Search and Hit Enter

Mohammad Natsir

Lebih dari seabad kelahiran Natsir. Sosok sederhana dengan selaksa nilai tentang hidup yang lebih baik berdasarkan Islam. Seorang pintar didikan Belanda yang tak doyan mobil mewah, tapi pengagum Beethoven. Pria santun dengan pilihan politik yang sangat tegas. Pemimpin organisasi fundamental yang demokrat. Pendidik rendah hati yang sangat bernafsu mengibarkan perkaderan generasi Islam.

Ia jelas sangat dirindukan. Setidaknya, untuk memberi tengadah diri, sebagai cermin atas sebuah kata penting, idealisme. Bukan karena diplomasinya yang menggugah massa selayak Soekarno. Bukan karena akomodasi brilian yang berujung pada kooperasi seperti Sjahrir. Bukan karena cita-cita demokrasi formal tanpa kecuali semisal Hatta. Bukan karena teriakan penegakan syariat Islam yang garang serumpun Al-Maududi atau Sayyid Qutub. Natsir memilih untuk mentransformasikan Islam ke semua sendi kehidupan, termasuk negara, dengan ridha bangsanya yang beragam. Tanpa ridha itu, mungkin Islam yang ia maksud tak akan berguna.

Entah apa yang ada di kepala Natsir, hingga ia memilih hidup seperti itu. Hidup yang penuh dinamika, tekanan, dan kesederhanaan. Hidup yang penuh cita-cita, dialektika, dan kesabaran. Hidup yang penuh tulisan kritis, bicara fokus, dan perilaku teguh. Hidup dengan banyak teman dari bermacam kalangan, bermusuh kediktatoran, dan kontra kemewahan. Bahkan saat berujar hikmah pada istri, anak-anaknya, dan umat tentang jilbab, “Orang yang pakai jilbab itu adalah sebaik-baiknya muslimah. Tapi yang tidak pakai jilbab jangan dibilang enggak baik. Saya tidak melihat manusia dari jilbab.” Sungguh, ia orang baik.

Putra Natsir banyak, meski kekayaannya tak seberapa. Sekuat tenaga ia menyekolahkan mereka ke jenjang yang paling baik. Ia tak setuju anak-anaknya bekerja di perusahaan negara maupun swasta, lantaran takut berorientasi pada keuntungan semata. Ia juga mengajarkan anak-anaknya untuk pandai mensyukuri nikmat yang ada. Bila yang ada saja telah mencukupi, mengapa menggunakan sesuatu yang berlebihan? Apalagi bila sebenarnya semua itu bukanlah hak.

Bila terus-terusan dikupas, sejarah tentang Natsir yang berguna tentu tak akan segera habis. Sejarah itu menyiratkan ketekunan, kejujuran, keteguhan, kesabaran, dan keberanian untuk tetap hidup mulia. Sejarah itu berujar tentang banyak hal sederhana, yang bila disupremasi menjadi pikir, sikap, dan perilaku akan melahirkan aksi yang sangat penting bagi perbaikan zaman. Dan… tentu sejarah yang didasari oleh religiusitas yang berilmu, iman yang beramal, dan dedikasi yang tak hanya untuk sendiri.

***

He know what he want and he believe that he have ability to make it done.”

Aku ingat kalimat itu. Waktu itu aku berkesah tentang menjadi ‘militan dengan aksi terbatas’; diksi memusingkan yang dipilih Goenawan Mohammad di Catatan Pinggir Tempo. Bahwa untuk menjadi militan tak harus berbuat banyak hal yang tampak sensasional. Seorang loyalis juga bisa eksis dengan menggelar aksi sepadan awam dan sesantai umum, meski dengan kode hikmah penuh. Berbuat sederhana tapi membahagiakan khalayak. Memberi sedikit tapi menyenangkan orang-orang yang membutuhkan. Pun bersikap seadanya untuk lawan bicara yang tak suka neko-neko. Yang menurutku, semua itu pekerjaan sulit. Yang bagiku, itu butuh banyak praktik. Sebab, seorang kawan dekatku masih saja melenguh, “Jangan pakai standar kamu semua dong. Hidup kamu itu susah dipraktikkan.”

Betapa susah berdamai dengan pertanyaan, “Kalau sekarang bisnis ngga pakai investor, apa ada pola bisnis seperti yang kamu bilang itu?” Betapa sulit memaklumi pernyataan, “Sebenarnya, aku kasihan sama kamu. Kamu ngga perlu kasihani orang lain. Sebab, yang perlu dikasihani itu ya kamu.” Betapa berat berlutut pada tutur, “Semua yang aku inginkan selama ini, telah ada padamu.”

Suatu malam, ada yang menatapku serius. Tangannya menyentuh pundakku. Aku tak bereaksi apa pun. “Aku mau nikah sama cowo yang baru aku kenal sebulan. Capek pacaran terus. Kamu dateng ya. Bener lho. Aku sengaja pilih waktu yang kamu bisa hadir. Jauh-jauh hari malah.”

Tatapannya bertambah lekat. Kali ini tangannya mendarat di kepalaku. Aku masih belum bereaksi juga. Mataku menatap pisang coklat di depanku, yang sejak tadi belum aku habiskan. Aku berucap, “Pisangnya enak. Tapi ngomong-ngomong, dari dulu makan pisang ini terus.”

Ia tarik tangannya kembali. Mungkin, ia tahu aku tak tertarik membahas ini.

“Ya. Abis aku suka pisang coklat sih,” timpalnya.

“Katanya sekarang kurusan. Bener?” ucapku berputar topik.

“Ngga tau nih. Berat badanku masih fluktuatif aja.”

Jeda sebentar.

“Emang nikah kapan, sih?” tanyaku akhirnya.

“Oktober tahun ini.”

“Knapa ngga dibarengin ultahku aja.”

“Ah, terlalu cepet kalo awal bulan. Yang penting, kamu dateng.”

Aku kunyah perlahan pisang coklat untuk kesekian kalinya. Aku tatap ujung jalan di seberangku. Tak banyak orang berlalu lalang. Benar. Aku sangat dekat dengan perempuan ini. Tapi, mengapa aku tak pernah bisa memaksa insting cowoku untuk setidaknya, berempati pada semua cerita tentang cowo-cowo yang ia maui itu?

“Rambutnya kenapa acak-acakan gitu sih?” keberatannya pada penampilanku.

Aku tak menjawab.

“Sehari ini aku abis duit banyak,” keluhnya. Ia keluarkan dompet, lantas mengecek kertas-kertas yang aku tak merasa perlu untuk meliriknya.

“Aku pernah keabisan duit di jalan. Trus akhirnya jalan kaki. HP-ku mati. Ngga bawa ATM. Dua setengah jam aku jalan kaki.” Maksudku, komentar ini tak perlu diperpanjang. Sebab, banyak orang yang lebih hidup susah di luar sana.

“Trus kalo HP-nya aktif, apa ada pulsanya?!! Kalo bawa ATM, apa ada duitnya?!!”

Aku tersenyum. Betapa selama ini aku memang tak pernah berperan sebagai cowo untuk urusan duit kalau berurusan dengannya. Apa pun itu, pasti dia yang bayar; sejak lima tahunan lalu. Wajar saja kalau aku kehabisan kata.

Dan saat berpisah pun datang. Tetap dengan tatapan mata yang tak pernah berani aku tafsirkan dengan apa pun.

Entahlah. Aku memang keberatan dengan pola hidup yang tak berspirit dedikasi, meski di beberapa hal aku sangat menikmati gaul dengan semua kelaziman itu. Barangkali ini yang aku maksud dengan ketidakmampuanku berpolah umum. Aku berusaha keras bermaklum ria, sementara itu aku juga sangat ingin mengkontribusikan kekurangsetujuanku atas perilaku mereka, termasuk orang-orang dekatku.

Sekali lagi, aku yakin, nyaman itu berarti menganggap wajar semua hal yang bisa jadi, sulit dipertemukan; bahkan untuk ingin yang sangat spesial.

Apalagi kalau bukan tentang diskusi tanpa simpulan, ‘militan dengan aksi yang terbatas’. Andai aku bisa bertemu Natsir saat ini.