Search and Hit Enter

Takdir dan Kebetulan

Ada yang pernah menasihatiku bahwa komunikasi itu akan terbangun baik bila semua maksud kita mampu ditangkap lawan bicara kita dengan gampang, tak berbelit. Tapi terkadang, aku merasa perlu untuk berujar seperluku, meski mungkin tak dimengerti dalam waktu singkat, sebagai bentuk realitas baru tentang sesuatu yang harus dipikir dalam-dalam. Atau sebut saja, aku sendiri masih belum mengerti tentang semua yang aku pikir dan ucapkan.

Aku tahu, banyak kejadian janggal di dunia ini, yang sepertinya tak akan terjadi, tapi tiba-tiba terjadi, dan ternyata… sangat menguntungkan. Itu anugerah yang tak pernah aku sangka dan kira. Entah, mungkin ini kategori yang kata orang adalah ‘kebetulan’. Meski aku sesak juga dengan premis bahwa kebetulan tak akan ada bila kita telah paham hukum alam (sunatullah), kehendak Tuhan (qada), dan takaran hidup (qadar). Setidaknya, kata Al-Ghazali saat menjembatani keberhasilan filsafat Islam Ibnu Rusyd dan mulai menyusutnya kekuatan kekhilafahan Islam.

Dulu, menjelang lulus, aku tak pernah menyangka kalau skripsiku bisa begitu cepat selesai, tanpa persoalan yang berarti. Ceritanya, waktu itu, aku telah sampai di Bab II. Seperti biasa, aku pun mengajukan draf skripsi untuk di-ACC pembimbing, yang jelas sangat mengenalku.

Karena banyak hal, aku tak sempat bertanya perkembangan koreksi skripsi pada pembimbingku hingga hitungan bulan. Sewaktu aku menemui beliau kembali untuk menanyakan koreksian skripsi, ia kebingungan. Ternyata, draf skripsiku hilang. Ia tak sadar kalau aku pernah mengajukannya sebulanan yang lalu.

Akhirnya, ia tawarkan jalan tengah menarik, “Begini aja. Sekarang, kamu kerjain aja sampai bab terakhir. Trus totalan.”

Tak jelas bagaimana air mukaku waktu itu. Kaget, sumringah, berbinar, dan tak habis pikir beradon ria hingga… aku mengangguk cepat.

Nah lho!! Padahal, bab analisislah yang tersulit. Praktis, skripsiku pun selesai tak sampai tiga bulan. Meski harus pendadaran dua kali, karena salah memasukkan satuan (antara persen dan miliar rupiah); tapi itu bukan persoalan berarti.

Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan beliau, dan kalimat sejuk menyapaku, “Kapan main ke rumah? Sekarang saya udah pindah rumah. Kalau pas ke Solo disempetin ya.” Aku hanya bisa tersenyum sehormat-hormatnya.

Atau sewaktu aku berencana tandang ke seorang kawan. Sederhana saja. Beberapa alasan dapat dikemukakan, meski di beberapa hal juga sangat subjektif.

Siapa sangka kalau kemudian aku bisa berkesempatan bertemu keluarga kawanku, suasana rumah yang belum pernah aku pikirkan sama sekali sebelumnya, plus sederet mimik alamiah yang tak terbungkus apa pun.

Atau tentang Knut Hamsund, seorang novelis Norwegia awal abad ke-20, yang tiba-tiba menjadi sosok penting. Pada 1890, salah satu novelnya berjudul Sult (lapar), mampu membuat publik Norwegia terkesima. Novel ini bercerita tentang seorang penulis miskin yang sangat kesusahan makan. Setiap hari dia menggelandang di jalanan kota Christiania karena tak mampu membayar sewa kamar dan membeli makanan. Tapi, ia tetap menulis.

Kabarnya, Hamsund menulis novel ini dalam keadaan benar-benar lapar. Dan ia berhasil menceritakan kepapaannya itu dalam kadar optimistis yang sangat tentang hari yang lebih baik. Mentalitas tentang penyampaian isu kemiskinan kepada publik, tapi dengan keinginan kuat untuk berubah. Bukan malahan mengelak dari semua sejarah tentang kemiskinan. Siapa sangka kalau kemudian ia bahkan meraih nobel.

“Kalau saja aku punya sesuatu untuk dimakan, sedikit saja, pada hari secerah ini!” tulis Hamsund.

Praktis, menurutku, ketidakmengertian, ketidaktahuan, dan ketidaksepahaman itu tidak selamanya buruk. Banyak hal yang membuatku sama sekali tak habis pikir, justru membuatku bahagia. Banyak kejadian yang tidak sesuai rencana ternyata justru mengubur semua ketakutanku tentang hidup. Banyak persoalan yang tak pernah terlintas di benakku sekalipun, dan ternyata adalah anugerah indah hidup kita.

Atau mengutip kalimat Bambang Trims, bos MQS Publishing, salah satu mesin duit paling berperan membesarkan Daarut Tauhid-nya Aa’ Gym, “Membuat buku itu yang penting melibatkan hati. Perkara boom atau tidak, kita tidak bisa memastikannya.”

Aku tahu, itu peran Tuhan.