Search and Hit Enter

Senarai Sinema

HAMPIR dua minggu ini, kepalaku penuh dengan pesan moral dari keping-keping film garapan Hollywood. Benar, aku sangat nyaman menatapi adegan-adegan bikinan yang bisa bikin benakku berkecamuk… lagi.

Aku tak tahu persis, alasan apa yang mendasari semua ini. Sepertinya, aku hanya butuh kenyamanan yang sedikit berbeda, dari sekadar mobilisasi diri yang, menurut beberapa orang, terlalu masif.

Meski aku juga tak menyebut ini sebagai refreshing, seperti yang sering dikatakan orang. Sebab, hingga kini aku masih meyakini moral dasar insan kamil ala Cak Nur yang tak memisahkan kerja dan kesenangan.

Forrest Gump (Tom Hanks), Love Actually (Hugh Grant), Pride&Prejudice (Kiera Knightely), A Walk to Remember (Mandy Moore), Chasing Liberty (Mandy Moore), Nanny McPhee (Emma Thompson) membesut semua inginku tentang hidup yang seharusnya memang berwarna indah, tak hanya ilusi keindahan.

Forrest Gump. Film lama peraih Oscar ini adalah film favorit pertamaku sejak aku masih SMA. Entah berapa kali aku memutarnya, dan aku tak pernah bosan untuk menatapi kilasan-kilasan gambar kompleks yang menggabungkan keberuntungan, sejarah hidup sosok yang lemah pikiran bernama Gump, sejarah Amerika, dan kepositifan menghadapi hidup. Aku butuh tatap polos Gump yang meski tak tahu banyak tentang teori kehidupan bikinan orang, tapi ia bisa bahagia dan tak merepotkan orang lain. Ia bahkan menginspirasi banyak orang, meski ia tak sadar pada apa yang telah ia perbuat. Ya, kalau versi Al-Ghazali, ia termasuk kategori orang yang tidak tahu bahwa ia tahu. Life is like a box of chocolate.

Love Actually. Film ini pernah aku tonton menjelang Natal tahun 2006, meski hanya separuh. Karena kepincut, aku selalu ingat judulnya. Ketika itu, aku berniat untuk mencarinya, suatu saat. Akhirnya, aku bisa menonton film Inggris itu dengan utuh. Film ini berkisah tentang indahnya cinta untuk semua orang. Setiap saat, manusia bisa mengekspresikan cintanya pada siapa pun. Berisi kisah beberapa orang yang dilanda kehampaan hidup karena tak mendapatkan cinta yang dimaksud dan kemudian meraihnya dengan keterbukaan diri. Love actually is all around you.

Pride & Prejudice. Kisah keluarga menengah di Inggris yang memiliki lima anak perempuan. Lekat di mataku gambaran persis semua persoalan yang sering dihadapi perempuan pada umumnya. Memilih pasangan hidup yang sesuai, nikah paksa, pembatalan nikah, nikah lari, berikut semua pernik ketakutan wajar seorang perempuan yang fisiknya tidak sekuat laki-laki, tidak punya kuasa atas warisan, hanya menunggu dilamar, dan solidaritas keluarga. Aku menjadi tahu cara mengungkapkan kelebihsukaan tanpa harus meninggalkan semua idealitas pikir dan kepribadian. Hidup tidak sesederhana mendapatkan kebanggaan, tapi juga kesungguhan untuk mengabdi pada orang-orang yang dicintai.

A Walk to Remember. Kisah seorang gadis SMA putra pendeta yang super religius. Suatu ketika, ada salah satu seleb sekolah yang kesengsem padanya. Meski banyak yang tak menyetujuinya, lantaran semua perilaku si cewe yang terlalu lugu dan kuat nilai-nilai keagamaannya, si cowo nekat menembus cinta itu, dan berhasil dengan kesulitan yang berarti. Tanpa disangka, ternyata si cewe mengidap kanker darah (leukemia) yang tak mungkin disembuhkan. Keduanya tahu kalau kebersamaan mereka tak akan lama, dan hanya persembahan terbaiklah yang bisa dilakukan. Si cowo berupaya keras membuat si cewe tersenyum hingga akhir hayatnya. Setelah membuatkan si cewe teropong bintang yang mampu melihat komet dan menikahi si cewe di gereja mendiang ibu si cewe, belum ada seminggu, meninggallah si cewe. Love like a wind. It can’t be see, but it can be feel. Seperti tulisan si cewe di buku kenangan sekolah untuk menjadi… witness a miracle (saksi keajaiban). Benar, keabadian bisa saja sangat kuat aku pahami, tapi sangat mustahil untuk dijalani. Sebab, keabadian memang bukan di sini tempatnya. Aku bisa mengerti makna keabadian cinta ini, tapi aku sulit benar-benar berempati, semisal aku yang menjalani semua itu.

Chasing Liberty. Kisah cewe 18 tahun anak presiden AS yang menginginkan kebebasan, lantaran telah berpuluh tahun selalu dikawal agen-agen rahasia. Terang saja sang ayah kuatir. Berapa saja presiden AS yang mati dibunuh lawan-lawan politiknya. Plus… citra AS yang sangat buruk di mata dunia. Bukan tidak mungkin, si anak akan menjadi incaran barisan sakit hati AS. Namun akhirnya, dengan pengelabuhan yang terencana, ia dapat lepas dari kawalan ketat itu. Berbagai negara ia arungi bersama seorang cowo yang kebetulan ia temui ketika ia tengah berkejar-kejaran dengan agen-agen ayahnya. Di akhir cerita, ternyata sang cowo juga agen rahasia AS. Cerita menjadi keren sewaktu semua telah diungkap, dan si cewe merasa dibohongi, padahal ia kadung jatuh cinta pada si cowo, sementara si cowo yang harus menjalankan tugas negara dengan rasa cinta yang juga ia punya, beradon menjadi satu. Jelas, sangat sulit membayangkan, seorang agen rahasia yang bersanding dengan putri presiden. Ia pun menyatakan berhenti dari pekerjaannya. Tapi, si cewe lantas mencari dan meluluskan cinta mereka, meski dengan pengawalan yang masih… superketat.

Nanny McPhee. Film ini bersetting Inggris era pertengahan. Ada duda beranak tujuh yang kesulitan mengurus anak-anaknya. Istrinya telah lama meninggal. Semua anaknya pintar-pintar dan supernakal. Telah 18 pengasuh (nanny) yang mereka jahili dan kabur dari rumah. Hingga suatu ketika, datanglah nanny buruk rupa yang punya sihir. Ia sangat tidak disukai anak-anak. Ia ajarkan mereka untuk mengucapkan “terima kasih” dan “tolong” serta menjadi anak yang baik. Dengan proses lama, mereka akhirnya menjadi anak-anak yang baik. Setelah semua itu, tiba-tiba nanny buruk rupa itu berubah menjadi sosok yang cantik.

Lumayan… banyak hal yang belum aku sentuh selama ini.