Search and Hit Enter

Perempuan dan Keperempuanan

Foto: Gioiarecs WordPress
Foto: Gioiarecs WordPress

Aku sering berselisih paham dengan seorang kawan soal kadar keperempuanan. Menurutnya, Jane Bennet yang anggun itulah calon ibu dari profesor-profesor Harvard kelak. Kawanku yang ini memang sudah patah arang untuk bersekolah ke Harvard, dan hanya berharap, kelak anak-anaknyalah yang akan meneruskan keinginan itu.

Sementara aku, memilih Elizabeth Bennet, karena aku anggap dia dapat memimpin keluarganya. Ia teguh pendirian, mau larut dalam semua pencarian solusi, dan pionir pengorbanan. Satu lagi, dia sangat menghargai kepedulian.

Kawanku berdalil, “Semisal, tokoh utama di Pride & Prejudice itu Jane mungkin tafsirannya akan berbeda. Karena Lizzie yang jadi peran utama makanya ia tampak dominan.”

Dan ia mengetengahkan alasan tentang Lizzie yang sangat modern tapi belum tentu takzim pada suami. Kawanku takut, meski Lizzie adalah teman bicara yang baik, suatu saat bila dihadapkan pada keputusan bersama dalam keluarga yang penting, ia akan menjagokan gagasannya dengan cara egois. Karena ia pasti akan sulit diajak berkompromi pada pilihan orang lain. Mirip selebriti. Apa enaknya kalau begitu? Pada akhirnya, di saat-saat yang penting, justru istri model Lizzie adalah penghambat solusi keluarga.

Aku menyisir keraguan itu, “Semua perempuan punya kans keibuan. Jadi kita ngga bisa nafikan itu.”

“Ya. Tapi kalau telah berubah menjadi mental. Pasti ini akan sulit.”

“Lawan bicara yang seimbang itu sulit, lho,” lanjutku.

“Semua bisa saja aku yang atur. Jadi aku tak terlalu khawatir bila istriku adalah seorang yang tak begitu paham apa-apa yang dilakukan suaminya.”

“Segampang itukah? Salah-salah malah bisa dominan dan feodal.”

“Istri itu membesarkan anak. Dan bukan malah bersaing dengan suami.”

“Oke. Lantas bagaimana dengan nilai-nilai keluarga yang seharusnya ditanamkan?”

“Ya aku semua yang urus.”

Agak berbeda, seorang kawanku yang lain, punya pendapat sendiri yang baik untuk direnungkan. Ia berpendapat, “Cewe yang tegas itu biasanya memang ngga ekspresif. Ia sulit berbasa-basi seperti umumnya cewe rumahan. Ia kaku bila belum benar-benar kenal. Tapi, biasanya dia ngga neko-neko dan setia.”

Seorang kawanku yang lain lagi berujar, “Cewe yang bermental teratur dan disiplin pasti lebih menghargai dirinya sendiri. Meski mungkin, ia tak dianugerahi materi yang banyak.”

Ibuku lebih asyik lagi, “Ya. Asal si cewe-nya mau aja sama kamu.”

Kalau kata kawan perempuanku, “Asal praktis dan bisa diisi ulang.” Entah apa maksud tepatnya. Aku menganggap, ia ingin memberitahuku, untuk membicarakan hubungan cowo-cewe, yang penting tidak berbelit-belit (praktis) dan fleksibel (bisa diisi ulang).

Ada lagi yang pernah meyakinkanku, “Kalo pacar setia itu ngga ada. Yang ada itu suami setia.”

Ada yang lebih aneh lagi, “Buat orang-orang rasional kaya kamu emang susah mengerti banyak hal di luar rasionalitas.”

Coldplay bertutur, “Nobody said it was easy.”

Berjibun kriteria itu memberondong kealpaanku tentang bentukan ideal perempuan yang wajar, tapi aku nyaman. Itu saja. Selama ini, aku merasa di awang-awang, sering tidak realistis, dan terkadang, merasa menjadi orang yang tidak normal. Aku kadang risih kalau harus berboncengan dengan perempuan.

Terkadang aku bingung kalau harus makan berdua dengan perempuan. Aku seperti meninggalkan banyak orang di luar sana, yang bisa jadi juga membutuhkan jatah makanku. Tapi sebenarnya tak separah itu. Orang-orang di luar sana juga punya privasi masing-masing untuk menikmati hidup, meski mungkin punya kadar permisivitas yang relatif berbeda.

Terkadang aku juga gagap kalau ada perhatian lebih dari perempuan. Kalimat take care untukku membuat imajinasiku melayang. Sama seperti spanduk-spanduk di pinggir aspal Pantura, “Hati-hati, anak dan saudara menunggu di rumah.” Kalimat “Kamu udah makan?” menggiring kelelakianku pada ujung jempol kakiku. Mendadak aku merasa tak hitam, tak jantan, dan tak pantas memimpin. Kalimat, “Udah ngga usah dipikirin serius,” bikin aku kosong, merasa tak cukup mampu menyelesaikan masalah. Mirip iklan, “Enjoy aja!” Aku menganggapnya sebagai kadar keapatisan yang kadang membuatku rikuh pada banyak persoalan yang harus segera dituntaskan.

Atau, itulah hawa keperempuanan. Kata orang, itu feminitas. Atau itukah ‘rumah’ yang dimaksud beberapa orang bijak?

Itu mungkin, mengapa babe atau baby atau honey sering dipakai untuk mengungkapkan panggilan sayang. Kalau pada konteks ini, memang tak lagi ada jarak umur. Tua-muda, bayi-dewasa, remaja-uzur juga sangat mendamba sayang… sangat. Kadang, bapak dan anak pun mesti rebutan.