Search and Hit Enter

Ommy Komariah Madjid

Beberapa waktu setelah Nurcholish Madjid wafat, Ommy Komariah Madjid atau biasa dipanggil Mba Omie, istri Cak Nur, diwawancarai sebuah majalah nasional. Sepintas, raut muka itu telah seperti sediakala, tak seperti umumnya perempuan yang baru saja ditinggal mati suaminya.

Aku menilai cepat. Aku menyebutnya, mimik itu mirip penyerahan yang sangat pada kuasa Tuhan. Kuasa Tuhan atas kembalinya Cak Nur ke pangkuan-Nya. Mba Omie tampak sangat meyakininya. Meski aku juga sangat yakin, Cak Nur sebenarnya tak pernah merasa perlu untuk menjelaskan nilai ini secara teoretis selama ini. Sebab, di mata Mba Omie, Cak Nur adalah sosok pemalu yang sangat dekat dengan keluarga; bukan ideolog ulung yang sinis pada dunia.

“Cak Nur hingga meninggalnya ngga bisa betulin genteng yang rusak,” kenang Mba Omie pada keluguan Cak Nur.

Mba Omie bertutur tentang saat-saat pertama mengenal Cak Nur. Ketika itu, Cak Nur datang bersama seorang kawan ke Solo untuk bertatap muka dengan Mba Omie. Bersama seorang kawannya juga, Mba Omie kemudian datang dan menerima ajakan Cak Nur itu. Meski baru sekali ketemu, Cak Nur berkata telah begitu mengenal Mba Omie. Hal yang tentu saja tak lazim di mata Mba Omie.

“Dia emang begitu. Kerjaannya suka klaim-klaim,” jelas Mba Omie wajar, seperti tak lagi ada sekat sedikit pun untuk mengungkap sisi awam Cak Nur. Ya, Mba Omie tak keberatan bila tampak sedikit ‘merendahkan’ sang suami yang sangat jujur itu.

Setelah menikah, Cak Nur juga tak pernah menggagas standar ideologi yang ia mau pada Mba Omie. Mereka memang sering datang bersama pada acara-acara khusus yang meminta kehadiran mereka, tapi Cak Nur tetap saja sosok yang santai, ceria, dan tak rumit di depan keluarga. Nadia dan Mikael, dua buah hati mereka bahkan merasa tidak habis pikir kalau kemudian publik menilai sang ayah sebagai seorang liberal yang sangat radikal bergerbong gerakan pembaruan Islam bersama sederet tokoh penting sekelas Ahmad Wahib, Harun Nasution, Deliar Noer, Komaruddin Hidayat, hingga dianggap sebagai Natsir Muda oleh beberapa kalangan.

Aku kembali bertelaah. Apa yang tengah terjadi di depanku? Seperti biasa, cara berpikir linierku tentu tak selalu tepat. Biasanya, kalau sang suami seorang pemikir ulung dan pewanti ajaran nilai yang rigid, istrinya pasti seorang pustakawati teori, atau setidaknya moderator piawai, untuk menjembatani keberhasilan sang suami mengetengahkan temuan pikirnya dengan kenyataan. Tapi, premis itu tidak berlaku untuk Mba Omie. Bukan karena Mba Omie yang tak mampu berperan begitu. Semua tahi, ia lulusan Fakultas Kedokteran UNS. Untuk ukuran intelektual, Mba Omie tentu saja bisa bergumul bersama gelisah Cak Nur atas perubahan sosial. Dan Mba Omie memilih untuk lebih suka bercanda di kediaman saja. Ia tak perlu bergerilia nilai bersama Cak Nur, meski ia akan sangat bersemangat untuk bersekutu menjalin dunia yang lebih baik. Publik pun menilai, Cak Nur yang gemilang karena didukung oleh keluarga yang harmonis. Mba Omie-lah di belakang semua itu. Juga soal Cak Nur yang sering berbahasa Inggris saat bicara dengan anak-anaknya.

Meski dibesarkan di keluarga yang sangat mengerti pentingnya pendidikan agama, Cak Nur bukan seorang kaya; berbeda dengan Akbar Tanjung. Sebelum Paramadina semegah sekarang, pasca ia purna Ketua Umum Pengurus Besar HMI, kawan-kawannya berpatung uang untuk membelikannya rumah sederhana. Cak Nur kemudian mengkreasi model pendidikan baru untuk kemudian dipasarkan (baca: bisnis pendidikan) oleh rekan-rekan sejawatnya. Dan bergulirlah isu pembaruan Islam dari kampus Islam modern berparadigma moderat yang nasionalis bernama Universitas Paramadina. Universitas yang hari ini terhitung sebagai kampus mahal, dan mulai dipersoalkan perjuangan keislamannya. Kemarin, Anis Baswedan, rektornya sekarang, dikukuhkan sebagai salah satu intelektual terkemuka dunia.

Bisa dimengerti bila kemudian, Cak Nur sebenarnya sangat tidak berpengalaman berurusan dengan perempuan. Apalagi selama ia tumbuh hingga lewat usianya yang ke-30, buku, sekolah, pemikiran, dan gerakan mahasiswa sajalah yang berkutat di kepalanya. Ia menjalani hidup dengan kalkulasi sederhana seorang laki-laki yang juga berkeinginan didampingi perempuan rumahan, meski di sisi lain, ia sangat gelisah mendamba jalan tengah perseteruan Islam dan Barat; juga mengejar ketertinggalan Dunia Islam atas Barat.

Benar, Cak Nur tetaplah manusia yang juga punya sisi inferioritas diri. Keinferioran itu tampak pada ketidakpercayadiriannya menerbitkan tulisan-tulisannya dalam bentuk manuskrip utuh, hingga beberapa kawan mendesaknya untuk tampil sebagai tokoh nasional, melalui tulisan-tulisannya. Ya, semua menggelinding begitu saja tanpa ada niatan sama sekali untuk eksis sebagai trend center, bahkan saat Doktrin dan Peradaban, salah satu karyanya sangat diminati generasi muda Islam. Orang-orang di sekitarnyalah yang menolong dia untuk yakin bahwa sebenarnya dunia memang membutuhkan semua pikiran-pikirannya tentang perubahan, selayak Menuju Pintu-Pintu Tuhan, salah satu bukunya yang mengetengahkan peluang semua orang atas ridha Tuhan. Cak Nur meyakinkan semua orang atas peluang itu, agar tak terburu-buru berprasangka buruk pada keadaan.

Pada titik menegangkan, Cak Nur juga menanam risiko yang tak tanggung-tanggung atas semua buah pikirnya. Bagi beberapa kalangan, Nurcholish memang dinilai berlebihan, rendah diri di hadapan Barat, Neo-Muktazilah (penganut rasionalisme), juga membuat generasi Islam telah tercerabut dari akar nilainya. Di antara mereka juga ada yang ikhlas memberi label Cak Nur, kafir dan halal darahnya. Rasionalitas Nurcholish juga dinilai sebagian kalangan lain mewakili ghazwul fikr (benturan pemikiran) yang merusak akidah dan parsial kaidah keislamannya.

Ia tak surut. Ia terus memberi garis tegas dunia yang profan dan akhirat yang ukhrawi tanpa perlu mencampuradukkannya. Ia mengkritik simbol-simbol agama yang tak bisa memberi kemaslahatan publik; bahkan bersembunyi di balik simbol-simbol itu untuk mendapatkan kekuasaan dan kepentingan pribadi. Ia juga mengetengahkan cara pandang moderat untuk menjembatani konflik. Sebuah pekerjaan yang jelas sangat sulit, baik saat dipikir maupun dipraktikannya.

Kabarnya, Benny Moerdani, seorang tokoh sentral TNI setelah Soeharto di era Orde Baru, pernah bertemu Cak Nur dan mempersoalkan konsep masa depan Cak Nur atas bangsa. Benny resah. Sebab, bila saja semua buah pikir Cak Nur kesampaian, generasi Islam akan berubah menjadi sosok-sosok yang gila kerja, toleran, dan bersatu di depan kesenjangan. Itu yang sangat ditakuti AS, dan mungkin, setara dengan seruan jihad kaum Osama. Selain dinilai Katolik fanatik, Benny juga dekat dengan AS. Ia digadang-gadang AS untuk menggantikan Soeharto ketika itu. Maka wajar ia sangat berhati-hati pada Cak Nur berikut semua pemikiran dan orang-orang yang menganut pemikirannya.

Aku berusaha menyederhanakan semua ini. Bahwa sebenarnya, Cak Nur bisa seyakin itu memang karena ada Mba Omie di sisinya. Sebab, ia tak akan seberani itu tanpa dukungan moral yang sangat dari orang terdekatnya. Sekali lagi, Cak Nur punya keinferioran personal yang hanya bisa ditutup oleh Mba Omie.