Search and Hit Enter

Menikah, Anak, dan Mentalitas Ibu

Beautiful Shot of Happy Family: Pregnant Mother, Father, and Little Daughter at Sunset. Silhouettes. (Foto: Shutterstock)

Dulu aku sering bercanda kalau ada yang bertanya, apa aku sudah menikah. Aku menjawab santai tapi serius, “Udah. Aku udah punya anak satu. Tapi Emaknya ngga mau tanggung jawab. Biasanya kan Bapaknya yang ngga mau tanggung jawabnya. Nah ini malahan Emaknya yang parah.”

Aku menengarai keterbalikan di publik, kalau sebenarnya, tak hanya perempuan yang dirugikan kalau ada perpisahan pasangan, tapi juga laki-laki.

Kalau ditanya soal nikah terkadang juga aku balas, “Aku tuh pengen punya anak sekarang. Jadi kalau besok dia udah besar, aku masih muda. Tapi, aku pengen nikahnya besok-besok aja. Jadi, kalau aku besok udah tua, istriku masih muda. Nah, solusinya harus ada perempuan yang mau pinjamin rahimnya untuk anak itu.”

Seorang kawan berseru, “Biadab!!”

Ha ha…. Sederhananya, aku memang berminat punya anak, meski belum beristri. Terkadang, semisal aku punya orang yang bisa dipercaya mengurus anak, mungkin aku akan mengambil anak asuh.

Bagiku, memiliki anak adalah mentalitas progresif. Sebab, aku akan berinisiatif menyiapkan masa depan dunia ini, meski aku sendiri belum tegak berdiri di zamanku. Mencintai masa depan tentu berbanding lurus dengan kerja keras hari ini. Sebab detik-detik sekaranglah yang akan menentukan hari esok. Semua itu akan dapat menggerus semua kemalasanku.

Anak juga representasi kasih sayang yang tanpa tuntutan kompensasi, apalagi jika aku belum berkeluarga. Dengan memerankan diri sebagai seseorang yang telah siap memiliki anak, ketangguhanku untuk mengabdi tentu akan semakin tinggi; juga rasa tanggung jawabku sebagai pemimpin. Setiap kali membuka kanal kasih sayang, aku bisa meniriskan hasrat lobaku yang mungkin, tak beraturan. Sebab, memiliki anak menggarisbawahi ketekunan yang luar biasa tentang mengajari, memberi teladan, hingga menghidupi.