Search and Hit Enter

Perempuan, Setelah 25 Tahun, dan Menikah

Sebenarnya, aku pengagum perempuan. Ada yang bilang, saking doyannya mengagumi seseorang, aku sering larut pada persepsi-persepsi yang aku bangun sendiri atas perempuan. Aku dianggap sering berkhayal tentang perempuan ideal. Aku dianggap schizofrenia ringan atas keinginanku memasukkan persepsi-persepsi yang utopis itu pada hari-hari nyataku. Menurut mereka, aku tidak realistis.

Tentu saja aku keberatan dengan semua pandangan itu. Sebab, selama ini aku sangat mengagumi perempuan karena sebelumnya aku telah punya stereotipe atas mereka. Aku selalu tertarik untuk menutup kebinalanku dengan keberanianku untuk memastikan apa yang aku mau atas mereka. Tanpa sadar bahwa perempuan adalah makhluk penenang hidup laki-laki, tentu aku tak akan tertarik pada perempuan feminin yang penuh empati dan dedikasi. Tanpa mengerti bahwa perempuan adalah sosok penuh perasaan, tentu aku tak akan tertarik pada perempuan yang smart dan reaktif pada ketidakadilan. Tanpa tahu bahwa perempuan adalah makhluk ajaib yang terus menyiksa rasionalitasku, tentu aku tak akan tertarik pada perempuan yang bisa menyelesaikan semua kegalauanku hanya dengan tatapan mata yakin.

Pada porsi kelelakianku, aku memang keras kepala. Setidaknya, itu kata ibuku. Beliau pernah bertanya serius padaku, “Sebenarnya, kamu pernah benar-benar suka sama cewe apa ngga, sih?” Konfirmasi pantas melihat keraguanku yang sangat tampak saat ‘sepertinya’ aku berhubungan baik dengan perempuan. Beliau tak yakin apakah benar-benar ingin serius atas hubungan itu. Aku berkilah, “Kan belum suami-istri.” Beliau kemudian bersaran, “Asal jangan terlalu dingin sama cewe. Cewe itu senang diperhatikan.”

Seorang kawan menganggapku tak komunikatif pada lawan jenis. Terlalu banyak caraku untuk berekspresi, tapi tak pernah sampai pada substansi. Sering kali aku menganggapnya sebagai keindahan hubungan, atau agak jumawa, hubungan yang lebih berkualitas dan manusiawi. Tapi kawanku itu mendesakku, “Justru banyak yang sebenarnya tak tersampaikan dari semua cara berekspresi itu.”

Entahlah. Aku masih saja tak kunjung yakin. Pula saat seorang dekatku yang karena dia perempuan pernah bilang, “Kamu tuh ternyata baik sama semua cewe, ya.”

Bukan. Sebenarnya problemku bukan karena sulit memilih. Aku bukan tipe orang yang ingin berlama-lama pada keraguan, meski aku sangat kecanduan spekulasi. Masalahku ada pada ketidakmampuanku menerjemahkan semua keberanian dan ketakutanku pada semua perempuan yang aku kagumi. Masalahku ada pada kegugupanku pada setiap ketidakberkenan semua perempuan yang aku ingini. Masalahku ada pada ketidaktahuanku pada sikap yang ‘seharusnya’ diperlakukan pada semua perempuan yang aku hasrati.

Tidak. Aku tidak tengah meratap. Aku hanya sangat bersemangat membangun masa depanku dengan kepecundangan sempurnaku di masa lalu. Aku seperti menemukan sesuatu yang abadi, tak dapat diraih, dan tak akan kembali atas semua ketidaksampaian hasratku. Aku pernah menyebutnya dengan ‘persepsi tentang kesempurnaan’. Kalau aku mengaku ada banyak hal yang tak bisa aku raih, justru aku akan meyakini masa depan yang penuh cara merendahkan diriku di depan Tuhan. Kekalahan membawaku pada kebesaran Tuhan. Dengan kalah, aku akan ingat bahwa aku bukan apa-apa di depan Tuhan.

Pada batas ini, aku berikhtiar sekuatnya atas keinginanku yang penuh kesadaran pada perempuan yang aku ingini. Aku tak lagi bersemangat memproporsikan diri pada ranah menang atau kalah. Aku mengingini semuanya sebagai hal wajar yang memang telah dikreasi Tuhan atas hamba-Nya. Aku akan tetap pengagum, tapi aku tak lagi merasa telak terbodohi saat kekaguman itu tak sesuai persepsi idealku; atau saat semua jauh dari raihanku. Aku merasa adil dengan hadirnya makhluk indah itu, tanpa merasa perlu untuk marah kalau mereka tak menghendakiku.

Keniscayaan akan menggiring semuanya pada kadar yang semestinya. Bila aku tak memangkas ketidakberkenanan, juga berusaha memosisikan diri sebagai orang yang berguna, telah menjadi jalanku bila aku akan bertemu dengan keajaiban yang tak akan pernah aku mengerti. Benar, Tuhan selalu punya kejutan untukku. Hingga aku akan tegak berkata bahwa semua itu wajar.

Ya, bila aku telah lebih dari 25 tahun. Rasul menikah di usia 25 tahun.