Search and Hit Enter

LK II HMI Pekalongan dan Revolusi

Ilustrasi. (Foto: Motortrend)
Ilustrasi. (Foto: Motortrend)

Suatu ketika, Jumat-ku terasa agak berat. Setelah Shalat Jumat aku berangkat ke Stasiun Senen. Rencananya, aku hendak membeli tiket kereta bisnis Senja Utama jurusan Semarang.

Ada LK II HMI di Pekalongan. Seperti biasa, aku diminta bersuara tentang ideologi; sebuah diksi yang sangat aku yakini perannya, tapi belum kembali aku rujuki kebenarannya, hanya karena terpaksa ‘kejar setoran’.

Sebenarnya, aku sangat kapok dan berniat untuk tak menaiki kereta sejenis, lantaran dulu, aku pernah berdiri empat jam di dalamnya. Ketika itu, saking penuhnya, benar-benar tak ada tempat bahkan pun hanya untuk duduk.

Tapi biarlah. Barangkali, sebutan paling tepat untuk upaya ini adalah, belajar tidak traumatis. Ya, bisa saja semua tak serumit yang aku kira bila aku berusaha keras memecahkan jalan keluarnya dengan sedikit usaha.

Semisal, membeli tiket lebih awal. Semisal, mengakrabi crowd itu. Semisal, berteriak dalam hati, “Setelah umurku lebih dari 25 tahun, ternyata Indonesia masih saja seperti ini.”

Kata Budi Gunawan, seorang kawan di HMI, penyakit orang tua itu ada empat. Pertama, suka membanggakan keturunan atau orang lain. Kedua, terlalu khawatir pada apa pun. Ketiga, traumatis. Keempat, sangat bersemangat bicara masa lalu.

Aku memang tak suka membanggakan siapa pun, tapi aku gampang kesengsem pada keseriusan; yang berarti bahwa aku sangat gampang membanggakan orang. Aku memang sering tak khawatir pada apa pun, tapi aku serba-belingsatan bila harus menemui kebuntuan kalkulasi; yang berarti bahwa aku sulit berserah diri atau sering khawatir.

Aku memang mengaku tak traumatis, tapi cetakan sejarah sangat membentuk cara pandangku. Sebab, hari ini tak akan ada tanpa hari kemarin. Aku tak akan bisa berpikir singkat, “Lupakan saja.” Artinya, aku sangat sulit berpisah dengan masa lalu.

Nah, aku juga tak pernah surut berburu hikmah atas sejarah; yang berarti selalu bicara masa lalu. Lengkap sudah kriteria yang dimaksudkan Budi. Ya, aku telah bermental orang tua. Semoga saja orang tua yang baik.

Setelah sedikit ragu, aku memilih Metromini 15 ke arah Stasiun Senen. Biasanya aku lebih percaya pada busway ketimbang yang lain, lantaran berasa di negeri paling membutuhkan keteraturan. Tapi, kali ini aku memutuskan untuk berbeda. Agak kental hasratku untuk berbaur dengan semua kelompok sosial bangsaku. Kemarin aku melumat Menuju Republik Indonesia karya Tan Malaka tahun 1925.

Beberapa saat aku naiki angkutan publik yang full teriakan dan derit onderdil asal jalan itu, jalanan pun macet. Aku tak tahu. Ternyata jalur si-15 ini harus menyusur jalan-jalan macet ibu kota; rute yang tak bisa ditolak.

Dan beberapa lama setelahnya, ada tiga orang laki-laki naik berbarengan plus berteriak-teriak pada penumpang. Intinya, mereka minta uang.

Aku berpikir cepat seputar langkah yang paling tepat dalam kondisi ini. Kulirik, hanya ada dua atau tiga cowo selain aku, sementara yang lain adalah ibu-ibu dan perempuan kantoran yang jelas tak bisa aku perhitungkan.

Aku blank. Dengan lunglai, aku pun merogoh kantongku. Oh, andai aku punya pistol hari ini. Jelas, aku serasa tak sepenuhnya laki-laki. Yang paling parah, aku tampak sangat takut mati; tak beriman sama sekali. Semoga aku tengah dirasuki pembenaran ekstra, “Mungkin ada cara lain untuk menyelesaikan problem seperti ini. Mereka juga bagian dari bangsaku.”

Aku berjalan gontai memasuki areal Stasiun Senen. Aku tak bersemangat lagi pada kajian revolusi di kepalaku yang akan membawaku ke Pekalongan. Apa yang aku dapat? Benar juga. Loket yang aku maksud ternyata tutup dan baru buka jam empat sore. Pfuh!!

***

Sebelum Magrib aku kembali bertandang ke Stasiun Senen. Kali ini dengan bus yang lain. Semoga sebelum dini hari aku telah sampai ke Pekalongan. Jadi, shalat Jamak Takhir Magrib dan Isya bisa ditunaikan. Sebab, aku belum pernah tempuh perjalanan ini sebelumnya. Dengan kereta, maksudku. Dan saat senyumku mampir di Mba-Mba penjaga loket, ternyata kursi keretanya penuh. Apa boleh buat. Berat sekali hidup nasionalis di negeri sendiri.

“Hei!! Mau ke mana?” seorang laki-laki menyapaku agak jauh dari tempatku berdiri.

Setelah kuamati wajahnya, ternyata ia kawan HMI-ku yang lain. Rumahnya dekat Salatiga. Dulu saat masih kuliah, dia penolongku sewaktu searching rumah sosok penting di Salatiga, dengan kehujanan dan nyasar. Parahnya, ia baru mengenal orang yang aku maksud ya saat ketemu rumahnya itu. Momentum yang selalu indah di mataku.

“Ke Pekalongan. Ada LK II,” jawabku agak sumringah. Mungkin dia anugerah pertamaku hari ini.

“Ooo. Sebenernya, aku mau balik minggu depan. Tapi ternyata emang perlu dimajuin,” ujarnya kemudian.

“Itu namanya takdir,” jawabku sekenanya.

Semua pun menjadi lumer. Tiba-tiba Jakarta menjadi tak sesulit yang aku bayangkan setengah hari tadi. Kawanku yang ini hendak pulang untuk operasi usus buntu. Realitas penting yang sangat membuatku untuk tetap bersyukur. Bahkan di dalam kereta, ia berbagi tempat duduk denganku.

“Oke. Akhir minggu depan, kalau ngga ada masalah, aku ke rumah kamu,” akhirku sebelum kereta berhenti di Stasiun Pekalongan. Tentu saja, setelah dia dioperasi.

Ia tersenyum.

***

Aku belum memejamkan mataku sedikit pun. Semalam, saat di kereta, aku berusaha keras membuat skema gerakan hingga kereta sampai di Pekalongan.

“Bang, kita-kita ini masih mahasiswa. Sepertinya, konsep Abang sangat sulit dilaksanakan,” respons seorang peserta LK II pagi itu agak nyalang.

Aku menatapnya tajam. Bukan hendak marah, tapi agar aku tak salah tangkap maksud. Setelahnya, aku mulai menjejalkan semua kengerian dan keinginanku untuk hidup yang jauh lebih baik. Tak ada senyum dan tawa sedikit pun. Bahkan hingga hampir satu jam berlalu.

“Gagasan revolusi itu ditentukan oleh realitas tentang perlunya revolusi, bukan sebaliknya. Realitaslah yang menentukan ide, bukan ide yang menentukan realitas. Jadi, kalau revolusi tidak berhasil, tidak perlu menyalahkan siapa pun. Artinya, ide revolusi tidak lahir dari realitas tentang perlunya revolusi.”

Ruangan senyap.

“Sama seperti kamu ditolak cewe. Jangan bilang cewenya yang salah. Itu berarti, gagasan tentang mencintai itu tidak lahir dari keinginan si cewe untuk dicintai. Kamu yang ngga bisa tangkap realitas itu. Kamu ngga bisa deteksi keinginan itu. Kamu gagal menafsirkan sunatullah. Kamu gagal menebak dialektika yang dimaksud kaum Marxis.”

Gerr!!!!!!!

Akhirnya suasana menjadi renyah. Tanya jawab pun berdesing silih berganti, hingga lewat tengah hari. Dan tentu saja, kemudian forum diakhiri. Syukurlah, di akhir waktu bicaraku, banyak yang mulai bersemangat untuk melakukan sedikit hal yang mungkin, akan signifikan bagi negeri ini.

Pekalongan menyemangatiku. Aku juga sempatkan bertemu beberapa kawan, yang jelas terhitung orang penting dalam kehidupanku. Ada yang hanya ingin menyapa. Ada yang hendak menikah, dan sangat senang aku perkenalkan cara berinternet yang efektif. Ada yang telah jadi Bunda dan gembira saat aku sampaikan, membuat buku itu gampang. Sang suami hendak menulis buku, tapi ia tak tahu banyak. Ia pelukis, punya sanggar, dan bertekad bisa menerbitkan buku panduan melukis, meski sayang, ia belum meluluskan kuliahnya.

Tapi begitulah. Senang rasanya didamba. Senang rasanya dimiliki.