Search and Hit Enter

Perihal Peduli

Bila aku ingin tertawa lepas, barangkali semua hal akan sulit disimpan. Tentang sesuatu yang tak mudah, tapi bernyali. Tentang keinginan nyata, tapi ‘sok suci’. Perihal kemandirian, kedirian, kesejajaran, atau dedikasi. Ya, aku tengah berjuang.

Perihal komunikasi unik yang aku suka. Perihal keterlambatan banyak hal yang aku maklumi. Perihal demarkasi rasa dan tanggung jawab yang terus menipis, kabur, dan menyatukan keduanya.

The Ordinary People, sinema Jepang keren setelah kesuksesan Tokyo Love Story tayangan Indosiar tahun 1994 dulu menyematkan sepenggal kisah mengesankan. Waktu itu, kepalaku berkelindan Piala Dunia, juga kompetisi Dewa 19 dan U Camp. Biar kelihatan British, ini deskripsi singkatnya.

Five youngsters enter the same university and become very good friends. As they’re very close, they’re afraid of ‘hurting’ one another, and this results in even more tragedies. Both Tamotsu and Osamu, who fall for Narumi, keep holding back their feelings and giving way to each other. This complex love affair unintentionally causes Junichiro’s death. In the end, all left school due to one reason or another, leaving Narumi alone to complete the course. The happy days are gone, but they happen to meet one another again a few years later, and the story continues.

Lebih jelasnya, lima pemuda itu (mereka menyebut dirinya, Asunaro Hakusho) adalah dua perempuan (Narumi dan Seika) dan tiga laki-laki (Tamotsu atau Kake, Osamu, dan Junichiro atau Tatsuya). Kake dan Narumi saling jatuh cinta, padahal Osamu pun mencintai Narumi. Sementara Seika… bahkan hamil oleh Tatsuya. Di akhir cerita, Tatsuya meninggal karena kecelakaan, dan anaknya dirawat dan dibesarkan beramai-ramai. Dan diketahui pula, ternyata Tatsuya seorang homo. Ia pernah menyatakan cintanya pada Kake. Karena masing-masing telah berjanji untuk tidak saling menyakiti maka jalan ceritanya menjadi rumit.

Oh, andai ada yang jual DVD-nya….

Tapi bukan hanya itu maksudku. Suatu saat, Kake berpamitan hendak pergi dari kota tempat mereka belajar. Hanya Narumi yang mengantar Kake hingga bus yang akan ia tumpangi datang. Sepanjang waktu tak banyak yang mereka perbincangkan. Dan saat Kake telah menaiki bus, kemudian bus berjalan pelan, Narumi berlari mengejarnya. Ia bahkan rela menyusuri jembatan penyeberangan yang akan dilewati bus Kake, hanya untuk berteriak, “Aku cinta kamu, Kake!!”

Mungkin tak sedetail itu. Sebab, aku lupa-lupa ingat. Tapi, suasana pisahan itu yang bisa jadi senada dengan Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi-nya Didi Kempot atau Di Batas Kota Ini-nya Tommy J. Pisa atau Aku Antarkan-nya Iwan Fals sangat menarik benakku setiap saat. Ah, bisa jadi karena dulu belum ada HP atau Yahoo Messenger. Sekarang bahkan ada teknologi Matrix, saat realitas nyata dan maya disatukan. Demolition Man juga menerjemahkan hubungan fisik yang tanpa bertatap muka langsung. Dunia telah berubah!!

Tapi, aku tetap saja butuh banyak hal manusiawi atau seawam mungkin. Ya, aku butuh siaran langsung, bertatap muka langsung.

Berseliweran premis-premis asumtif yang menyiksa. Kegilaanku menyisir kritisme orang-orang sinting di dunia ini terkadang memaksa kepalaku terlalu kompleks dan sering beranalisis cepat, bahkan di luar kendaliku.

Dan aku pun berdendang, “So give me coffee and TV… be history,” ciptaan Blur, pesaing Oasis.