Search and Hit Enter

Menjadi Altruis

Foto: thepositivepsychologypeople
Foto: thepositivepsychologypeople

Benar jika aku bukan siapa-siapa. Benar pula jika aku terburu-buru mendakukan banyak hal. Tapi sebaiknya, menurutku berbangga pada reputasi moral tentu perkara penting. Bahwa aku bangga merasa dibutuhkan atau setidaknya, merasa pantas menjadi orang yang dibutuhkan. Untuk diri, keluarga, bangsa, negara, agama, dan yang paling penting, Tuhan.

Aku pernah bicara hangat pada seorang kawan laki-laki tentang ketertarikan. Ketika itu, ia kenalkan aku pada seorang perempuan manis dengan senyum rekah yang bersemangat. Kawanku bilang, si cewe telah lama menikah dan punya satu anak cewe berusia sekitar dua tahunan. Dulu, kawanku pernah naksir berat ke si cewe. Namun, karena orang tua si cewe ingin si cewe kuliah dulu, jadi kawanku urungkan niat sucinya itu. Eh, ternyata sebelum benar-benar kuliah, si cewe telah dinikahkan orang tuanya.

Aku tersenyum simpul. Barangkali orang tua si cewe hanya beralasan untuk menolak kehadiran kawanku. Dianggap bahwa kawanku memang tak memiliki kualifikasi yang diinginkan. Dari cara mereka bertatapan, aku bisa rasakan kehangatan yang sepertinya, pernah mereka rasakan dulu.

Aku lantas berkomentar, “Aku juga suka tipe begitu. Penampilannya ngga mewah, tapi ngga bikin bosen. Trus yang penting, setia.”

Kawanku penasaran, “Kok bisa begitu?”

“Kayaknya aku butuh istri yang bisa ngerti kalo sering ditinggalin. Dia besarkan anak sendirian. Jadi jelas aku butuh yang setia.”

“Ya sih. Besok-besok kayaknya kamu memang udah bukan antarkota lagi, tapi antarpulau. Bisa-bisa tinggal di sana 6 minggu, semisal.”

Tapi kawanku berujar hikmah. “Kalau besok-besok kita sering kunjungan, aku malah stand by di hotel. Bareng istriku, dong. Kalo kamu kan istrinya ditinggal. Ha ha….”

Anggap saja itu kelakar wajar orang-orang yang ingin dimiliki utuh tapi tak ketiban keutuhan yang dimaksud. Ketika seseorang sangat membutuhkan perhatian, sementara ia merasa perlu untuk mendahulukan banyak hal, tentu manajemen keluarga adalah hal penting. Aku tentu ingin rengkuh semuanya, agar tak ada cacat atau rasa tak puas yang tak semestinya ada.

Aku setuju ucapan Peter Parker, Sang Spiderman, “Semakin besar kekuatan tentu akan semakin besar tanggung jawab.”

Tapi aku juga ingin menikmati tanggung jawab itu dengan kekuatan yang aku punya. Jadi aku tak perlu merasa kurang dari 100 persen, hanya karena aku tak berkeinginan seperti itu. Jagoan tapi juga bisa normal.

Aku berdeklarasi tentang keakuan yang ingin dimengerti. Kesekadaran pemahaman tentang aku yang merasa dibutuhkan, aku yang akan penuh pengabdian, dan aku yang ingin tetap dimiliki.

Aku disangsikan. Sepertinya aku tak benar-benar benar mendeskripsikan mauku. Kekhawatiranku seputar aku yang berlebihan terwadahi. Seperti tak ada pengaruhnya kalau bahkan kemudian saat ini pun aku telah berdampingan dengan presiden. Tak ada yang lebih penting dari kesepakatan tentang posisi antardua orang yang dianggap, semestinya atau seharusnya.

Aku pernah dalami autobiografi Barack Obama, salah satu kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat. Suatu ketika ia sangat gembira karena telah menyelesaikan beberapa undang-undang yang ia anggap penting bagi keberlangsungan bangsa AS di kemudian hari. Michelle, sang istri, justru menimpal, “Sayang, tolong beliin penjebak semut ya. Cepat, soalnya semut-semut itu sudah sangat banyak di rumah kita.”

Obama hanya bisa melumerkan semua keterpukauannya pada keakuan yang sementara itu, sangat menguasainya. Ia menyadari semuanya. Sadar tentang kepemilikan negara atasnya; juga sadar tentang kepemilikan keluarga atasnya. Dalam biografi itu, ia bahkan selalu membubuhkan kalimat indah setiap kali terdeskripsikan semua kesibukan yang luar biasa itu dengan, “Aku merindukan Michelle.”

Aku lantas berselancar rasa. Dengan mata tertutup tentunya.