Search and Hit Enter

Refreshing

Terkadang, menonton film drama dini hari justru tak bisa membuatku cepat tidur. Sepertinya, terlalu banyak pesan moral yang perlu aku kontekstualisasikan. Terkadang, berdiskusi tentang nilai hingga Subuh menjelang justru membuatku bersemangat menghadapi hari esok. Banyak tafsir baru yang aku dapat untuk meyakinkan diri. Pun aku merasa segar dalam berbagai bincang karena aku hobi mewanti diri dengan tulisan yang aku buat. Mana berpikir dan mana istirahat, susah aku bedakan.

Aku tak begitu paham refreshing. Doktrin baku yang aku yakini berfatwa rigid bahwa insan kamil tidak memisahkan antara kerja dan kesenangan. Saat bekerja seseorang akan merasa senang. Dan seseorang akan merasa tengah bekerja bila pun ia merasa senang. Nilai ini mengaburkan semua pandangan umumku tentang Sabtu-Minggu itu weekend, coffee break, rehat, atau istilah sejenis.

Semua hal membuatku yakin bahwa tak ada yang bisa menduakan keinginan untuk hidup dan mati. Saat hidup, saat itulah aku harus siap mati. Tak ada yang baru tentang hal ini. Aku bahkan hanya ngeri saat aku tak sadar bahwa saat ini pun aku bisa mati. Padahal, tak ada yang benar-benar mendadak, bila aku tahu tentang keniscayaan. Ada sunatullah atau hukum alam yang telah diciptakan Tuhan sejak dunia ini berawal.

Aku terusik untuk berburu pandangan seputar piknik. Di Catatan Pinggir-nya Goenawan Muhammad, Leo Tolstoy, seorang pintar dari Rusia, kabarnya baru belajar mengendarai sepeda di usia 61 tahun. Entah apa yang ia lakukan di tahun-tahun sebelumnya hingga bahkan memikirkan sepeda pun ia tak sempat. Tolstoy banyak berjasa di bidang pendidikan dan kritik kapitalisme. Konon hingga meninggalnya, Sophia, sang istri tak benar-benar mengerti cara pandang suaminya.

Joe Petrucci, gitaris Dream Theater, memilih untuk bersepeda bersama anaknya berkeliling kota. Penganjur dan pelaku bermusik idealis yang ternyata laku—umumnya musik idealis jeblok di pasar—itu punya cara lain mencari hikmah. Simak lirik The Spirit Carries On di album Score (2006):

Where did we come from? Why are we here? Where do we go when we die? What lies beyond and what lay before? Is anything certain in life? If I die tomorrow, I’d be alright. Because I believe that after we’re gone, the spirit carries on. Safe in the light that surrounds me. Free of the fear and the pain. My questioning mind. Has help me to find? The meaning in my life again. Victoria’s real. I finally feel at peace with the girl in my dreams. And now that I’m here. It’s perfectly clear. I found out what all of this means.

Petrucci mewajarkan impian tentang cewek idaman. Tapi ia bertanya keras, setelah mati, apa yang akan terjadi? Dan juga bagaimana memosisikan diri di depan mati? Bila itu terengkuh, menjalani hari dalam kehidupan tentu akan lebih baik. Ya, I found out what all of this means.

Konon, Adam Smith sering berjalan-jalan di tengah-tengah kota London, hanya dengan mengenakan baju tidur. Katanya, ia pun tengah tak sadar melakukan semua itu. Barangkali, terjemahan invisble hand di An Inquiry into A Causes of The Wealth of Nation (1776) yang menghebohkan itu lahir dari perenungan yang ia sendiri tak pahami.

Dan aku mulai membayangkan scene Ada Apa Dengan Cinta saat Cinta sok-sok jadi anak yang bisa diajak berpola jalanan. Ia dan Rangga memilih untuk berjalan kaki di senyapnya malam usai nongkrong di kafe, seraya makan kacang rebus dan membicarakan payahnya anak rumahan yang tak mandiri. Rangga yang serius ternyata juga bisa bercanda; dengan caranya sendiri.