bersanding dengan forever. Apakah ada kebersamaan selamanya? Seperti kalimat White Lion, till death do us apart. Apakah mungkin konsistensi berpasangan itu kunci keseimbangan dunia? Bukankah manusia disatukan karena satu pandangan dan kepentingan? Bila semua telah berubah, sangat mungkin semua juga akan berubah.

Atau mungkin tak sejauh itu. Dunia telah seperti ini. Perkaranya, kalau semua kita anggap sebagai bentukan satu atau dua orang, tentu berlebihan. Karena, sangat mungkin, pikiran dan polahku juga sangat mempengarai dunia di mana aku hidup. Bila aku berkeinginan, atau setidaknya menganggap benar, menyelamakan kebersamaan dalam arti khusus, jelas sah-sah saja. Aku bisa melanjutkannya dengan mengampanyekan semua itu ke orang-orang di sekitarku, juga seluruh dunia. Jadi, tak baik merendahkan diri untuk terlalu larut pada kecenderungan, dan merasa bahwa semua itu adalah kehinaan.

Kowe ki ngopo, to?” timpal si cewe.

Lha piye? Jan-jane nggolek sing kepriye, to?” kawanku terus merayah.

Lha kok suwe-suwe kowe ki medeni aku, to?

Tak henti-henti kawanku mengedankan diri. Tak kecut dia melihat alis mata si cewe yang semakin tak beraturan. Bagaimana tak terus bermanuver, meski si cewe kelihatan tak suka, toh ia tetap tak beranjak dari tempatnya.

Aku tersenyum. Sebab, aku masih saja sulit menerjemahkan dua kata: together forever.