Search and Hit Enter

Mohon dan Harap

Aku tak pandai memohon. Persis dengan aku yang tak pintar menyimpan perasaan. Binar mataku gampang dibaca, meski kata orang, aku juga terlalu cepat bergerak. Bisa jadi, banyak yang tahu maksudku di satu waktu, tapi di waktu lain, aku telah banyak berubah. Dan satu hal yang sulit berubah. Aku tetap saja tak pandai memohon.

Derajat keseimbanganku mengecil drastis. Kemerasatahuanku tentang banyak hal saat itu seketika usang. Benahanku tak mujur, entah karena aku yang luput mengira-ngira, atau aku yang tak bisa baca ketidakberkenanan. Sungsang rasanya, bila sedikit beriku tak selurus gejala kuat di kepalaku tentang kebersamaan, yang sepertinya sangat indah.

Benar kata Maminya Lupus, “Pus, kalo kamu sudah berani berharap, berarti harus siap-siap kecewa.” Aku kira, Hilman cuma doyan permen karet saja. Ternyata, ia bisa bertingkah kata lantaran sejarah kelam perjalanan kecewekannya (pas ngga sih, kata yang dipilih?)

Aku jadi ingat Yusril Ihza Mahendra. Suatu waktu ia berseminar di depanku. Ia ditanya tentang peluang suku non-Jawa untuk memimpin Indonesia. Dia lantas bercerita, “Dulu saya pernah ditolak orang tua pacar saya gara-gara saya bukan orang Jawa. Saya kemudian bilang, ‘Pak, kalau saya seorang yang miskin, saya akan bekerja keras agar suatu saat saya menjadi kaya. Kalau saya berpendidikan rendah, saya akan belajar keras agar suatu saat saya bisa menjadi profesor. Kalau saya karyawan rendahan, saya akan berusaha keras agar saya menjadi karyawan teladan. Tapi, kalau saya dilahirkan bukan bersuku Jawa, apa yang bisa saya lakukan?’”

Aku tersenyum simpul. Yusril ternyata pernah sakit hati karena dibedakastakan terkait suku. Padahal, ia kan keturunan darah biru Masyumi. Ia merasa tidak dianggap di keluarga Jawa. Setidaknya ia pernah merasa jadi pecundang.

Ternyata, ada kerennya mendapatkan kesimpulan di awal. Maksudku, menyatakan keinginan tanpa terlalu lama dipikir. Termasuk tawaran antaranku. Aku akan menjadi cepat tahu, apakah aku seorang pemenang atau pecundang.

Terkadang, aku tidak memilih untuk bertahan. Mirip liriknya Celine Dion dari That’s The Way It Is, “Not Surrender, but you can win.” Meski di beberapa hal aku menyukai kata itu dengan berdehem, “Looser!!”

Sebut saja aku butuh merananya Soekarno sewaktu hendak melamar anak seorang Belanda. Ia bahkan harus ditampar karena dianggap terlalu lancang. Belanda itu berpikir, “Bagaimana mungkin, seorang inlander mau melamar seorang netherlander, tuannya.” Untung belum ada film Highlander-nya Christoper Lambert. Atau blender jus yang praktis itu. Pokoknya yang ada der di belakangnya, lah.

Katakanlah aku meminati ke-keukeuh-an Armand Maulana. Aku masih ingat adegan penting saat Dewi Gita menjadi bintang tamu di acara Ngobrol Bersama Indra Safera (Ngobras) dahulu kala di negeri SCTV bahela. Dewi surprised karena tanpa konfirmasi sebelumnya, Armand diundang pula.

Indra bertanya, “Wi, menurut Elo, yang keren dari Armand apa, sih?”

Apa yang terjadi selanjutnya? Dewi tak berkata apa-apa. Ia hanya bisa menangis seharu-harunya. Dan Armand… Armand hanya bisa menyajikan tampang aneh. Lagu 11 Januari di album Gigi yang baru bisa jadi mematrikan semua itu.

Aku terpekur.