Search and Hit Enter

Permintaan Ningrat

Tom Lefroy. (Foto: knightleyemma)
Tom Lefroy. (Foto: knightleyemma)

“Aku menyebutnya permintaan yang ekstrem,” kata Tom Lefroy, kekasih Jane Austen dalam film Becoming Jane.

Ketika itu, Jane tengah mempersoalkan ketidakmauan Tom berdansa. Ia bicara pada Henry, saudaranya. Ia juga bilang, padahal laki-laki yang ada di ruangan itu lebih sedikit ketimbang perempuannya. Jane tak sadar bahwa sebenarnya ia berdiri membelakangi Tom. Jadi, Tom mendengar aduan Jane pada Henry itu dengan sangat jelas.

Bukan… aku tak seberani Tom. Hanya saja aku sangat suka kalimat bertingkat itu. Kalau kata seorang kawan, ada cara untuk menyampaikan penghargaan meski dengan logika terbalik; seperti tidak tengah bermaksud menghargai. Ada kesan menolak, tapi keinginan lain bisa dikompensasi, meski dengan syarat khusus. Ada ekspresi tidak butuh, tapi tetap masih bisa dinegoisasi, lantaran juga menyembul restu yang samar-samar.

Tafsirnya begini. Bahwa ada keinginan untuk bertemu memang tidak keliru. Bahwa ada hak untuk makan malam itu benar. Tapi untuk ketemu dan makan malam, kewajiban lain juga harus dilewati. Akhirnya ada simpulan tentang keinginan ‘mengalah’ untuk sesuatu yang lebih besar atau ‘tak perlu diistimewakan’ lantaran memang tak perlu seperti itu. Akan terasa sangat naif bila gejolak ingin ketemu dan makan malam itu kemudian tidak terkontrol, bahkan mengalahkan hal lain yang lebih penting. Akan terasa kekanak-kanakan bila perasaan kelaki-lakian harus didahulukan, sementara pada waktu yang sama ada tuntutan mempertahankan citra kelaki-lakian.

Aku menikmati ini. Aku seperti berhadapan dengan pengakuan semua nilai yang aku yakini tentang mengabdi pada kepentingan yang lebih besar, mendahulukan tugas, dan teguh sebagai pemimpin. Yang umumnya dan biasanya, sangat sulit aku temui. Ya, umumnya, beberapa orang memilih posesif. Biasanya, beberapa orang memilih difanatiki. Bahkan ada yang bilang, itu ketidakpedulian pada orang-orang terdekat alias egois. Beberapa kelompok lain menyatakan, itu bukti kuat pengingkaran janji atau berkhianat atas nama kepentingan yang lebih besar.

Meski aku juga tak seekstrem Marx yang memilih untuk menyueki keluarganya, hingga ada beberapa orang anaknya yang mati bunuh diri. Kemarahan istrinya pada Marx yang hanya peduli pada Engels dan kertas-kertas penggugat korporasi itu tak membuatnya beringsut. Ia tetap kukuh membangun cara pandangnya untuk ‘dunia yang lebih baik’.

Atau juga seperti Rousseau yang tak dapat menjadi pemimpin keluarga yang baik.

Hingga kini, aku tetap memilih untuk mengholistikkan tugas internal dan eksternal; tugas pribadi dan sosial. Atau khazanah klasik bahwa seorang pemimpin tidak akan dapat menjadikan komunitasnya bahagia, bila ia sendiri tidak bisa mengatur diri dan keluarga. Bagaimana mungkin urusan bangsa dan negara dapat digapai, bila disiplin diri saja bermasalah? Bagaimana mungkin seseorang dapat menyelesaikan persoalan besar, bila ia sendiri tak dapat mencintai dan perhatian pada orang-orang terdekatnya. Semirip kalimat Aa’ Gym, mulailah dari diri sendiri, dari yang paling kecil, dan dari sekarang dalam 3M atau Mengubur Kaleng, Membersihkan pusat-pusat air yang terkontaminasi, dan Menjaga kebersihan. He he….

Tapi maksudku, ada saat untuk tidak memprioritaskan kepentingan personal, lantaran ada desakan kuat eksternal yang bila tidak segera dikerjakan akan berdampak luas pada kebaikan khalayak. Tentu dengan kalkulasi. Maksudnya, meski kepentingan personal dinomorduakan bukan berarti sengaja menomorduakannya. Tentu semua dengan alasan. Kalau pun itu dinomorduakan tidak akan menimbulkan masalah yang berarti bagi internal yang dimaksud.

Rumus hukum alamnya, tak mungkin realitas disusun tanpa sebab dan akibat. Kalau aku hanya mendukung sebab, lantas sedikit melupakan akibat maka aku akan hancur. Kalau aku menyebabkan semua ini terjalin normal, tapi aku tidak berkepentingan untuk melanjutkan semuanya dengan jelas, berarti aku hanya menaruh diri di sebab, tanpa mengalirkan hidup ke akibat. Efek yang paling sederhana dari pengingkaran ini adalah kebelingsatanku bila aku tak ke tempat itu. Ya, aku menjadi ketagihan… sebenarnya.