Search and Hit Enter

Peabo Bryson

If ever you’re in my arms again, this time I’ll love you much better. If ever you’re in my arms again, this time I’ll hold you forever. This time we’ll never end.

Lagu ini nyasar di telingaku Selasa pagi bakda sahur puasa kedua Ramadhan 1429 H dari HP keluaran terbaru seorang kawan. Didukung suasana tenang sejenak setelah aktivitas Subuh semakin membuatku khusyuk mendengarkannya. Sepertinya aku baru mendengar kali itu. Siapa sangka kalau ternyata lagu berjudul If Ever You’re in My Arms Again didendangkan Peabo Bryson, seorang negro berbakat di tahun 70-an. Ia juga sukses me-release A Whole New World bersama Regina Belle, OST Aladdin, dan Tonight I Celebrate My Love bareng Roberta Flack. Deretan lagu di Evergreen Albums.

It all came so easy. All the loving you gave me. The feelings we shared. And I still can remember, how your touch was so tender. It told me you cared. We had a once in a lifetime. But I just couldn’t see. Until it was gone. A second once in a lifetime. May be too much to ask. But I swear from now on.

Ada yang bilang, lagu ini sangat cocok bagi yang ingin rujuk. Soalnya, lirik yang menyesal darah lantaran tak memedulikan indahnya kebersamaan di masa lalu itu menjadi kesimpulan atas isi lagu. Tapi entah mengapa, aku tak merasakan itu sama sekali. Aku tengah mendamba sesuatu yang sama sekali baru, tapi sepertinya, aku pernah mendapatkannya dulu. Bukan de javu. Lebih tepatnya chemistry di alam sebelumnya (mirip logika Sun Go Kong). Ya, aku pernah kesengsem pada semua ini bahkan sebelum aku ada. Heh, hiperbolis!!

Aku mendapatkan rasa ini tanpa banyak berdebat sangka tentang mengapa bisa begini. Semua terjadi dengan sangat gampang. Aku merasa pernah mendapatkan cinta itu dulu. Perasaan peduli yang saling bagi. Keinginan bersama yang tak terbendung, dengan semisal sungsang misterius. Hanya saja, aku tak benar-benar paham semua ini waktu itu. Hingga saat semua tiba-tiba menipis, dan pelan-pelan lenyap, aku baru sadar kalau aku sangat membutuhkan semuanya. Terlalu banyak hal yang aku pikir tak memberiku sedikit energi untuk mengunyah semua hal indah itu. Jelas, aku menyesal!!

Ada yang bilang, itu kekuatan eksistensi persepsi. Maksudnya, sebelum aku bertemu dengan sosok cewe nyata, aku telah membuat persepsi tentangnya. Ia selalu ada dalam benakku. Nah, saat aku transformasikan ke sosok nyata, kekuatan eksistensi persepsi itu masih sangat kuat, bahkan mengingkari kenyataan tentang adanya reduksi persepsi. Aku tetap tersenyum di semua kenyataan tentang sesuatu yang tak sesuai inginku.

Ada yang sinis, dan bilang kalau itu schizofrenia tingkat rendah. Aku tak lagi dapat membedakan, mana khayalan dan mana kenyataan. Aku sering menganggap kenyataan di depanku sebagai tidak mungkin, karena aku punya persepsi ideal tentang cewe yang aku maksud. Aku ridha saja kalau semua tak seiring keinginan. Sebab, aku akan selalu tersenyum dalam membenakkan cewe yang ‘seharusnya’. Sebaliknya, aku juga sering mempersepsikan cewe di depanku sebagai cewe yang memenuhi rongga persepsiku. Kesimpulannya, persepsiku lebih dominan dari kenyataan. Dan aku sangat menikmati kebiasaanku memainkan dan menikmati pikiranku sendiri itu.

Ada yang meyakinkanku, semua itu anugerah. Anugerah karena aku bisa mendapatkan cewe yang aku mau pada kenyataan di depanku. Anugerah karena aku bisa mentransformasikan cewe yang aku maksud pada sosok cewe di hadapanku. Anugerah karena si cewe bisa mengerti tentang apa-apa yang aku ingini soal hubungan cowo-cewe. Meski ada yang marah, “Kalau semua mesti keinginan kamu, itu bukan cinta. Itu egois!!”

Now I’m seen clearly. How I still need you near me. I still love you so. There’s something between us. That won’t ever leave us. There’s no letting go. We had a once in a lifetime. But I just didn’t know it. Till my life fell apart. A second once in a lifetime. Isn’t too much to ask. ‘Cause I swear from the heart.

Bisa saja aku tak pernah mampu berjanji, lantaran aku sendiri terlalu sering merendahkan diriku untuk tak bisa berjanji. Tapi aku sangat bersemangat bila banyak dukungan mengalir padaku untuk membuatku mampu berjanji. Ya, semacam garansi untuk dapat dipercaya. Aku butuh pendukung moral agar aku bermoral. Aku akan menjadi baik bila ada orang baik menemaniku. Pfuh, betapa tak berartinya aku di gelora nisbiku sebagai manusia yang selalu ingin dimengerti keterbatasan dosa dan lupanya.

Bila itu terjadi, aku menganggapnya romantisme yang sangat tentang kebersamaan. Manja dan kurang maskulin, mungkin. Tapi aku tak bisa menyimpan semua ini selamanya. Aku tak bisa selalu bohong bahwa aku sanggup menjadi orang baik. Aku capek mengaku bisa berbuat banyak. Aku semakin merinding melihat harapan yang menggunung, sementara aku tak benar-benar yakin pada semua yang ada padaku. Aku juga terkadang, lupa bersyukur dan berharap, banyak orang selalu memaklumiku.

Hasrat memilikiku tinggi, tapi aku tak berkutik bila aku tak kunjung dimiliki. Klisenya, bertepuk sebelah kaki. Keinginanku untuk dimiliki membuat hasrat memiliki semakin kuat. Teorisasi lingkaran setan yang sederhana tentang memiliki dan dimiliki yang tak bisa dipisahkan. Ia tak dikotomis. Ia bisa semakin menyadarkanku tentang hidup yang penuh pasangan ciptaan Tuhan.

Never end. The best of romances. Deserve second chances. I’ll get to you somehow. ‘Cause I promise now. If ever you’re in my arms again, this time I’ll love you much better. If ever you’re in my arms again, this time I’ll hold you forever. This time we’ll never end.

1 Comment

Comments are closed.