Search and Hit Enter

Michelle Obama

“Banyak pemimpin Amerika yang bicara tentang perubahan Amerika tapi mereka tidak pernah larut dalam persoalan itu. Amerika butuh pemimpin baru. Pemimpin yang pernah merasakan semua itu langsung dari bawah. Amerika punya Obama,” seru Michelle, istri kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat, Barack Obama. Michelle berusaha meyakinkan ribuan pendukungnya dengan tanpa ragu sedikit pun.

Jauh-jauh hari, Michelle memang tak memilih politik sebagai jalan hidupnya, meski ia lulusan Fakultas Hukum; fakultas yang pernah melahirkan pemimpin-pemimpin AS, seperti Kennedy. Namun, untuk sang suami, ia rela menggalang dukungan publik AS, hingga mencoba mengerti perasaan calon pemilih perempuan, yang tentu saja sangat bisa ia mengerti, beberapa halnya. Itu pula faktor kuat kekalahan Hillary Clinton pada persaingan perebutan kursi kandidat di internal Partai Demokrat. Ya, Michelle dianggap detektor paling kuat distorsi kampanye Hillary yang sering membidik calon pemilih dari kalangan perempuan. Ia kemudian memberikan pemahaman kepada pendukung partai tentang Hillary yang berlebihan. Hasilnya, meski Hillary pernah turut membidani Gedung Putih sebagai Ibu Negara, ia harus rela memberi tempat pada Obama untuk bersaing dengan calon Partai Republik menuju kursi kepresidenan. Ada Michelle di sana.

Dari sisi lain, dalam otobiografinya, tampak jelas bahwa Obama memang bukan sosok yang pandai bernegoisasi dengan perempuan. Ia dan Michelle pernah bekerja dalam satu kantor. Seperti umumnya negro kelas menengah di AS, lantaran tak ada jaminan masa depan yang memadai, Michelle lebih memilih karir daripada berburu kesenangan, termasuk dekat dengan laki-laki. Pantas saja saat Obama berusaha mendekati Michelle, semua menjadi rumit. Hingga kemudian Obama terus menyambangi Michelle ke rumahnya. Obama terus berkumpul dengan keluarga Michelle, dan larut dalam suasana jenaka mereka, meski Obama tak benar-benar mengerti semua itu.

Keberuntungan itu datang. Sesaat sebelum ayah Michelle meninggal, karena sakit kanker, beliau berpesan pada Obama untuk menjaga Michelle. Tanpa berpikir panjang, Obama mengangguk segera. Setelah acara penguburan, Obama lantas melamar Michelle. Entah mengapa, Michelle pun luluh dan menerima lamaran itu.

Obama juga miskin. Selain semua cerita masa kecilnya yang kekurangan, berpindah-pindah, dan rawan didera isu ras, setelah menikahi Michelle, Obama masuk kancah perpolitikan dalam kalkulasi ‘nekat’ setelah lama berprofesi sebagai community organizer. Bagaimana tidak? Ia hanya punya empat orang pegawai yang baru saja lulus kuliah. Mereka masih muda, digaji sedikit, dan punya semangat tinggi mengubah Amerika. Obama hanya punya mobil lawas yang sangat ribet bila harus melanglang dari satu tempat ke tempat lain. Belum lagi sulitnya ia memenuhi kebutuhan keluarga yang terkadang butuh perencanaan hiperketat, baik dana maupun waktunya.

Wajar bila kemudian keluarga Obama tak tumbuh layaknya negarawan atau superstar. Mereka hidup apa adanya dengan tetap menjaga harmonisasi keluarga. Mereka bercita-cita pada kehidupan AS yang lebih baik tanpa inferior di depan semua kesulitan yang mereka hadapi sehari-hari.

Beruntung, Obama punya Michelle. Michelle yang hanya butuh perhatian wajar seorang kepala rumah tangga. Michelle yang akan sangat cuek bila Obama hanya mendahulukan kepentingan negara, dengan melupakan cara indah berkumpul bersama keluarga. Michelle yang tak banyak bicara saat ia dilematis berposisi sebagai pendamping senator AS sesederhana Obama. Ya, Obama memang tak pernah terlibat skandal, tapi impiannya memimpin AS terlalu besar dibanding pemenuhan kebutuhan rumah tangga mereka. Obama memang selalu bersikap sebagai ayah dan suami yang baik, tapi keinginannya untuk mendapat simpati publik AS tidak berbanding lurus dengan dukungan uang yang memadai. Dilema yang akhirnya menyudutkan Michelle untuk terus mencintai Obama.

Obama pernah berpidato di depan para pendukungnya, “Mengapa perjuangan kesetaraan ras ini perlu? Sebab, bila hal ini tidak selesai hari ini, di masa depan kondisi anak-anak kita (kulit berwarna) akan semakin mengkhawatirkan.”

Aku berselisik. Sebenarnya Obama tengah mentransfomasikan semua perjalanan hidupnya yang sulit berikut jalan keluarnya kepada cara pandang Amerika dan dunia. Kalimat serupa dari pernyataannya adalah, “Bila aku tak berusaha memimpin, apa yang akan terjadi dengan anak-anakku kelak. Kondisinya tentu akan sangat sulit.” Ya, kalimat para orang tua. Sejajar dengan ungkapan orang tuaku, “Biarlah hidup kita-kita aja yang susah. Tapi untuk anak-anak kita ngga boleh sama.”

Penjelas turunannya, Obama jelas ada dalam posisi sulit. Tapi ia akan semakin kesulitan bila tidak berusaha keras untuk tampil dominan. Bila mundur, hidupnya akan semakin kacau oleh kompetisi Amerika. Bila diam turut arus, ia akan jadi bulan-bulanan sistem. Maka ia memutuskan untuk ofensif, dan bertarung dengan kemampuan seadanya. Cara pandang ini pun ia rumuskan dari pengalaman hidupnya yang benar-benar dari bawah.

Termasuk saat ia kesulitan menjelaskan duduk perkara ini pada Michelle. Obama terang saja tak bisa berkata banyak atas prestasinya yang baru dikategorikan ‘bertahan’ saat ia mendekati Michelle. Dalam kondisi itu, Michelle akan menganggap semua itu berlebihan alias mimpi di siang bolong. Tapi, sederhana saja. Obama hanya punya keinginan kuat untuk mengubah kondisi, didampingi seorang perempuan pintar yang kuat hati menyeimbangkan banyak hal yang tak dapat dilakukannya sendirian.

Obama menulis, “Terkadang saya juga bercerita tentang masa kecil saya di Indonesia yang jauh dari kepatutan. Aku berkeinginan, suatu saat nanti Michelle dan anak-anak akan saya ajak untuk turut merasakan suasana sawah yang ramai suara jangkrik dan penuh lumpur.”

Betapa Obama sangat sadar bahwa ia ada dalam posisi sulit, dan berharap Michelle mengerti semua itu. Entah, apakah saat itu ia telah berobsesi menjadi Presiden AS atau belum. Yang jelas, Obama benar-benar memilih untuk all out, bila tak ingin hidupnya terus mengkhawatirkan. Ia hanya perlu mendatangi orang Amrik satu per satu untuk menjelaskan program-program politiknya; tanpa rekayasa sosial yang bermodal besar. Hingga bila tiba waktunya nanti, ia akan tampil memimpin dengan dukungan yang solid dari semua kalangan.

Obama dan Michelle. Sinergi yang sangat sulit dimengerti khalayak AS. Mereka hidup bersama di tengah ketidakpastian, tapi berkeinginan pada cita-cita Amerika yang lebih baik. Mereka berjalan di tengah ketidakhabisan pikir orang Amerika, “Bukankah Anda tampak seperti orang baik? Mengapa Anda memilih jalan yang dianggap kotor publik Amerika?” tanya seorang warga suatu waktu.

Tapi… aku sangat menginginkannya.