Search and Hit Enter

Rekayasa Ketaklaziman

Zeitgeist. (Foto: thewritepractice.com)
Zeitgeist. (Foto: thewritepractice.com)

Suatu ketika di tahun 2002….

Aku melangkahkan kaki dengan gontai ke kampus. Pagi ini terasa mewah, lantaran biasanya, aku masih terlelap. Rutinitas di HMI yang buruk. Berteman malam dan melupakan siang. Padahal, malam dan siang jelas tak dapat dipisahkan. Satu dan lainnya, sama-sama penting. Pagi kali ini memaksaku untuk bergerak lebih cepat, karena situasi menuntutnya demikian.

Kabarnya, Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) HMI Cabang Sukoharjo baru saja terbentuk. Ketua Panitia terpilih adalah Fahriana Alfiokti Tabaccholy, seorang UBK yang legendaris (kelak ia-lah Ketua Umum perempuan pertama UBK). Hari ini PMB HMI berencana membuka Posko di Kampus I.

Dari kejauhan, mataku terpaku pada sosok tambun Iguh Rahardi, Ketua Umum AD I. Ia tampak menata meja dan pernak-pernik Posko dengan bersemangat. Ia selalu begitu. Dengan rendah hati, ia pernah bilang padaku, “Saya sadar engga sepintar yang lain, Rif. Saya cuma rata-rata air di sini. Jadi, ya kalau saya jadi spesialis perlengkapan, itu tak mengapa. Saya senang-senang saja.”

Tak jauh dari Iguh, berdiri seorang penting lain, Budi Gunawan Sutomo. Ia Ketua Bidang PTK/P HMI Cabang Sukoharjo. Kader AD I yang satu ini-lah penggagas Posko PMB HMI. Kacamata minus dan rambut keritingnya telah banyak dikenal penghuni kampus. Ya, semasa masih semester III saja, ia telah berhasil menyusun Konstitusi KAMA UMS. Selebihnya, ia pendiskusi andal dan demonstran yang kukuh.

Pagi itu, Budi juga telah terjaga. Seperti hal mustahil yang pernah aku tahu. Sebab, kalau sudah tidur, Budi bisa lupa daratan. Pernah suatu saat seusai Rapat Pleno AD I, ia tidur hingga dua hari dua malam. Aneh dan butuh permakluman yang sangat.

Pertanda bahwa hari ini benar-benar berbeda. Aku sedikit bertanya-tanya, tapi tak sempat menerka apa yang tengah direncanakan aktor-aktor penting itu. Semua terjadi begitu cepat, tanpa dapat aku sadari sepenuhnya.

***

Benar juga. Belum lama setelah pendirian Posko, kisruh itu pun datang bergelombang. Jelas Pimpinan IMM marah. Mereka mendatangi Rektorat untuk segera mengusir Posko PMB HMI. Alasannya jelas, ormawa selain IMM tidak boleh beraktivitas di kampus Muhammadiyah.

Tanpa proses berbelit, Pihak Rektorat III (Kemahasiswaan) pun segera bergerak. Awalnya, mereka mengirimkan Kabagmawa. Kepentingannya, menghadirkan penanggung jawab Posko di rektorat.

Dengan mimik santai, Iguh menjawab panggilan itu, “Kalau Bapak mau undang HMI ya harus pakai surat. Kita kan organisasi resmi.”

Terang saja sang Kabagmawa segera balik kanan, menghadap rektorat. Nihil dan kader HMI justru memilih bertahan. Namun, tanpa banyak berpikir, rektorat kemudian melayangkan surat panggilan kepada Panitia PMB HMI agar melakukan klarifikasi seputar aktivitas Posko.

Negoisasi pun dimulai. Panitia PMB HMI hanya mau dipersoalkan keberadaannya bila forum klarifikasi juga dihadiri Pimpinan KAMA UMS dan IMM. Alasannya, karena merekalah stakeholders kemahasiswaan. Seluruh elemen internal kemahasiswaan diharapkan dapat pula mengambil sikap atas kejadian ini.

Karena prosesi penghadiran elemen lain membutuhkan waktu tak sebentar, maka pada hari itu, solusi persoalan Posko PMB HMI belum dapat diselesaikan. Aktivitas Posko tidak mendapat hambatan berarti pada hari pertamanya buka. Selain memperkenalkan HMI pada calon mahasiswa baru, ditawarkan juga penginapan gratis dan Try Out masuk UMS. Lumayan, sehari yang menyenangkan, meski Panitia Posko harus menghela napas. Ya, persoalan besar tengah menanti.

Hari beranjak malam.

Aktivitas Posko bertambah ramai. Wijasto, Ketua Umum AD II datang bersama jajarannya, membawa perangkat Baliho dan spanduk. Awie menyukai painting art, meski dia mahasiswa Teknik Mesin. Pada masanya, atmosfer kaderisasi AD II berubah drastis, dari politis ke intelektual. Semua tahu, ketika itu, AD I dan AD II adalah seteru abadi. Dan Awie berhasil mengubahnya.

Beberapa Baliho besar ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru itu pun dipasang di area Kampus I. Salah satunya, di dekat Auditorium, agar menarik banyak mata pejalan kaki di sekitaran UMS. Tentu saja, sekalian para penghuni rektorat. Sementara spanduk ditalikan di atas sekretariat Menwa UMS.

Seperti tak ada masalah, dan Panitia Posko semakin merajalela. Malam itu banyak yang hadir. Sebagian di Posko, sebagian beredar di sekitaran kampus untuk melihat titik-titik promosi HMI, dan sebagian lagi ada di komisariat, menyiapkan logistik pendukung.

Menjelang dini hari, sebagian Panitia Posko telah terlelap. Hanya beberapa gelintir saja yang masih terjaga. Sebagian besar bahkan telah kembali ke komisariat atau kosnya masing-masing. Tanpa dinyana, puluhan orang tiba-tiba datang, hendak membubarkan Posko. Terang saja terjadi perlawanan sengit. Beberapa orang Panitia Posko bahkan menantang mereka, bila benar-benar hendak membubarkan Posko.

Sebagian dari penyerbu adalah Pimpinan IMM. Mereka marah karena penanganan rektorat yang lambat atas persoalan ini. Mereka juga akan menghilangkan atribut-atribut HMI yang ada di kampus, tanpa menunggu proses diplomasi kampus yang telah direncanakan.

Provokasi ini lantas menyulut kemarahan anak-anak HMI pada kadar yang tak tanggung-tanggung. Selain dirasa bar-bar, dengan mengintimidasi segelintir penjaga Posko, HMI tengah mengupayakan jalur konstitusional, yang kemudian dilanggar oleh sebagian kader IMM.

Esoknya, kader HMI dari segala penjuru berkumpul di UMS. Mereka berbaris, ber-yel yel, dan bernyanyi. Ya, mereka menuntut ‘Demokratisasi Kampus’. Aksi demonstrasi ini digelar di dalam kampus, di tengah sesaknya calon pendaftar UMS.

Sebuah tontonan menarik. Sebagian anak-anak teater non-HMI dengan spontan juga turut berimprovisasi. Mereka menyerukan, ‘Damailah mahasiswa’.

Aksi ini kelak kemudian menarik simpati banyak mahasiswa. Salah satunya adalah Ali Asfuri, seorang IMM yang kemudian berproses di HMI hingga duduk sebagai Ketua Bidang PTK/P Komisariat UBK. Promosi HMI berhasil pada kadar sepantasnya. Tak perlu bersusah payah, momentum perseteruan ini justru berbuah gerakan kecil yang eskalatif.

Seperti dipantik, kader-kader IMM juga menggelar aksi tandingan, sebagai penolakan aktivitas ormawa eksternal di kampus Muhammadiyah. Mereka menuntut rektorat untuk tegas dan tanpa pandang bulu. Sedikit informasi, Rektor UMS ketika itu adalah Dochak Latief, mantan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta.

Audiensi kemudian digelar di Auditorium, antara Rektor dan HMI. Seluruh demonstran HMI memasuki auditorium. Hasilnya tak memuaskan. Rektorat tetap bertahan pada permintaan awalnya, agar HMI tidak membuka Posko di kampus. Karena dirasa alasan Rektor tidak terlalu kuat, HMI merasa dikebiri hak-haknya sebagai mahasiswa UMS, bukan hanya sebagai kader HMI.

Setelah audiensi, demonstrasi berlanjut. Tuntutannya masih sama, ‘Demokratisasi Kampus’. Bahkan hingga detik ke sekian, tiba-tiba massa HMI dan IMM berdekatan. Chaos-pun tak terelakkan. Budi bahkan sempat masuk ke massa IMM. Terang saja anak-anak IMM menganggapnya sebagai perkelahian. Beruntunglah, sebagian kalangan masih banyak yang bersabar.

Demonstrasi lantas berjalan hingga berhari-hari. Meski demikian, aktivitas Posko tetap ada. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

***

Pagi itu di HMI Cabang Sukoharjo….

Budi melemparkan Koran Solopos ke depan tempat dudukku. Aku terperanjat. Tertera tulisan besar sebagai headline, ‘Kader HMI Terancam DO’. Aku terdi am.

“Menurut Loe gimana, Rif?” tanya Budi kemudian.

Aku berpikir sebentar. Wah wah…. Kenapa jadi sebesar ini? pikirku.

“Menurutku, ini bukan soal kita, Bud. Ini soal anak-anak. Kalau aku sih bingung, gimana jelasin ini ke orang tua mereka, bila memang UMS nekat men-DO kita,” jawabku sekenanya.

Budi tersenyum. Kawanku yang ini memang tak pernah tanggung-tanggung. Isu terakhir demonstrasi, bahkan Budi menginginkan agar Rektor III diturunkan, karena dianggap tidak mampu menyelesaikan persoalan kemahasiswaan.

Budi mulai didera dilema. Sebagian kawan, terutama beberapa pimpinan HMI Cabang Sukoharjo mulai ragu, merasa bahwa gerakan ini membahayakan. Sebagian lagi, kalangan Panitia PMB ditambah kader Komisariat se-UMS memilih bertahan sampai tuntutan berhasil.

Bahkan pada pertemuan terbatas antara rektorat dan Pimpinan Cabang menghasilkan keputusan yang tidak menyenangkan. Ya, HMI memilih mengalah. Budi tak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa ditelikung kawan-kawannya di jajaran Pengurus Cabang. Sementara anak-anak HMI yang lain marah, karena Budi dianggap lembek dan takut.

Tapi bukan Budi kalau tak punya cara untuk menyiasati situasi. Segera ia kembali mengumpulkan anak-anak untuk melakukan aksi terakhir, ‘Matinya Demokratisasi Kampus’.

Setelah itu, Posko PMB HMI pun berakhir. Banyak yang kecewa.

Bagiku, momentum ini sangatlah monumental. Apalagi kalau bukan tentang skenario genius gerakan Budi yang luar biasa efektif. Gerakan yang tak akan lekang oleh zaman, hingga hari ini.

Sebenarnya, Budi tahu risiko gerakan yang ia buat. Tapi Budi juga tahu, apa yang telah ia lakukan ketika itu, berhasil memberi pesan kuat kepada kalangan terdidik, untuk tidak merasa mapan pada keadaan. Ya, banyak hal yang harus diperjuangkan, bukan hanya pangkat, jabatan, kekayaan, atau kekuasaan. Dan kader HMI-lah pandeganya. Sebagai tanda bersyukur dan ikhlas.***

*Dedicated to all cader of HMI Sukoharjo

3 Comments

Comments are closed.