Search and Hit Enter

Sekolah Kaum Miskin

Foto: Building Schools in Africa
Foto: Building Schools in Africa

Bagaimana dengan gagasan bahwa belum lengkap identitas seorang idealis bila tak berani membuat sekolah; seperti apa pun keadaannya? Ini bukan tentang strata idealis yang perlu diperjuangkan. Apalagi hanya karena tampak bermoral dan lebih empati. Ini tentang merajut keinginan paling strategis bila kehidupan lebih baik memang layak diamini. Ini juga bukan tentang kegagah-gagahan atau kenekatan yang akan selalu dikenang. Ini tentang keseriusan mewujudkan banyak hal ideal yang bisa saja tak akan terwujud hanya dalam waktu singkat. Ya, sangat mungkin semua gagasan itu justru mengiringi lepasnya ruh dari jasad, sebelum termaterialisasikan.

Sedikit ingatku tentang masa kecil mungkin menghadiahiku semangat awal. Ketika itu, aku paling suka mengajak kawan-kawanku belajar kelompok; tak peduli karena PR atau sekadar berkumpul; tak peduli di rumah pada malam hari atau di luar rumah pada siang hari. Aku sangat menikmatinya, meski sebenarnya, lebih banyak bermainnya ketimbang belajar. Setahuku, PR yang diberikan terlalu sedikit dan cepat diselesaikan. Wajar kalau waktu yang tersisa pun lebih tepat dimanfaatkan untuk petak umpet atau yang lain.

Semasa SMA aku pernah menginisiasi semi sekolah sepakbola. Idenya sederhana. Banyak aku lihat anak-anak kecil seusia SD di kampungku yang sering bermain bola tanpa petunjuk. Kenapa tidak aku mengajari mereka sedikit taktik, meski aku tak bagus di skill dasar? Aku sempat membawa mereka ke pertandingan melawan anak-anak seusia SMP. Sempat mengharu-biru karena aku bisa melihat prestasi mereka, tapi tak berapa lama, aku pun kuliah.

Sewaktu kuliah aku memang merumuskan kurikulum, tapi semuanya temporer dan tidak institusional. Paling banter aku berurusan dengan training atau kelompok studi. Beberapanya berbau riset.

Pascakuliah, bersama sedikit orang penting aku membentuk Korps Madani. Orientasinya kerja sosial, terutama ekonomi dan pendidikan. Idenya, mengumpulkan orang-orang dari semua kalangan untuk berkumpul dan membuat program sosial. Recovery psikologi anak saat gempa Klaten-Jogja menjadi program pertama. Beberapa masalah berat kemudian menjejali hari-hari itu, dan niatan untuk mengawal kualitas pendidikan ratusan anak-anak usia SD pun sirna.

Beberapa waktu kemudian Korps Madani bergabung dengan PKBM Panggugah, sekolah gratis di Boyolali untuk orang-orang miskin. Hanya sempat berkontribusi www.sekolah-panggugah.org dan mengirimkan staf pengajar untuk diperbantukan, personel Korps Madani raib bersama aktivitas masing-masing. Bahkan kini, aku tak pernah dengar lagi kabar dari sekolah itu. Terang saja aku sedih.

Aku memang sempat berniat kongsi dengan seorang kawan untuk mendirikan sekolah berbasis IT di pelosok Klaten. Tekad semakin bulat dengan komitmen hidup berbaur dengan masyarakat miskin perdesaan. Mungkin ini yang dirasakan Che saat memutuskan pergi ke tempat-tempat yang menurutnya perlu berrevolusi. Tapi, pertanyaan penting kawanku mampir ke telingaku, “Aku mau melakukannya. Tapi apa kamu mau meninggalkan semuanya, termasuk pekerjaan kamu?” Aku tergagap. Mungkin karena itu pula, makin hari ia makin surut. Dan sejak ia berencana menikah, lantas benar-benar menikah, ide sekolah ini tak lagi pernah dibicarakan.

Setelah semuanya berlalu, kepalaku seperti diikat komitmen besar tentang perwujudan sekolah pada suatu saat sebagai bagian dari kehidupanku. Bisa jadi, itu akhir hidupku.

Belakangan, seorang kawan radikal bercerita bahwa ia mengawal sekolah kejuruan berbasis IT. Ia kukenal keukeuh sejak kuliah. Gaji guru-gurunya tak lebih dari 400 ribu. Siswa-siswanya didominasi kalangan menengah ke bawah. Aku berkeluh pada rasionalitasku, “Apakah mungkin mengantarkan mereka ke jenjang kualitas diri dengan latar belakang seperti itu.” Sebab, IT bukan konsumsi murah. IT juga dikonsumsi oleh transaksi bisnis berskala khusus, bukan hanya kemampuan umum seperti organisasi, administrasi, atau pemasaran.

Tapi sudahlah. Tuhan tak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Tak mungkin masalah ada dan justru lebih besar dari manusia. Talcott Parson memfatwaiku, semua orang punya fungsi. Aku tak peduli lagi dengan efisiensi faktor produksi ala kapitalisme klasik. Apalagi berdamai dengan logika korporasi industri yang menganggap mesin lebih berwibawa dibanding buruh rendahan.

Kawanku bertanya, “Trus kapan gue tinggalin semua ini?”

“Maksudnya mau cari kerja lain?!!” aku mendelik.

Ia lantas bercerita tentang pekerjaan lain selama mendampingi sekolah. Ia pernah bergabung dengan perusahaan berbasis psikologi klinis. Ia berurusan dengan orang-orang sakit jiwa karena drugs. Ia kecewa. Sebab, tidak seharusnya orang-orang sakit itu harus dibebani biaya konseling dan perawatan semahal itu.

Ia pun beralih ke korporasi. Kali ini, ia gunakan psikologi industri. Ia berusaha menjadi teman bicara yang baik bagi buruh. Bila ada keluhan, ia berusaha turut mencarikan jalan keluarnya. Tapi ia menggelegak. “Kalau mereka ngga cukup gaji masa kita cuma jadi temen curhatnya, sih? Harusnya ya kita kasih tambahan duit, biar persoalannya selesai.” Benar, psikologi industri di Indonesia tak seperti di Barat, yang memang tak dikuntiti persoalan kesejahteraan serius.

Aku bertanya, “Emangnya kamu pengen ngapain sekarang?”

“Aku pengen jadi pencari bakat.”

“Buat siapa?”

“Buat sekolah-sekolah asing yang sekarang banyak itu.”

“Wah….”

“Knapa emangnya?”

“Ngga soal sih kalo emang ngga ada yang lain. Trus duitnya bisa buat dampingi sekolah. Tapi kalo aku saranin mending sekarang kita bikin rencana baru. Mungkin ngga sih kalo sekarang kamu jadi pencari bakat buat anak-anak miskin sekolah kamu itu? Kita harus awali dari niatan menjadikan mereka setelah lulus sebagai keluarga besar melawan korporasi-korporasi besar itu. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan kompetisi sehat. Bila kita berhasil membangun korporasi-korporasi kecil yang lebih manusiawi, lama kelamaan korporasi besar akan berhenti beroperasi. Pilihan mereka hanya dua: pergi ke tempat SDM yang berupah lebih rendah atau menaikkan upah buruh lokal.”

“Itu pasti sulit.”

“Sangat sulit. Sekarang, kita harus berpikir gimana memberdayakan semua yang kita punya untuk mendapatkan keuntungan agar kesejahteraannya tercukupi. Jadi kalo sekarang ada guru yang gajinya 300 ribu, sebenarnya kita masih ngutang. Setahun yang akan datang kita harus tutup kekurangan itu dengan pemberdayaan yang kita lakukan. Menurutku semua inilah yang paling manusiawi.”

Kawanku terdiam. Waktu menunjuk dini hari pukul 03.00.

“Entah. Bagiku, hal tersulitnya justru menjelaskan semua ini pada orang-orang di sekitar kita termasuk keluarga dan istri kita kelak,” akhirku.

Sederhana saja. Aku telah sangat merasa memiliki semua anak itu sebanding dengan tidur-tidur malamku yang sulit. Entah mengapa, hingga kini, ingar bingar moneter tak pernah menarik homo economicus-ku untuk bereaksi intens. Aku takut punya banyak uang.