Search and Hit Enter

Justissica

Sore itu, kulangkahkan kakiku melintasi gedung-gedung sekolahan bertingkat. Terpampang besar di pintu masuknya tulisan, Wacana Keilmuan dan Keislaman. Entah apa maksudnya. Yang aku tahu, gerbang itu terkadang terlalu angkuh untuk orang-orang yang hanya sempat berburu dan meramu remah-remah perutnya.

Aku tak lagi berpikir panjang. Seorang kawan memintaku cuap-cuap di sekitaran alam mahasiswa. Tentang norma-norma yang terus mengimpitku untuk terus bicara. Masyarakat Madani, media society, independensi, oposisi, egalitarian, keadilan sosial… dan masih banyak lagi.

“Eh, Kang,” sapa seseorang di ujung koridor menyambutku.

Aku tak mengenalnya. Sepertinya, ia salah satu dari penyelenggara. Rambutnya ikal. Bila bicara, tatapan matanya mirip DN. Aidit, Ketua Umum PKI yang naas, tergulung nafsu revolusioner instan. Cara berjalannya meyakinkan, setangkup dengan desas-desus tentang keinginan mulianya, menyatukan organ gerakan mahasiswa se-Solo Raya. Selintas lalu, aku percaya padanya. Setidaknya, dari cengkok suaranya yang hiperdangdut.

Beberapa saat kemudian, ia pun memroses kehadiranku di sana. Sedikit briefing, memastikan ketercukupan sarana, dan sedikit pesanan tentang forum yang akan sangat berarti bagi masa depan Indonesia. Betapa sulit memenuhi semua keinginannya. Kebahagiaanku melihat forum-forum ilmiah seperti ini saja sudah tak terkira. Apalagi memandang optimisme tentang hidup yang lebih baik. Sekian kalinya aku bersyukur.

“Aku perlu all out karena tengah berhadapan dengan orang-orang penting,” awalku membelah suasana saat membuka forum. Aku berharap, mata-mata itu tak lagi mengeksekusiku, lantaran semua kepenatan telah terbagi. Ya, tentang kebersamaan mendamba perubahan sosial.

Dengan kecepatan ekstra, sekitar satu jam suaraku memenuhi ruangan. Aku selalu bergairah untuk hal-hal seperti ini. Sedikit celaku, aku tak pernah berpikir apakah apa yang aku sampaikan dapat dimengerti atau tidak. Sekali lagi, berkumpul untuk membicarakan perubahan saja telah menutup semua suuzanku atas siapa pun dan apa pun.

Andai aku boleh jujur, sore itulah aku rangkai harapan besarku atas republik, setelah sekian lama aku tak merasakan semangat mengabdi. Detik demi detik yang terlewat di ruangan itu seperti terus menggaransiku, tentang akan datangnya hidup yang jauh lebih baik. Momentum ini sebanding dengan kongkow-kongkow-nya Cokroaminoto, Soekarno, Semaun, dan Kartasuwiryo. Dulu, mereka satu rumah. Di zamannya, mereka telah mengimpikan negeri yang dapat terlepas dari keterkungkungan dan dominasi orang per orang. Di zamannya, mereka telah mengusung sketsa negeri yang dapat berdiri di atas kaki sendiri. Di zamannya, mereka sangat yakin pada kekuatan tekad mereka.

Geliat bicaraku makin menjadi saat dialog yang terbangun penuh canda tawa, pertanda optimisme di tengah ironi dan paradoksi. Aku bisa kesurupan, kalau terus-terusan begini. Aku ceria alang kepalang. Bagaimana mungkin, forum yang baru aku datangi pertama kali seperti dapat menjadi simpul kegerahanku atas banyak hal, selama ini. Mengagetkan dan menyusulkan banyak dukungan berarti. Aku merasa mendiami tempat yang telah lama aku nantikan.

“Coba untuk ulangi apa yang terjadi… Harap ‘kan datang lagi… Semua yang pernah terlalui… Bersama alam menempuh malam… Walau tak pernah ada kesempatan… Terjebak dalam jerat mengikat… Namun tekad nyatakan bebas….”

Pure Satuday menggiringku untuk melantunkan bait-bait penenang. Band sederhana dengan sederet lirik bersahaja itu memang menginspirasiku, selain Radiohead. Semirip kelakuan yang tiba-tiba merasa terjebak pada keberuntungan. Mendalih tentang bahagia yang tak terduga. Menyusun pembenaran atas ketiba-tibaan yang tak lekang oleh waktu.