Search and Hit Enter

Karier Gigi dan Cara Bersama

Majalah Tempo pernah mencuplik keberhasilan Gigi, pelantun Angan hingga Kembalilah Kasih, pasca AMI. Ungkap Armand, ada tiga hal yang membuat mereka tak tanggal personel. Pertama, “Kami hidup untuk musik; bukan bermusik untuk hidup.” Kedua, “Manajemen tak berpikir bagaimana menjual Gigi sebanyak mungkin, tapi berpikir bagaimana Gigi tetap eksis.” Ketiga, bisa memisahkan urusan band dan keluarga.

Aku punya versi lain tentang Gigi yang jelas dari dulu aku kagumi. Semua masih sangat jelas di kepalaku. Sepertinya, detik demi detik perjalanan Gigi bisa sangat aku mengerti, berikut kegalauan wajar mereka sejak menanjak karir hingga kini. Sepertinya, aku selalu kesengsem dengan semua yang ada di mereka, termasuk saat aku mulai bosan dengan mereka. Ya, aku merasakan muatan emosi yang lebih dalam, daripada sekadar bermusik.

Armand telah 37 tahun, dan hampir 15 tahun menggawangi band yang punya personel gila skill itu. Bila lirik percintaan Gigi di-hide, aku samakan mereka dengan Dream Theater, minus kibordis. Terkadang, mereka rela meminjam sound Metallica, meski Armand tak semenyedak Hetfield. Terkadang, aksi mereka sangat mellow, mirip Bon Jovi, meski Bujana tetap jazzy. Terkadang, aroma rock mereka yang kental bisa bersinergi dengan lirik religi, meski Bujana penganut Hindu.

Seradius itu pula aku belajar banyak hal dari mereka. Dari awal, setahuku, alasan pemilihan nama Gigi adalah lantaran background aliran musik masing-masing personel yang bermacam. Ketika itu, Gigi hadir dengan komposisi bermacam aliran musik yang diharmonisasi. Bila Dream Theater mewakili Amerika yang selalu ingin meridhai banyak ras (personel mereka berdarah AS, Italia, Korea, Rusia), Gigi mewakili perbedaan ala Indonesia yang multikultur dan agama. Simpul mereka ada pada misi penciptaan musik berkualitas dari masing-masing personel yang sekali lagi, sangat menggilai skill.

Sewaktu Baron memutuskan lebih berkonsentrasi pada sekolah gitarnya di AS, Gigi agak guncang. Bukan karena kualitas musik mereka yang tiba-tiba pincang, tapi lantaran soliditas mereka yang mulai cacat. Mereka kehilangan sebagai teman seperjuangan. Di saat mereka berkesempatan untuk rekaman pertama kalinya, Baron merasa perlu untuk belajar lebih serius lagi.

Bagiku, keberanian Baron untuk berhenti dalam kondisi band yang menggembirakan adalah prestasi besar. Ia tak silau pada keberhasilan ini, karena ia merasa, tak lebih tangguh dari Bujana, tenyata. Ya, untuk membangun harmonisasi, barangkali bukan pekerjaan sulit bagi Baron. Tapi, dominasi aransemen Bujana di album pertama Gigi membuat Baron perlu membangun diferensiasi.

Saat Thomas ‘diberhentikan’, karena kecanduan drugs, Gigi berada pada simalakama akut. Bagaimana tidak? Bila Thomas tetap dipertahankan, schedule Gigi akan berantakan. Dan bila Thomas diskors, warna musik Gigi tentu akan berubah. Bila berhentinya Baron justru membangun karakter sound pada racikan jazz-rock, perginya Thomas akan menghilangkan stabilizer beat Gigi. Yang lebih parah, Armand sangat dekat dengan Thomas secara personal.

Ketika Ronald memutuskan untuk pergi juga, karena ia merasa stagnan di band ini, dengan kaki mereka yang tinggal tiga, semakin membuat Gigi harus berevaluasi cepat. Sebab, Gigi hanya menyisakan Armand dan Bujana. Bagiku, kebosanan Ronald terhitung wajar, karena ia menganggap Gigi lebih surrender daripada all out. Armand dan Bujana yang memang ingin tetap mempertahankan eksistensi band (baca: cari aman dalam kondisi sulit) pun kalang kabut dan susah melarang niat kuat Ronald. Lagu Damainya Cinta pun terasa sangat mengharukan. Itu komitmen Ronald untuk terakhir kalinya.

Gigi akhirnya tertatih-tatih. Armand bahkan menjual mobil kesayangannya untuk menomboki album 2 x 2 yang jeblok di pasaran. Hingga setelah Budi Haryono dan Opet bersumbang peran pada beberapa album, kembalilah Thomas menghadirkan emosi lama Gigi tentang musik berkualitas. Waktu itu, Thomas bilang, “Man, gue ngga yakin jari-jari gue masih bisa pegang bass.” Armand tetap ngotot. Dalam beberapa bulan kemudian, penampilan Armand yang biasanya paling nyentrik pun disesuaikan dengan style Thomas, agar ia yakin dengan kemampuannya. Seloroh ibunda Thomas menjadi penting, “Thomas itu penakut.”

Datang pula Hendi yang akhirnya membekap semua kekhawatiran tambal sulam personel Gigi. Mungkin, ini formasi yang terakhir. Sebab, Hendi bertugas memberi simpul ketiga personel lama yang sangat idealis dalam bermusik. Hingga kini, Hendi tak perlu mengejar skill selayak Ronald, dan ia cukup membersamai semua irama itu. Hasilnya, Gigi pun awet dengan seabrek idealisme bermusik mereka.

Ada yang lebih penting. Semua personel Gigi tak pernah berlagak rock star seperti umumnya musisi kenamaan. Mereka hanya ingin diakui sebagai musisi; bukan yang lain. Tapi, mereka juga sangat dekat dengan pencinta musik, meski mungkin, tak semua adalah Gigi Mania. Pada saat konser 11 Januari digelar di Jogja kemarin, Bujana bahkan unjuk kebolehan bergitar dengan menyanyikan lagu Slank di depan penonton berbendera Slankers. Menurutku, sangat rendah hati.

Aku juga tahu, usia Gigi sepantar dengan usia pernikahan Armand dengan Dewi Gita. Bahkan Bujana mungkin telah lama ‘melupakan’ Mayangsari. Tak ada ekspose besar-besaran tentang kondisi keluarga Thomas atau Hendi. Ya, Armand pernah meminta maaf pada semua istri personel Gigi, bila selama ini waktu mereka habis di tur, daripada keluarga.

Waktu silih berganti… Begitu pun kisahku, Manis

Tersenyum simpul hati… saat menatapi dirimu