Search and Hit Enter

Keras Kepala

Suk yen aku dadi presiden, wong sing kaping pisane tak pateni yo wong-wong koyo kowe. Soale gawe ‘pecah ndase’ wong liyo. Lha sing dirembuk mesti sing angel-angel,” ujar seorang kawan sinting di LPM Pabelan UMS. Aku memanggilnya, Raden.

Raden punya tipikal unik. Ia sparing partner-ku yang tak tanggung-tanggung. Sewaktu aku masih digadang-gadang beberapa senior untuk memimpin Pabelan, Raden mendukung tindak-tandukku sepenuhnya. Bareng kawan yang lain, aku bahkan pernah keteter tidur di trotoar saat reportase majalah gagal perencanaan.

Raden pekerja keras. Aku pernah diajari dia untuk menyisir kasus friksi PSB PS milik Yayah Kisbiyah dan pegiat seni UMS hingga ke Hanindawan, salah seorang seniman tersohor di kota Bengawan. Naluri ini tanpa instruksi, dan tanpa rapat redaksi. Bekerja bersamanya seperti ini terasa eksotik. Karena, banyak sekali tekanan yang kemudian sangat aku suka. Ia pernah berfatwa, “Reportase itu formalnya. Informalnya, ya seduluran.” Itu aku pegangi hingga kini.

Saat di forum aku mengantongi banyak perseteruan dengan Raden. Ia penganut empirisme yang merestui konflik terbuka di masyarakat, sementara aku lebih humanis. Makanya tak heran bila isu yang digelontorkannya agak-agak supranasional. Terkadang anti-Cina, kadang memusuhi asing, kadang sangat marxian. Dan aku lebih politis. Bukan lagi rahasia kalau aku dan dia banyak cakap di pewacanaan seputar kebobrokan sistem dengan pola Macchiavellian di pihak Raden dan sedikit eufimis di posisiku. Meski harus aku akui, tetap kesejahteraan rakyat banyaklah tujuan semua itu.

Saat aku memimpin Pabelan, ia tak mau masuk ke dalam struktur pimpinan. Ia memilih untuk masuk di jajaran staf Litbang agar dapat menggagas regenerasi Pabelan dan perkaderan media ala nasionalis-kerakyatannya. Ia tak ingin tampil sebagai pemimpin dengan akuntabilitas yang barangkali, menurutnya berat dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Maklum, ketika itu ia tengah berusaha mengentaskan diri dari belitan krisis ekonomi keluarganya. Saat itu, aku tak bisa berbuat banyak.

Hingga kemudian, di tengah kepengurusan, ia menyatakan untuk hengkang dari Pabelan, karena aku merestui acara makan-makan pasca terbitnya tabloid ke-3 periodeku yang memangkas biaya hingga 600 ribuan itu. Ia kecewa padaku lantaran memelihara tradisi hura-hura, tanpa berempati pada kegelisahan rakyat banyak yang kurang makan. Aku lebih dari maklum. Sebab, dari hari ke hari, Raden merasakan kepedihan itu, mungkin hingga di tulang sumsumnya.

Sing goblok kuwi yo kowe!!” itu kalimat saktinya saat meninggalkanku sendirian untuk mengawal dinamika intelektual mahasiswa di Pabelan. Aku menyerah. Aku tak dapat mencegahnya pergi. Aku tak dapat memaksanya untuk tetap di Pabelan. Aku percaya kalau semua akan baik-baik saja. Sebab, Raden bisa diandalkan.

Praktis, tak ada lagi yang bisa mengingatkanku. Kalau versi Dwi-Tunggal Soekarno-Hatta, tak ada lagi yang bisa memanggil Soekarno, “Bung!!” saat Hatta memutuskan untuk hengkang dari pemerintahan. Aku pun berdiri sendiri. Sama seperti Soeharto yang tak punya patron lantaran waktu itu, yang berseteru adalah PKI dan Nasution. Ia lahir menjadi pemimpin transisi, yang sebelumnya sama sekali tidak diperhitungkan oleh pihak mana pun.

Di jauh waktu, Raden tetap saja mengunjungiku. Terkadang, di tengah malam ia datang dengan segudang analisis tentang pergerakan ekonomi yang didominasi Yahudi dan etnis China. Ia menyumpahi pemerintah yang tak pro-rakyat. Dan tak lupa, ia bertanya tentang keadaan Pabelan dengan sungging santai, pertanda ia hanya berkepentingan bertanya padaku, tanpa keinginan untuk mengoreksiku lagi.

Terkadang, ia hanya ingin mengajakku makan soto kwali, karena ia bisa menghabiskan tiga porsi sekaligus, lantas bicara masa depan Indonesia. Intinya, semua visi yang ia dendangkan padaku sangat nasionalis dan berpihak pada rakyat miskin. Sedikit demi sedikit, aku pun terasah. Sebab, HMI terlalu birokratis dan cenderung mendidikku sebagai pejabat atau politikus. Bersama Raden aku lebih membuka perspektifku tentang pentingnya aksi riil di masyarakat; bukan hanya merapat pada fungsi-fungsi elite pemerintahan, tanpa peran signifikan sebagai problem solver.

Raden memang menganggapku keras kepala. Tapi di ujung pernyataan pedasnya, ia sangat percaya padaku. Ia tak ingin berselisih terlalu lama karena ia tak ingin memperkeruh persoalan, lantaran ketika itu, aku lebih berwenang mengambil kebijakan, sementara ia ada di pihak yang berbeda atau bahkan, beroposisi. Ia menyerahkan semuanya padaku dengan selusin argumen yang tentu saja akan menggelisahkanku. Dan benar, aku pun belajar banyak dari cara Raden me-manage kekeraskepalaanku.

Suatu ketika, aku pernah bicara pada seorang kawan tentang masa depan, memilih istri, atau sekali lagi, menerima semua kenyataan pahit dengan tertawa. Semua memang masih rumit, tapi tentu tak segampang itu merendahkan diri untuk tidak dapat menyelesaikan persoalan.

Kalau firman Allah, “Manusia tidak akan diuji lebih dari kemampuannya.” Bahwa semua punya kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Jadi jangan terlalu menghardik diri untuk berkesimpulan bahwa masalah lebih besar dari diri kita. Itu mungkin, berkah dari keras kepala. Atau… hikmah dan anugerah yang aku dapat dari pilihan kata… keras kepala.