Search and Hit Enter

Michelle Pfeiffer

You were my strength when I was weak

You were my voice when I couldn’t speak

You were my eyes when I couldn’t see

You saw the best there was in me

Lifted me up when I couldn’t reach

You gave me faith ‘coz you believed

I’m everything I am

Because you loved me

Celine Dion, pelantun lagu ini, mengusikku sejak lama. Masa lalunya yang indah memberiku semangat menafsir hidup dengan cara baru. Dion lahir di keluarga sederhana. Setelah berkenalan dengan seorang produser aneh yang rela menjual semua properti miliknya untuk membiayai album pertama Dion, ada secercah harapan menjadi top singer masa depan. Beruntung, album ini kemudian dapat diterima pasar. Hasil gandanya, Dion akhirnya menikah dengan si produser, dan sangat berbahagia hingga kini. Dion juga sosok religius yang tak pernah neko-neko.

Banyak hal yang bisa dipetik dari sepenggal cerita ini. Umumnya, tentang tekad dan kebersamaan. Aku berkhayal tentang takdir yang akan menghampiriku serupa kenekatan si produser, yang tentu tak buta melakukan itu, lantaran jelas akan mempertaruhkan masa depannya. Ya, bila saja album itu jeblok, tak ada lagi yang bisa diharapkan dari kebersamaan mereka. Bila semua harus habis-habisan tanpa hasil, kebersamaan akan menjadi ujian yang sangat berat. Tapi, ternyata niatan mereka jauh di atas ketakutan, atau setidaknya hitungan matematis keberhasilan mereka. Mereka mengarung semuanya dengan… kepercayaan.

Aku belum tersadar sempurna saat Power of Love di-release. Aku tahu justru setelah Because You Loved Me. Ketika itu, aku masih SMP. Aku ber-interest kuat tapi tak kuasa banyak karena memang tak tahu banyak. Aku pun rela menatapi kilasan-kilasan film Up-Close & Personal, OST-nya Because You Loved Me, tanpa berkesempatan menonton film komplitnya. Sebut saja, ini chemistry.

Sewaktu Titanic diluncurkan, dan My Heart Will Go On menghiasi hari-hari kelas 1 dan 2 SMA-ku, aku memang terbawa suasana, tapi tak sehebat kesanku atas Up-Close & Personal. Mungkin karena aku tak berhasil suai filmnya; tak ada sewa VCD kala itu. Sementara Titanic berhasil mengacak-acak preferensi publik tentang cinta yang konsisten, plus bisa dinikmati banyak kalangan, berbeda dengan Up-Close & Personal.

Waktu itu, aku juga ke-GR-an saat seorang kawan perempuanku sudi aku ajak nonton bareng. Meski selanjutnya akan gampang ditebak. Ya, usai nonton, aku ungkapkan perasaanku… dan ia hanya tertarik menatapku dengan sudut matanya. Ia tak berpikiran sama sekali kalau nonton bareng itu akan berhubungan dengan ‘jadian’. Persisnya, ia tak bernafsu padaku. Dan… Titanic menyemat kegagalanku atas keinginan didaku. Wajar kalau kemudian aku semakin mencintai Up-Close & Personal.

Setelah semua berlalu, aku baru tahu kalau sisi lain Because You Loved Me justru ada pada kepiawaian akting Michelle Pfeiffer, aktris cantik utama Up-Close & Personal yang ‘Emak-Emak’ itu. Ia cantik bukan karena seksi atau doyan telanjang. Ia cantik juga bukan karena profesionalitas kejurnalistikan yang tinggi di film itu. Ia cantik karena memang merepresentasi ibu-ibu ideal yang tak hanya didamba publik Amerika, tapi juga dunia. Dan… aku, salah satunya.

Lagaknya untuk strict di Dangerous Mind tetap tak mengubah pandanganku tentang kefemininannya yang, ‘Ibu-Ibu’. Peran mantan US Marine yang mengajar anak-anak gengster bukan membuatnya sejajar dengan aktivis sosial; justru menguatkan kesan keibuannya. Aktingnya yang smart dan seksi di Up-Close & Personal bahkan menggiringku untuk yakin bahwa ia pendamba keluarga yang harmonis; bukan pemuja libido yang hedon. Sisanya, lusinan film yang ia perani bertipe sama… Emak-Emak.

Aku sempat kepincut Ashley Judd di Time To Kill; seorang istri pengacara kulit putih yang harus tetap menemani sang suami meski kehidupannya hancur oleh teror, lantaran membela terpidana negro. Tapi Ashley tak pernah muncul lagi. Jadi aku putuskan untuk berpindah hati. Atau, semoga Judd dan Pfeiffer bisa bersanding di kehidupan nyata sebagai ibu-ibu teladan yang selalu dirindukan.

Terakhir, Story of Us bersama Bruce Willis semakin menegaskan kekagumanku atas Pfeiffer.

Aku sempat diceramahi seorang kawan. “Perempuan itu sebenarnya tidak sesulit yang kamu kira. Perempuan itu ya… saat kamu menemaninya jalan-jalan atau belanja. Perempuan itu ya… saat kamu tidak telat menjemputnya. Perempuan itu ya… saat kamu berusaha keras memberi perhatian padanya. Itu saja.”

Atau, ia memang benar. Apa karena kepalaku terlalu larut pada desain Hollywood dan ingar-bingar bangunan ideal teoretikus sosial itu hingga aku tampak sulit larut pada gaya umum? Apa karena aku tak sanggup membangun dunia yang aku mau, lantaran banyak yang tak sesuai dengan kenyataan? Apa drama dan prediksi-prediksi itu hanya kegenitan kait-mengkait agar disimpati banyak orang?

Tapi, bukankah penulis skenario film-film, juga para penulis buku itu, sosok-sosok yang selalu berharap banyak pada orang yang dicintainya, tentang hidup yang akan selalu baik-baik saja? Semua tentu tak akan keberatan bila aku mengutip banyak ide-ide sineas itu. Ya, aku merasa tepat dengan menyebutnya, ide yang akan mendukung semua bayangan hidup, yang menurutku ideal. Meski mungkin, belum benar-benar diterima khalayak.

I’m everything I am

Because you loved me