Search and Hit Enter

Perempuan, Laki-laki, dan Menikah

Foto: swellfestival.com

“Ada pertanyaan bagus, yang enak itu, istriku pembantuku atau pembantuku istriku?” sapaku culun suatu saat.

Beberapa waktu lalu, aku bicara dengan salah seorang kawan perempuanku. Kawanku yang ini lebih tua setahun dariku, karyawati salah satu lembaga Belanda di Jakarta. Aku mengenalnya saat ada event pameran di Mangkunegaran Solo. Ketika itu, aku jadi guide dadakan untuk semua kebutuhannya berpameran. Ia telah menikah beberapa bulan lalu. Entah karena alasan apa, hingga kini ia belum mengandung.

Aku mulai bertanya hal krusial padanya, “Udah mulai mual-mual, belum?”

Dengan tersenyum ia menimpaliku, “Belum. Dan belum pengen.”

Aku mendelik aneh. Apa yang salah dengan ‘keinginan memiliki anak’. Aku bereaksi cepat, “Bukannya kamu emang jatah jadi Emak-Emak. Knapa ngga pengen? Aku aja pengen. Lho!”

“Hei… kalo tau kamu bisa gantiin aku hamil, aku mau married sama kamu.” Dan ia tertawa lepas.

Aku bingung. Apanya yang lucu?

“Trus kamu mau nikah kapan?” tanyanya kemudian.

“Sst… aku mau nikah massal.”

“Kalau umur sebenernya ngga terlalu penting. Asal semua dah siap buruan aja nikah. Tapi kalau belum siap, ya JANGAN!!” Ia mewanti-wantiku.

Aku meringis. Gimana sih Tante satu ini? Nyuruh-nyuruh aku biar cepat menikah, tapi dia sendiri tak mau hamil. Nah, apa enaknya menikah, kalau tak untuk meregenerasi kegilaan kita dalam banyak sosok baru yang lebih autentik. Maksudnya, biar semakin banyak orang gila sepertiku.

Di lain waktu, kawanku yang lain lebih aneh. Temanku yang ini juga perempuan karir, aktivis perempuan, dan tuaan aku dua tahun. Dulu, ia kuliah di UMS juga. Sempat menjadi ATM berjalanku, lantaran aku sering ngutang duit ke dia. Kini, ia juga beredar di Jakarta.

“Aku mau curhat soal cowo. Mau dengerin ngga?” pintanya suatu ketika.

“Kalo soal nikah, aku mau. Biar lebih spesifik. Biar kamu cepet mikir nikah.”

Bukan apa-apa. Aku telah sangat paham semua modus operandi cewe satu ini. Ia memang dekat denganku tapi mendeklarasikan diri untuk tidak akan tertarik padaku sebagai cewe. Ia hanya butuh teman bicara. Teman bicara yang bisa menampung semua silang-sengkarut perjalanannya bersama cowo-cowo itu.

“Makanya. Aku tuh sebenernya pengen cepet nikah. Tapi asal cowonya udah mulai tergantung dan ngga mau lepas dari aku, perasaanku jadi hilang. Aku ngga tertantang lagi.”

Tuh, kan!? Tak jauh dari yang aku perkirakan. Ia hanya ingin menegaskan kemampuannya menarik banyak cowo, tapi tidak untuk dimiliki; mungkin lebih tepat, dicicipi. Entah apa maksudnya? Aku hanya bisa mengetengahkan cara hidup indah yang dipenuhi kesetiaan, dan seabrek komitmen. Meski aku juga yakin kalau ia juga tak terlalu tertarik dengan semua yang aku katakan. Sebab, buktinya hingga kini ia masih melanglang buana dari satu cowo ke cowo lain. Pfuh!!

“Jangan ngomongin nikah, kalo kamu ngga tau nikah itu buat apa,” ujarku singkat tapi menusuk. Aku merasa ada yang perlu segera didesakkan.

“Selama ini, aku sering gonta-ganti cowo. Tapi ngga ada satu pun yang bener-bener bisa bikin aku jatuh cinta sepenuhnya.”

“Emang ngga bisa 100% kan? Itu buat Tuhan,” aku melangkah jauh, menegasikan kalimat itu. Sebab, biasanya aku lebih soft. Biasanya aku bisa mengerti semua kehampaan yang dia maksud.

“Ya. Tapi perasaanku jadi biasa-biasa aja ke semua cowo.”

Nah, ini lebih aneh lagi. Bukannya aku cowo tulen? Kenapa dia mulai menjelek-jelekkan kaumku di depan mukaku? Kenapa dia sangat ingin diakui dengan kemampuan dia menyatakan ‘biasa-biasa aja’.

“Wah, berat kamu. Masa aku kamu samain Kennedy. Aku sama dengan Liddle. Aku sama dengan Joe Petrucci. Masa semua cowo sama?”

“Trus gimana dong?”

Aku mendesah pelan. Setelah menyusun kriteria-kriteria normal seorang cowo yang jelas bisa mengerti maksud cewe-cewe seperti dia, aku pun mendalilkan selontar kalimat sakti, “Kamu tuh ekstrovert!!”

“Apa hubungannya? Ekstrovert apa introvert kan ngga masalah?!”

“Begini, bener kata Shandi Aulia. Dia bilang, kalau kita ngga siap memberi pada pasangan kita, berarti kita belum siap berpasangan. Nah kamu pengennya apa-apa dingertiin. Apa-apa harus sesuai dengan apa yang ada di benak kamu. Semua harus seperti yang kamu inginkan. Sekali-kali berpikir ke luar, dong. Sebenernya, berpasangan itu buat apa? Buat nolong orang kan bisa. Jadi, ada goal eksternal yang bisa gantiin keinginan internal kamu itu.”

Aku lantas bercerita tentang beberapa perempuan yang pernah singgah di dalam hidupku. Bercerita tentang hubungan yang lebih tepat disebut kerja sama, bukan pacaran. Sebab, banyak orientasi sosialnya ketimbang personalnya. Aku masih ingat keberatan mereka, tentang rata-rata dari hari mereka yang tak diperlakukan seperti umumnya pasangan wajar.

Ia terdiam. Sejenak ia ingin berempati pada semua yang aku rasakan. Ia mencoba mengerti apa itu kebersamaan.

“Kamu ngga bisa lupain mereka ya? Kalo aku sih ngga bisa setergila-gila itu,” aku disindir ketat. Ternyata tak semua kalimatku mampu melumerkannya. Ia masih merasa kalau aku memang berbeda dengannya.

“Bukan. Aku bukan tergila-gila. Aku hanya menghormati mereka,” aku memungkasi dialog ini. Aku tak mau tampak seperti seseorang yang ingin dibersamai dalam kenangan, lantas terkesan cengeng dan ingin didukung untuk turut dalam semua bait-bait hari-hari indahku dulu.

Dalam waktu yang berbeda lagi, aku juga bertanya pada salah seorang teman kerjaku tentang perjalanan membina keluarga yang baik. Ia single parent berusia lebih dari 40 tahun. Anaknya hendak lulus kuliah tahun depan. Meski di beberapa hal aku merasa ada yang tak terlalu valid, tapi aku rasa tak mengapa. Sebab, aku butuh komentar dari perempuan-perempuan yang menurutku, tak akan tertarik denganku. Jadi, mereka akan bebas-bebas saja berkomentar dan mempersonalisasikan cowo yang ia maksud ke pembicaraan ini. Aku juga tidak berkepentingan untuk menarik perhatiannya. Semua terasa lebih objektif.

“Kenapa sekarang banyak cerita soal perselingkuhan, ya? Apa di sini emang begitu?” tanyaku agak perlahan.

“Ngga juga. Sebenernya pikiran cewe itu simpel, kok. Kalo cowonya ngga macem-macem, pasti si cewe juga ngga.”

“Tergantung. Banyak juga cewe yang mulai.”

“Semua cowo juga sama. Di rumah manis-manis, ntar kalo udah keluar alasannya yang aneh-aneh.”

“Nah itu. Knapa jadi susah percaya? Kan ngga semua cowo sama.”

“Kita lihat aja. Kalo dia boong, trus dibungkus sama keboongan terus-menerus, berarti si cowo mulai aneh-aneh.”

“Makanya kata Thukul, nyari pasangan yang biasa-biasa aja. Biasanya dia setia.”

“Ngga juga. Banyak yang jelek juga selingkuh. Mending daripada sama-sama selingkuh, nyari yang cakep. Biar anaknya bagus.”

Aku berhenti. Aku over load. Mengapa aku harus bertemu perempuan-perempuan yang tak menginspirasiku untuk membangun keluarga yang baik, saling percaya, dan saling melengkapi? Mengapa mereka malah membombardirkan dengan lusinan kekhawatiran dan ‘kegenitan aneh’ yang hanya melulu ‘mengakukan diri’ tanpa berusaha ‘mengkitakan’ mafhumnya perempuan dan laki-laki yang ditakdirkan bersama.

Dan pagi itu, aku membalas SMS penting, “Sori, smalem pulang dini hari. Jadi aku baca SMS-nya setengah sadar. Udah aja aku trus bayangin kamu lagi nyuci piring.”

Itu yang aku pikir tentang perempuan. Perempuan yang bisa nyuci piring. Kalau ada piring yang dicuci, berarti dia bisa masak. Kalau dia bisa masak, berarti dia mau tinggalkan agenda-agenda pribadinya untuk orang lain. Kalau dia mau tinggalkan keinginan pribadinya untuk orang lain, atau setidaknya berbagi dengan orang lain, berarti dia siap untuk berpasangan; seperti kata Shandi Aulia.