Search and Hit Enter

Makna Kehilangan

Becoming Jane - NYTimes Suatu saat aku menulis, “Terkadang, kehilangan itu sangat indah. Sebab, aku menjadi benar-benar tahu, seberapa berartinya sesuatu. Tanpa kehilangan, aku tak akan pernah tahu… bahwa ada yang memang sangat berarti bagiku. Sepertinya, aku akan dapat mengerti arti penting memiliki bila telah berulang kali kehilangan. Sebab, aku sadar sepenuhnya bahwa aku belum kuasa untuk memiliki sesuatu. Kalau aku telah tahu apa arti memiliki, barangkali bukan hal sulit bila kemudian… aku harus dimiliki.”

Dalam sebuah scene dalam film Becoming Jane, tampak Jane termenung. Ketika itu, ia dan Tom Lefroy, pemuda pujaannya, berhenti di pemberhentian kereta yang pertama menuju London. Ia tengah berusaha lari dari rumah lantaran hubungannya dengan Lefroy tak disetujui. Jane galau luar biasa. Ia tahu bahwa ia sangat mencintai Lefroy, hingga ia merasa perlu untuk mengorbankan etika keinggrisan yang dianggap ningrat di zamannya. Tapi ia mulai dilanda keraguan yang sangat saat tahu bahwa sebenarnya, Lefroy adalah anak sulung yang harus bertanggung jawab pada ekonomi keluarganya, juga biaya hidup adik-adiknya. Tanpa sepengetahuan Lefroy, ia membaca surat dari ibunda Lefroy tentang semuanya.

Jane pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Terang saja Lefroy gugup alang kepalang. Ia yakinkan Jane bahwa ia sangat mencintainya, dan mereka juga saling mencintai. Dengan kuyu, Jane memberi penjelasan,

My sweet friend. You will sink, and we will all sink with you. Our love destroys your family, it will destroy itself. In a long, slow degradation of guilt and regret and blame. It is truth. Made from contradiction. But it must come with a smile. Or else I shall count it as false and we shall have had no love at all.

Jane benar. Bahkan merasa saling memiliki pun tak akan cukup bijak, bila masih banyak hal yang harus diselesaikan. Meski mungkin, ada kesepakatan untuk bersama menyelesaikan semua hal yang harus diselesaikan itu. Banyak orang berpikir begitu. Dengan bersama, banyak masalah akan terselesaikan. Padahal, untuk bersama, banyak orang yang ternyata, juga gelap mata, tak rasional, dan yang penting, meninggalkan keluarga.

Suatu waktu, kegagalanku menjadi seseorang yang dimiliki, tanpa restu keluarga atau alasan lain, aku maknai sebagai ketidakmampuanku menjadi sosok kaffah. Sebab, aku tak akan bertemu masalah bila aku mampu seimbangkan kepentingan saling memiliki dan keluarga, atau norma kecintaan dengan norma kemasyarakatan tentang kesantunan atasku. Aku yang dituntut untuk bisa berdamai dengan banyak hal, tak dapat melihat semua itu sebagai hal wajar, saatnya terjadi, atau memang layak dianggap keseharian. Dulu, aku bahkan berujar kezaliman atas strata sosial yang menurutku, sangat tidak manusiawi. Aku merasa, perlakuan orang-orang yang tak merestui aku dimiliki adalah sikap yang tak pantas.

Aku surut juga. Ternyata masih berlimpah hal yang harus aku pelajari. Aku menuntut kesalehan yang sejatinya keliru. Aku pernah yakin bahwa dunia akan gampang ditundukkan bila aku telah punya hubungan saling memiliki. Aku pernah pasrah pada kebengalanku menerima aliran keakuanku tentang kelebihsukaan di atas segalanya, bahkan menghardik kalimat umum, “Kamu bilang cinta kan sekarang. Besok-besok kamu udah susah maknai cinta kalau udah ketemu banyak hal di dunia. Ngga ada cinta seumur hidup!!”

Tiffany, seorang penyanyi pop kenamaan di era 90-an berdendang:

All the world is crazy anyway… Whats it matter what they say… If Im the one that’s wrong… Then let in be my mistake… If love is blind… I’ll find my way with you… Cause I can’t see myself… Im not in love with you… If love is blind… I’ll find my way with you….

Tapi, Sofie, seorang pop singer yang lain, agak beralis tinggi dengan berlantun:

I’m honest not untauchable… I’m a woman but not free… I’m fighting for my honour… and i’m not so quickly pleased… I’m honest not untauchable… and i don’t like second touch… but i know that since the day i do… It’s gotten out of hand… I love you….

Tak ketinggalan, Vanessa Williams juga bertutur:

And now were standing face to face… Isn’t this world a crazy place… Just when I thought our chance had passed… You go and save the best for last

Oke. Terlalu banyak aku mereferensikan sesuatu. Banyak yang bilang, itu kelemahanku.