Search and Hit Enter

Taman Ismail Marzuki, Suatu Ketika

Sepuluh menit sudah aku dan kawanku larut dalam tumpukan buku-buku lama di satu-satunya toko buku di Taman Ismail Marzuki. Beberapa saat mataku terpaku pada beberapa buku loak yang pernah tenar, tapi aku belum pernah menjamahnya.

Ada biografi Monica Lewinsky, perempuan tangguh kedua setelah Hillary di samping Bill Clinton, semasa menjadi Presiden AS. Meski dunia mengutuk semua tingkahnya yang dianggap tidak pantas, ia tetap tegar dengan berujar, “Aku sangat mengagumi dia. Aku tak setuju bila kemudian banyak orang yang menjelek-jelekkan namanya, hanya karena kasus-kasus kecil seperti ini.” Begitu kira-kira, tangkapan hikmahku atas buku itu.

Aku juga tapaki lembar per lembar kumpulan tulisan Ahmad Wahib, salah satu pelopor penting pembaruan Islam, rival kuat Cak Nur. Wahib meninggal tertabrak motor di usianya ke-31. Meski harus hengkang dari PB HMI karena tak setuju dengan kelompok-kelompok tertentu, termasuk Cak NuJr, juga kesulitan mencari makan (ketika itu, ia adalah calon reporter media Tempo), ia tetap konsisten pada pencarian makna hidup dengan aktif di kelompok studi bikinannya; Limited Group.

Banyak warna baru dari pemikirannya, yang bagiku, sangat mengagumkan. Ternyata, Cak Nur bisa besar, justru karena dinamika pikir yang dibangun Wahib, dan Djohan Effendi. Aku sempat terharu, karena saat aku tatapi lembar penting kisah kematian Wahib, dari sentral musik milik toko teralun musik instrumental Heal The World-nya Michael Jackson.

Begitu banyak buku bagus. Tadi, sewaktu hendak berangkat, aku berniat mengumpulkan referensi berbau riset seputar pergolakan politik di Indonesia dan dunia. Tapi, kepalaku terasa penuh sesak, dan aku butuh yang berbeda.

Beruntung, aku bertemu novel lama Jane Austen, Keangkuhan dan Prasangka. Buku ini dicetak PT Pantja Simpati Jakarta tahun 1985. Austen (1775-1817) lahir di Stevenson Parsonage, Hampshire, Inggris. Ketika menulis Pride and Prejudice (Keangkuhan dan Prasangka), sepanjang tahun 1796-1797, si Cantik yang sangat mengerti perasaan dan karakter orang Inggris ini, harus bertarung dengan penyakit paru-parunya yang mengerikan.

Anyway, aku pun lantas teringat, sewaktu di Solo, seorang kawan pernah meminjamiku film Pride and Prejudice, yang diperanutamai Keira Knightely, si Gadis Pirates Carribean-nya Johny Depp. Jelas saja aku terkaget-kaget, kalau ternyata, karya itu adalah buatan Jane Austen.

Semakin kaget, sewaktu aku putar kembali Notting Hill, film tandem Hugh Grant-Julia Roberts favoritku, ternyata William (Hugh Grant) menyebut nama Jane Austen saat membantu Anna (Julia Roberts) menghapal dialog film. Mengapa semua bisa terhubung seperti ini?

“Hei sini! Aku kenalin penyair kondang negeri ini,” teriak kawanku dari seberang tumpukan buku.

Ternyata, lelaki tua nyentrik penjaga dan pemilik toko ini seorang penyair. Ia lantas bercerita tentang kiprah teater, baca puisi, dan bermacam aktivitas seninya di seluruh nusantara, juga luar negeri. Ia bahkan sempat memutarkan video pentas seni spektakulernya di Eropa. Sesekali aku tatapi rambut putihnya yang panjang, dan penampilan anehnya. Ia sangat rendah hati, dan sabar meladeni kalimat-kalimat kawanku yang bisa jadi, sangat akademis.

Ia sering manggut-manggut dan sempat bilang, kalau Solo itu kota aneh. Sebab, di Solo, para seniman bersedia untuk tidak dibayar, termasuk sang penyair. Sayang, aku tak sempat bertanya siapa namanya, lantaran larut pada cerita-cerita menariknya seputar sastra dan pengabdian sastrawan.

Belum lagi semua cair, tiba-tiba ada teriakan seorang laki-laki. “Bang, pernah lihat ini, ngga? Bagus aja. Soalnya, banyak yang based on true story.” Terlihat dua orang laki-laki berbadan besar.

Si penyair lantas menerima buku dari si lelaki. Ia mengernyitkan dahinya sesaat, “Gue ngga tahu.”

Seperti tak bergitu tertarik membicarakan buku di tangannya, ia malahan mengenalkan aku dan kawanku padanya. “Ini teman-teman Solo. Kenalin, ini yang bikin Denias.”

Deg! Aku seperti kelu. Sesaat aku berusaha menenangkan diri. Sebab, aku tak ingat siapa nama-nama orang penting di balik pembuatan Denias, meski aku sangat mengagumi scene-scene sederhana dalam film moral sensasional, yang menurutku, sebanding dengan Beyond Borders-nya Angelina Jolie dan Clive Owen. Seingatku cuma ada Nia Zulkarnaen dan Ary Sihasale. Kabarnya, Denias bahkan sempat masuk ke daftar bakal calon nominasi Oscar tahun ini. Tapi, ia gagal bersaing dengan belasan film lain, yang mungkin, lebih baik.

Aku pun lantas mengawali pembicaraan, “Aku kadoin DVD Denias itu ke temen cewekku pas dia nikahan. Kira-kira nyambung ngga, sih?”

“Ya nyambung, lah. Biar dia tahu kalau pendidikan itu penting buat anaknya,” jawab si pembuat Denias tegas. Usut punya usut, ternyata ia adalah John de Rantau, sang sutradara.

“Tapi, Denias kok bisa renyah? Ngga kaya film-film Garin Nugroho,” komentarku agak dalam.

“Soalnya gue ngga mau bikin yang rumit-rumit. Trus gue paling ngga suka sama orang susah tapi manja. Udah hidupnya susah, cengeng lagi. Nah, gue bisa bikin Denias begitu itu, masalahnya gue juga orang susah,” paparnya energik. Meski aku kira-kira umurnya sudah 35-an lebih, ia tampak seperti seumuranku. Cara bicara, baju, khas humornya, atau pikiran-pikiran nakalnya membuatku semakin tertarik.

Tak terasa, hampir satu jam dialog ini berlangsung. Intinya, aku merasa agak segar, lantaran tiap hari, kepalaku terus diisi isu-isu formal yang rigid. John adalah sosok kedua-ku setelah beberapa tahun lalu, aku pernah bicara private bareng WS. Rendra di Hotel Lorin Solo.

John tegaskan, Eropa dan AS tak lebih dari bangsa baru yang dulu masih bar-bar. Mereka bisa besar karena belajar dari kita (Muslim). Ia juga mengkritik film-film romance dan bertema setan, yang menurutnya tidak mendidik. Ia sama sekali tak tertarik dengan Harry Potter, dan selalu menghubungkan semua analisis filmnya pada Al-Quran, Bible, hadits, sejarah dunia, sejarah Islam, dan keteladanan Rasulullah. Hmm… sangat ideologis.

“Kalau pengen jadi pembuat film yang bagus, syarat utamanya adalah belajar sungguh-sungguh Kitab Suci. Gue orang Muhammadiyah. Sekarang gue baru siapin film tentang Perang Paderi. Risetnya hampir dua tahun. Sekarang, banyak orang yang pakai simbol-simbol agama, tapi ternyata dia bukan orang baik.”

Nah!