Search and Hit Enter

Takdir, Perempuan, dan Perempuanku

I walk a mile with a smile. I don’t know, I don’t care where I am. But I know it’s alright. Jump the tracks, can’t get back. I don’t know anyone around here. But I’m safe this time.

Seradius ini, sebenarnya tak banyak yang ingin aku ungkap. Semakin banyak tuangan isi benakku, serasa semakin tak ada yang dapat dibetik dari semua hal yang aku pikirkan. Selalu kurang dan menguras keberserahanku pada-Nya. Salah-salah, aku justru larut, dan tanpa aku sadari… aku ridha berdiri di tepi jurang kepicikanku.

Aku menjatuhkan pilihan pada Shiver-nya Natalie Imbruglia, perempuan energik yang sungguh menginspirasiku. Aku mengenalnya sejak usiaku masih belasan. Rambut cepak, dandanan sporty, dinamis, tak mapan, dan akar romantisme yang sangat, seperti mendedahkan jiwaku yang tak perlu takut pada perubahan apa pun. Hingga kini, Natalie tetap cantik buatku.

There’s too much hurt. Sad, small, scared, alone. It’s hard and it’s sweet,” fatwanya suatu ketika di That Day. Menyanjungku dan meyakinkanku tentang kepecundangan yang manis.

Senyatanya, kelebihsukaanku memang masih silang sengkarut, menyoal kebutuhan jiwaku akan ‘katup’ hidupku. Di satu sisi, aku mengidamkan sosok rumahan yang selalu punya cara untuk meyakinkanku, bahwa selalu ada jalan di pekatnya kehidupan. Dalam waktu bersamaan, aku juga menggilai sosok mobile, yang selalu punya cara berbeda untuk menemaniku, bahwa selalu ada kejutan dalam hidup yang penuh tekanan.

Untuk total mendapatkan kebersamaan yang aku maksud, aku pernah merenda kalimat penting, I love everything that she have and everything that she need. Ya, aku akan mencintai keapaadaan itu. Aku akan mencintai ke-innocent-an itu. Aku akan selalu mencintai ketakutan hidup itu. Selurus kecintaanku pada apa pun yang mencekam atas hidupku.

Sejak kecil, aku tak cukup ucapan ‘hati-hati di jalan’ orang tuaku. Jelas, aku tak tengah mempersoalkannya. Aku hanya ingin mengabarkan sedikit gerikku yang seringnya, tak berhati-hati. Aku dibesarkan situasi. Dan aku berutang pada tempat di mana aku pernah tumbuh. Selebihnya, sisa kekhawatiranku terpaku pada, andai aku tak lagi berguna bagi mereka. Sekali lagi, karena aku besar olehnya.

Maka wajar kalau aku terlalu sentimentil untuk urusan kepedulian. Aku menggilai empati dan perhatian sejajar kekeringan jiwaku akan saling percaya. Menenangkanku dan sangat membuatku nyaman. Seberapa banyak hal yang telah aku capai, tak akan pernah membuatku surut untuk meyakini bahwa kepedulian adalah kunci keinginanku untuk tetap hidup. Termasuk saat aku mengecap ‘peduli yang tak benar-benar’. Setidaknya, aku maklum, lantaran aku juga tak terlalu peduli pada peduli yang tak benar-benar itu. Untuk sebuah perhatian, meski tak benar-benar, telah membuatku sangat bersyukur dan hidup.

Atau sebenarnya, kini aku menjadi tertarik bicara takdir yang sangat sadar aku pilih. Takdir yang bisa aku pahami. Takdir yang seperti dapat aku mengerti batasannya. Takdir yang dapat aku bersamai dengan senyuman. Ya, aku tengah bertemu dengan tepi takdirku.

Takdir itu tentang aku yang seperti tak dapat diingatkan. Aku terus berjalan dengan segala hal yang menurutku benar, sementara aku lebih mirip tontonan gratis di tengah hari. Aku meluap, mendesingkan banyak nilai yang menurutku sangat humanis, sementara aku lebih mirip seseorang yang hanya pandai mengulas kait-mengait situasi. Aku gigih, mengabarkan bahwa konsistensi sangatlah mahal, sementara aku lebih mirip seorang oportunis yang sakit.

Takdir itu tentang aku yang seperti tak dapat santai menjalani hari. Aku terus merigid, untuk banyak tanda tanya yang harus segera aku selesaikan, sebelum aku sadar, bahwa memang waktuku takkan pernah cukup. Aku memanipulasi semua kekakuan itu dengan candaan yang tak cukup lisensi kebanyakan, lantaran aku tersiksa dengan kecam tak tampak itu. Hingga aku mengaku, bahwa ternyata aku tak benar-benar bisa dan biasa melakukannya.

Takdir itu tentang aku yang seperti tak dapat dihentikan, bila telah berkehendak. Aku terus memanas, dan mengaliri setiap lekuk dan celah yang ada di depanku, untuk sebuah mimpi, yang bahkan aku pun yakin, tak bisa melakukannya sendiri. Aku berdamai dengan kenyataan, tak kurang lantaran sebenarnya aku tak pernah cukup kuat menempuhnya. Aku hanya ingin tampak di depan Tuhan, sebagai hamba yang tak malas berusaha.

Takdir itu tentang aku yang seperti sulit menjembatani idealitas persepsiku atas perempuan, dengan realitas di depanku. Setiap kali bercerita tentang perempuan, ia memang ada. Ya, perempuan yang aku kisahkan itu ada dalam hidupku, meski aku sadar, aku tak pernah banyak tahu tentangnya. Ia dominan di alam pikirku, lantaran aku pengagum kepedulian dan kebersamaan. Untuk hal sesulit apa pun, aku bahkan tak lagi merasakan tekanannya, lantaran persepsiku atas perempuan selalu indah. Manifestasi tentang semua kerisauan yang akan terasa indah.

Aku sulit memberi garis tegas kekagumanku pada perempuan. Namun, aku meringis parah, saat melihat pedulinya pada kaum papa. Biasanya aku berusaha keras membedakan, apakah relasi itu basa-basi, tampak permukaan, atau benar-benar terasa hingga ke hati. Perempuan yang peduli pada sesamanya, dengan kesumringahan yang tak dibuat-buat, selalu menghantuiku. Aku berharap dapat mengaguminya sampai kapan pun.

Aku tak punya banyak pilihan saat berdampingan dengan perempuan yang tak canggung berbagi. Aku kesengsem berat, lebih dari keinginanku untuk merangkai simulasi teorisasi apa pun. Sapaan hangat atas kontras akan membuatku takjub. Kesahajaan atas kepapaan akan membuatku belingsatan. Kelebihsukaan atas keceriaan, tanpa pembedaan kasta dan kesan, akan membuatku kedanan.

Takdir dan perempuan lantas menyimpul pada keinginanku hari ini. Bahwa sebenarnya, takdir yang aku mengerti adalah memindai identitas keperempuan dalam benakku, untuk kemudian aku yakini sebagai penenang hidupku. Bahwa sebenarnya, perempuan yang aku dambakan itu adalah takdir yang selama ini tak begitu aku kenal dan pahami. Aku hanya tinggal meyakininya, dan menjalaninya sebagai takdir.

Indah dan menenteramkanku. Karena sebenarnya, perempuan yang aku kisahkan dan perempuan yang aku kagumi itu satu.