Search and Hit Enter

Mengerti dan Kemengertian

Empty bus. (Foto: billywatts)
Empty bus. (Foto: billywatts)

Hari merangkak sore. Pada jam-jam ini jalanan semakin padat oleh warga kota yang hendak pulang kerja. Entah, meski silang sengkarut penyiasatan kemacetan telah berusia bahela, transportasi publik kota ini masih saja menyisakan kerut kening pengguna jalan yang selalu serbasalah. Uniknya, masalah yang rumit itu justru mengajarkan toleransi baru; tentang mahalnya harga mobil yang tidak selalu berbanding lurus dengan kelancaran dan kenyamanan perjalanan.

Sejak tadi aku memilih berdiri di sesaknya bus paling diandalkan kota ini. Aku memang tak kuasa duduk bila ada makhluk indah berjenis kelamin perempuan bergelantungan di depanku, berapa pun usianya. Bukan soal moral. Sejak dulu, aku merasa jiwa kelelakianku mendadak hilang bila kemudian aku harus ‘berebut’ tempat dengan kaum hawa, di mana pun. Benar, sudah selayaknya mereka diberi tempat paling baik.

Bus berhenti di halte Bank Indonesia. Seorang ibu bersama anaknya turut masuk dalam jubelan bus, berdiri. Sang anak, sekitar dua tahunan, digendongnya. Sepintas, tampak dari perawakannya, mereka beretnis China.

Setelah bus kembali berjalan, tak ada kejadian mengesankan sedikit pun. Tak ada yang tampak peduli pada mereka. Dan anehnya, sang ibu hanya menatap jauh ke luar menembus kaca bus, tanpa merasa perlu untuk mencari-cari tempat duduk untuk dia dan anaknya. Barangkali, ia telah terbiasa atau merasa tak perlu berepot-repot mendamba fasilitas itu lantaran sering dianggap ‘bukan pribumi’. Sebuah perilaku yang terkadang, sangat meresahkan hari-hariku sebanding dengan kemiskinan dan kebodohan.

Beruntung, sejurus kemudian seorang perempuan tiba-tiba berdiri dan memberikan tempat duduknya pada mereka. Usianya seperempat abad-an dan… berjilbab. Gelagat ini beriring ketidakenakan penumpang yang lain, lantaran mereka tak dapat seempati itu. Sepertinya, ini pertanda baik tentang hidup yang tidak selalu dimaknai berkompetisi atau berhadap-hadapan. Terkadang, hidup terasa mengerikan hanya karena banyak orang yang merasa tak akan kebagian jatah.

Aku terpekur. Apa yang tengah terjadi? Mengapa semua ini berlalu di depan hidungku? Apa yang hendak disampaikan Tuhan padaku hari ini? Drastis!! Hingga detik kesekian aku hanya bisa terharu biru.

Aku menatap tajam ke luar kaca bus, berusaha menerjemahkan semua ini. Aku lantas menolak kuat-kuat semua paham klasifikasi sosial yang selama ini berhasil memobilisasi konflik atas nama apa pun. Sebab, aku melihatnya langsung, tanpa harus berpikir lagi tentang siapa mereka. Aku melihat sapa indah sesama, tanpa tendensi. Ada kebahagiaan memberi tanpa paksaan. Sekat-sekat itu hilang berbaur dengan indahnya kasih. Bersalin kalbu yang sejuk membawa simpulanku pada kebersamaan yang tiada tara atas nama Tuhan. Ya, ini bukan solidaritas atau kemanusiaan. Ini penghambaan di depan Tuhan.

“Ade… bilang makasih ke Tante, ya,” pinta sang ibunda pada anaknya setelah mereka duduk. Lekat mata sang anak pada perempuan berjilbab itu.

“Makacih, Tante,” ucap sang anak lirih. Ia tetap melihat perempuan itu dengan sorot mata tajam, beriring senyum kekagetan sang ibu pada si Tante. Ada perlakuan yang seperti tidak disangka. Ada kepedulian yang mungkin, tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ada keinginan untuk berbagi; bukan karena apa pun, kecuali reputasi yang sama sebagai makhluk di depan Tuhan. Perempuan berjilbab itu pun melepas senyum yang jelas, tak setengah hati.

Anggap saja narasi ini pemancing inginku untuk memantapkan hati tentang indahnya saling mengerti. Kata yang terus menguras energiku untuk sekadar memaknai batasan verbalnya. Perilaku yang semakin membuatku semakin kecil hanya karena aku tak dianggap pantas menyandangnya. Harapan yang selalu ada di luar tafsirku setara dengan ketidakmampuanku meminggirkan kekecewaan orang lain atasku.

Aku bukan berdalih. Aku juga tak tengah meratap. Aku hanya memberi penegasan batin tentang aku yang harus terus berbuat baik dengan kemengertian. Entah berapa banyak kutipan perjalanan hidupku yang tertanam kuat di benakku hingga kini, lantaran aku gagal mengeksekusi kemengertian yang tepat. Meski aku menolak untuk dikatakan traumatis.

Seorang kawan pernah berujar, “Jelek-jelek gini, aku juga punya perasaan.”

Ketika itu aku tak mengerti mengapa aku harus terburu-buru berpaksa ria untuk inginku yang menurutku, tak dikabulkan. Aku mengutarakan keinginanku, tapi aku tak diperkenankan. Artinya, aku harus surut dan berusaha mengenang semua tapakku yang mungkin saja, tak baik atau tak tepat. Saat aku surut, aku justru dianggap tidak mengerti. Aku dinilai tak konsisten pada keinginan. Aku dianggap tak serius.

Bagiku, rumusnya sederhana. Bila aku tidak diperkenankan, tentu aku tak boleh menerabas restu itu. Kalau aku nekat, aku merasa tidak manusiawi. Di akhir cerita, ternyata aku salah. Ada ‘restu samar-samar’ yang harus aku pahami. Semisal aku merasa tidak diperkenankan, bukan berarti aku lantas bungkam dan membuat semua hal seperti tidak pernah terjadi. Sebab, di sisi lain, dengan santun, seharusnya aku mengerti, ada pembicaraan yang tak sampai tentang banyak hal. Jadi, aku tak perlu terburu-buru kalang kabut.

Seorang kawanku yang lain berkata, “Kamu itu pengennya dingertiin. Kapan kamu bisa ngerti orang lain?”

Ketika itu, aku dinilai tak dapat berperilaku ‘umum’. Ada anjuran untuk belajar bersikap wajar agar tak mengawang-awang, sebab hidup itu nyata. Ada fatwa untuk bergabung dengan kehendak khalayak agar tak tumbuh menjadi sosok aneh. Katanya, hidup bersamaku seperti terasing; berbeda dengan manusia kebanyakan.

Padahal, pada saat yang sama sebenarnya aku juga tak merasa ada yang berbeda dengan hidupku. Hanya mungkin, aku punya cara sendiri mengekspresikan inginku yang tak melulu seperti kebanyakan. Justru aku merasa aneh bila bersanding dengan publik, tapi tak tahu untuk apa sebenarnya kehadiranku di sana.

Namun, di akhir cerita, ternyata aku salah mengerti. Aku terlalu dikotomis dan linier. Aku selalu membedakan, ini hidupku dan itu hidup orang lain. Aku selalu memisahkan, ini dedikasiku dan itu dedikasi orang lain. Aku selalu berpikir, kalau asalnya begitu, pasti ia mewakili nilai itu, dan efeknya pasti begitu. Padahal, tak semua hal bisa dinilai linier. Terlalu banyak hal kompleks yang mengiringi banyak kejadian di dunia ini.

Jelas aku bertarung karsa untuk kemengertian. Aku luangkan egoku untuk menempuh kadar kemengertian yang pantas. Aku jibakui semuanya untuk mengiring hidupku yang semoga semakin baik.

Bila pun kemengertian tetap saja utopis di mataku, itu bukan karena semua ini berakhir. Aku menganggapnya batasan untuk akhir yang sempurna. Sebab, aku tentu tak akan bersemangat berpikir dan berburu hikmah bila kemengertian itu sangat gampang dimengerti. Yang paling penting, aku beryakin diri saat ini tentang mengerti yang nyata. Kalau aku mengerti, aku akan berbuat. Kalau aku mengerti, aku akan terus tak enak hati bila ada yang tak berkenan atas semua sikapku. Kalau aku mengerti, aku tak akan banyak berpikir tentang dedikasi. Dan barangkali semua ini cukup menenangkan.