Search and Hit Enter

Teman Bicara yang Menyenangkan

Foto: theregister.co.uk
Foto: theregister.co.uk

Kalau aku merasa tahu persis tentang apa yang ada di depanku, semirip banyak hal yang diperuntukkan untuk kebahagiaanku, tapi tak ada penjelas langsung, pasti aku geregetan. Pasti aku suka cara-cara itu. Pasti aku kecanduan. Dan pasti aku merindukannya. Tentu, aku normal. Seorang normal yang kadang, butuh diajak to visiting romance, meski tak verbal.

Suatu ketika, Jane Austen menolak proposal nikah dari Wisley, keponakan Lady Gresham, salah seorang kaya di daerahnya, dan bersepakat dengan Tom Lefroy, kekasihnya, untuk menemui paman Tom di London. Keduanya berharap agar suatu saat, sang paman bisa membantu pernikahan mereka. Sebab, Tom sama sekali tak punya apa-apa dan bergantung sepenuhnya pada sang paman. Bersama saudara laki-laki Jane, Henry, juga sepupunya, Comtesse, Jane sampai di London untuk makan bersama Tom dan pamannya.

Sewaktu ada pembicaraan tentang pasukan Prancis yang telah membunuh suami Comtesse, dan mengambil hartanya, sang paman terkaget-kaget, “Oh, savages. Beasts. Disaster.”

Jane lantas menimpalinya, “Yes, portable property is happiness in a pocket book. (Ya, harta yang mudah dibawa adalah kebahagiaan di dalam dompet)” Semua pun tertawa. Jane tentu ingin mengungkapkan prasangka umum tentang pentingnya uang bagi kebahagiaan seseorang. Sama seperti yang pernah diucapkan ibundanya.

Tapi, sang paman justru merasa aneh. Ia pun bertanya, “Do I detect you in irony? It is my considered opinion that irony is insult with a smiling face. (Apa kamu sedang menyindir? Pendapatku, sindiran itu penghinaan dengan senyuman)”

Jane kebingungan. Baginya, tak ada masalah dengan semua itu. Ia biasa melakukan pembicaraan setipe itu bersama keluarganya. Ia pun menyangkal pernyataan sang paman, yang Jaksa Agung itu, “No. Irony is the bringing together of contradictory truths to make out of contradiction a new truth with a laugh or smile. And I confess that a truth must come with one or the other, or I account it as false and a denial of the very nature of humanity itself. (Bukan. Penyindiran membawa kebenaran yang berlawanan, memenuhi kebenaran baru dengan tawaan atau senyuman. Dan aku akui, kebenaran harus saling mengisi, atau aku anggap itu salah dan penolakan terhadap kemanusiaan itu sendiri)”

Semua terdiam. Tom tersenyum bangga. Ada simpulan mengena tentang kebanggaan yang tak terucapkan bila perempuan seperti Jane akan menghabiskan hari-harinya kelak, sebagai istrinya. Jane pintar, berani, ekspresif, jujur, dan tahu kapan saat yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu yang berlawanan, serta agar lawan bicaranya tak merasa dipermalukan. Ya, ada cara keren untuk bicara.

Ya, mendesain pembicaraan yang tepat tentu akan melibatkan pelipatgandaan kemampuan memprediksi bagaimana reaksi lawan bicara. Kalau seseorang hendak menyampaikan sesuatu dengan cara yang tepat, tentu dia telah sanggup mengira-ngira, apa yang akan dikatakan lawan bicaranya; atau telah siap dengan antisipasi bila memang tak sesuai yang diperkirakan.

Semua itu membutuhkan konsentrasi, imajinasi, improvisasi, kecerdasan, emosi yang stabil, dan yang paling penting… mental. Pola bicara yang hangat tak akan lahir dengan sendirinya. Ia adalah rumusan tak tersadar tentang hari per hari yang biasa. Maksudnya, cara bicara yang tepat ada karena seseorang telah biasa melakukan pembicaraan yang tepat itu dari mental kekaguman pada banyak hal yang hangat. Ada yang bilang, itu butuh energi positif dengan pola pikir positif.

Esoknya, Tom dan Jane berkunjung ke Nyonya Radcliffe, seorang penulis perempuan kenamaan di zaman itu. Jane terkagum-kagum. Semua novel tulisan Nyonya Radcliffe bernuansa romansa, bahaya, dan teror. Tapi hari-harinya ia jalani dalam kehidupan yang tenang. Bahkan ia bisa mendampingi suami; suatu hal yang sangat jarang terjadi ketika itu. Karena, biasanya profesi penulis saat itu sangat sulit berperan ganda menjadi penulis sekaligus ibu rumah tangga yang baik.

Ada dialog menarik antara Jane dengan Nyonya Radcliffe.

“Kau ingin menulis dari apa?” tanya Nyonya Radcliffe.

“Dari hati.”

“Apa kau tahu itu?”

“Tidak semua.”

“Nanti kau juga akan tahu.”

“Bahkan pun jika gagal, itulah gunanya imajinasi.”

Jane mengiyakan kalimat itu dan berkata, “Imajinasi membawa kebebasan.”

Bagiku, saat berbicara, entah itu berdua atau pada khalayak, memang ada ruang imajinasi yang eksotik hanya bagi pemilik imajinasi. Seberapa pentingkah itu? Ia penting untuk mengantarkan hidup semakin berwarna, bahkan akan terasa tidak seperti sesuatu yang pernah ia rasakan sebelumnya. Juga untuk lawan bicaranya.