Search and Hit Enter

Klan Terkasih

pride_prejudice “I cannot fix on the hour, or the spot, or the look, or the words, which laid the foundation. It is too long ago. I was in the middle before I knew that I had begun,” Mr. Darcy’s said.

Just take a look, di akhir Pride & Prejudice, Mr. Darcy sangat kesulitan menjelaskan klausul mengapa semua ini terjadi. Padahal, Lizzie Bennet, si penanya, adalah perempuan rasional, pembaca ulung, pengamat yang cekatan, dan pembenci keangkuhan. Ia tentu ingin jawaban tegas seorang Mr. Darcy dalam kadar kewajaran keperempuanan; yang memang sangat ingin dihargai sebagai sosok indah, dan penghargaan itu bisa dipahami.

Aku tak bisa pastikan persis tentang apa yang dimaksudkan Jane Austen seputar scene ini. Tafsirku atas sepotong kalimat itu, meski ia pejuang kesetaraan perempuan di zamannya, tapi ia juga seorang perempuan yang sangat ingin disanjung, memimpikan kenangan tentang itu, juga menjadikan kenangan itu sebagai bagian jiwanya. Mungkin pula, itu penyangga kuat, bahkan hingga di akhir hayatnya ia memilih untuk tak menikah.

Aku memang terkagum-kagum pada Austen. Semacam hal yang wajar bila kemudian aku berusaha keras memasukkan semua nilai yang diyakini Austen ke dalam hari-hariku, termasuk kalimat-kalimat penting dalam novelnya.

Austen (1775-1817) lahir di Steventon Parsonage, Hampshire, Inggris. Sebuah desa pertanian yang sangat indah. Ketika menulis Pride and Prejudice sepanjang tahun 1796-1797, si Cantik yang sangat mengerti perasaan dan karakter orang Inggris ini, harus bertarung dengan penyakit paru-parunya yang mengerikan. Ia juga harus menunggu beberapa tahun, hingga penerbit yakin bahwa novel ini memang layak jual. Meski pada waktu itu, penulis novel perempuan dianggap tidak etis.

Awalnya, menurutku Pride & Prejudice, hanya tentang kisah biasa keluarga menengah di Inggris dengan lima anak perempuan. Tapi lama kelamaan, beberapa kali aku simak, aku pun berubah pikiran. Lekat di mataku gambaran persis semua persoalan yang sering dihadapi perempuan pada umumnya. Memilih pasangan hidup yang sesuai, menikah paksa, pembatalan nikah, nikah lari, berikut semua pernik ketakutan wajar seorang perempuan yang fisiknya tidak sekuat laki-laki, tidak punya kuasa atas warisan, hanya menunggu dilamar, dan solidaritas keluarga.

Aku juga menjadi tahu cara mengungkapkan kelebihsukaan tanpa harus meninggalkan semua idealitas pikir dan kepribadian. Hidup tidak sesederhana mendapatkan kebanggaan, tapi juga kesungguhan untuk mengabdi pada orang-orang yang dicintai. Austen bisa membangun nuansa kebanggaan sebagai perempuan dalam satire indah, yang bagiku, tak cengeng serta sangat rasional.

Aku juga baru tahu kalau ternyata, setelah filmnya dibuat, tahun 2007 kemarin, Gramedia menerbitkannya dalam bahasa Inggris. Belakangan, aku menghadiahkan Keangkuhan dan Prasangka pada bungsuku di Gontor. Terakhir, dia bilang kalau ustazah di tempatnya pun tertarik.

Aku semakin tahu latar belakang pembuatan Pride & Prejudice, berikut socio publik Inggris ketika Austen masih hidup. Socio di mana Inggris benar-benar imperium penguasa dunia.

Aku mulai bertanya pada google dan sederet nama penting yang aku tahu dapat menyelesaikan masalah. Ternyata, tak ada yang tahu, kecuali baris-baris kalimat berbahasa Inggris yang disajikan beberapa situs dari google dan mailing list yang aku ikuti; milis pencinta novel klasik di Inggris. Ya, di Inggris, novel-novel Austen dijadikan bacaan wajib kalangan sekolah dasar dan menengah. Rumahnya juga dimuseumkan oleh pemerintah Inggris. Jadi, betapa beruntungnya aku bila baru kali ini aku mengenalnya. Ke mana aja, kemarin?

Mungkin itu pula alasanku menulis Klan Terkasih atau keluarga tercinta. Semirip ‘pinjam legitimasi’—istilah yang aku setujui bersama seorang kawan, saat menyepakati bahwa kekuatan reporter justru pada kemampuannya memancing sang narasumber bicara seperti yang ia maui. Sepertinya pernyataan itu lahir dari sang narasumber, tapi sebenarnya ia hanya melanjutkan apa yang dimaui sang reporter.

Jadi, anggap saja aku memang tak begitu paham pada apa yang aku mau tentang Klan Terkasih. Tapi aku tahu pasti kalau aku harus menulis semua ini. Aku tahu bahwa aku akan bisa mengkriteriakan semua yang aku mau, setelah aku banyak menulis. Prasangkaku tentang sesuatu akan bermuara pada kemampuan bersikapku atas apa pun. Sebab, aku tak akan berani menyimpulkan sesuatu, tanpa alasan yang kuat. Apalagi bila harus berhubungan dengan jiwa yang lain.

Aku katakan kalimat Mr. Darcy di awal tulisan untuk sedikit menjelaskan klausul inginku atas maksud Klan Terkasih, meski sekali lagi, tak akan bisa mewakili semua hal yang ada di benakku. Aku pinjam legitimasi atas nama Mr. Darcy hanya untuk meminjam emosiku saat aku sedikit tengarai maksud Austen menuliskan itu, dan yang jelas, belum tentu benar. Aku hanya memaksa justifikasiku untuk membenarkan semua yang aku tafsirkan itu dalam konteks hari-hariku saat ini.

Longbourn adalah nama rumah indah keluarga Bennet. Di sana, Lizzie besar bersama Jane (personalisasi Cassandra, kakak Austen), Kitty dan Lydia yang centil, serta Mary yang cerdas, rasional, dan tak suka pesta. Aku tak tahu persis mengapa di Inggris, rumah harus diberi nama. Mungkin, untuk keluarga menengah yang memiliki areal perkebunan cukup, semua tanah itu memang perlu diberi nama. Semacam reputasi khusus tentang klan. Tapi yang penting, aku sangat berkeinginan, kelak kalau aku punya rumah, aku juga akan menamainya. Mungkin pula aku menamainya… Longbourn.

Tak ada arti khusus yang bisa aku temukan atas kata longbourn. Sebatas kemampuanku, lantaran di kamus tak ada, aku menerjemahkannya dengan long itu lama dan bourn aku sederhanakan menjadi born atau kelahiran. Longbourn berarti kelahiran yang lama. Maksudnya, adalah hal susah melahirkan sesuatu yang sangat diimpikan, seperti keluarga. Sekali lagi, mungkin itu yang dimaksud Austen. Sebab, hanya keluargalah yang menemaninya hingga ia wafat, tanpa suami.

Dan benar, seperti ucap Mr. Darcy, “Aku merasa telah di tengah sewaktu aku sadar bahwa aku memang pernah memulainya.” Sebab, bukan kali ini saja aku bermaksud serupa. Maksudku, tentang semua tulisan, ingin, negoisasi, dan barangkali kesepakatan tentang apa pun.

Sebelumnya, Lizzie bertanya, “How could you begin? I can comprehend your going on charmingly, when you had once made a beginning; but what could set you off in the first place?”