Search and Hit Enter

Rumah

Home. (Foto: Google Play)

Ada yang bilang, rumah itu tempat seseorang kembali. Seorang lain bilang, rumah itu tempat yang dituju. Mungkin, sesuatu yang sangat diidam-idamkan. Tapi buatku, rumah itu tempat aku kembali, juga tempat yang kini aku tuju. Aku merasa, rumah itu telah lama aku tinggalkan. Dan aku yakin, rumah yang kini sedang kutuju adalah rumah yang telah lama aku tinggalkan itu. Tak dapat diduakan.

Jelas rumah yang aku maksud bukan sepetak pekarangan dengan desain minimalis berarsitektur open source, untuk kebersamaan dan sebuah petunjuk sakti bernama egalitarianisme. Rumah yang aku maksud juga bukan tempat tinggal beralamat, minus keangkuhan eksistensi, lantaran harus bertetangga. Rumah yang aku maksud adalah kepribadian purna di ujung kedewasaan. Rumah yang aku ingini adalah cinta kasih luar biasa saat kelahiranku. Rumah yang aku damba adalah keikhlasanku untuk mewarisi cinta luar biasa itu.

Beralih dari satu titik ke titik lain membuatku semakin rumit. Keinginanku memadatkan banyak hal memaksaku untuk berpikir kompleks. Kebiasaanku mengurai kekhawatiran memantikku untuk terlau protektif. Kesenanganku untuk memotret sejarah dalam satu bingkai waktu meniupkan hawa perfeksionis tak berkesudahan.

Bukankah ada cinta yang menenangkan? Maka seorang ibu tidak akan berhitung tentang seberapa banyak beriannya pada sang anak. Cinta itu memberi. Maka matahari tak pernah berpikir, apa yang dilakukan manusia untuk membalas sinarnya. Cinta itu ikhlas. Maka seorang kakek tetap menanam kelapa untuk cucunya. Cinta itu tidak berujung. Maka ada kebersamaan hingga ke akhirat. Cinta itu berguna. Maka ada empati untuk sesama. Cinta itu tidak bersyarat. Maka ada kepasrahan pada-Nya. Dan cinta turut menyempurnakan persepsi tentang ketidaksempurnaan. Dengan cinta, kekurangan hidup berubah menjadi indah. Dengan cinta, kekurangan diyakini sebagai anugerah. Dengan cinta, siapa pun akan terus berani melanjutkan hidupnya. Sebab, banyak orang yang takut mati, juga takut hidup.

Kerumitan tentu akan bermakna anugerah bila jiwaku dipenuhi cinta. Kepelikan tentu akan bermuara pada jalan lurus bila prinsip hidupku dilandasi cinta. Ketakutanku pada banyak hal akan menjadi wajar, bila cinta telah memberi arti hidup yang sesungguhnya. Tentang hidup yang sebentar, dan harus berguna. Tentang waktu yang sedikit, dan tidak merugi. Tentang hidup yang banyak tipuan, dan tetap konsisten di jalan-Nya.

Terkadang, cinta memang tidak untuk diucapkan. Cinta bahkan tak perlu diyakini. Cinta itu perilaku. Cinta itu praktik keseharian. Cinta itu dapat dirasakan, tanpa perlu kesepakatan tentang apakah itu cinta atau bukan. Bukan maksudku untuk terus meyakinkan diriku akan muasal cinta, perannya atasku, dan apa yang akan aku lakukan karena cinta. Aku hanya ingin berbuat hal kecil, sederhana, biasa, untuk mengeluarkan kodrat cinta di jiwaku.

Tan Malaka, seorang penting dalam hidupku, memutuskan untuk tidak menikah hingga akhir hidupnya. Ia keturunan bangsawan Minang. Sejak belasan tahun, ia telah dijodohkan. Ia juga berkutat pada lingkaran elite nasional, yang sangat memungkinkannya untuk meloloskan hajat menikahnya. Ia bahkan masuk garis perjuangan lintas negara. Namun barangkali, ia tak lagi sempat mengolah rasa kelelakiannya itu. Cita-citanya mendirikan Republik sejak 1925, membuncahkan kecintaan yang sangat atas negeri khatulistiwa bernama, Nusantara.

Sekandungku, memutuskan untuk memilih pasangan hidup yang sama sekali tak aku sangka sebelumnya. Ia menjadi sangat bertanggung jawab, lantaran alasan penting; perempuan yang akan ia peristri telah yatim. Ia yakinkan diri untuk berbuat terbaik, karena menikah bukan hanya soal ukuran-ukuran milik publik. Aku tertarik mempersoalkan keteguhan itu. Barangkali, kekeraskepalaannya selama ini hanya dapat lumer dengan standar hidup berdedikasi. Mungkin, hidayah telah menuntunnya.

Bahkan Rasulullah Saw. telah yatim piatu sejak kecil. Kerinduannya pada kasih sayang orang tua itu justru mengetatkan jiwanya pada akhlak yang penuh welas asih. Kejujurannya luar biasa. Kesederhanaan yang ia miliki tak ada tandingannya. Kepedulian yang ia lakoni menginspirasi seluruh dunia untuk berbuat baik.

Ada bermacam tafsir cinta yang kemudian melembaga dalam kehidupan setiap orang. Mereka dapat memfigurisasi cintanya itu pada sosok, sesuatu, pun perilaku. Cinta itu penting. Tapi, cinta punya selaksa bentuk yang kemudian mewarnai ingar-bingar dunia. Juga saat cinta tak perlu lagi untuk diperbincangkan.

Aku bersyukur masih, setidaknya, merasakan keberadaan cinta itu di tengah hari-hariku. Aku bersyukur tetap menginginkan cinta, meski bentukan tentang cinta yang aku punyai selalu berubah. Aku juga bersyukur hidup bersama orang-orang yang tetap meyakinkanku tentang cinta yang tak seperti kebanyakan. Cinta yang semakin membuatku menjadi kuat. Cinta yang akan terus mengingatkanku pada-Nya.