Search and Hit Enter

Jack, Bob, Ken, dan Aku

Aku menonton Thirteen Days.

Kebijakan quarantine telah diterapkan. Kennedy menyetujui gagasan Menhan AS, Robert McNamara, untuk memblokade Kuba. Caranya, di seluruh garis batas maritim AS berjejer kapal-kapal induk US Navy untuk mendeteksi semua kapal dari Kuba yang hendak merapat ke AS, kemudian meminta semua kapal itu untuk kembali ke Kuba. Quarantine ditempuh setelah puluhan rudal nuklir penghancur ditanam Soviet di Kuba untuk menghancurkan AS.

Sebenarnya ada cara lain, yakni serangan udara atau bahkan invasi. Namun, Kennedy tak menyetujuinya. Ia memang tak suka perang. Ia bahkan memilih ketegangan luar biasa itu. Sebab, rudal akan sampai hanya dalam hitungan 5 menit. Artinya, percuma saja bila quarantine diberlakukan sementara moncong rudal telah diarahkan ke Washington dan hanya menunggu untuk diluncurkan.

Skenario evakuasi terhadap keluarga istana pun disosialisasikan. Bermacam tahap dipelajari dan dipersiapkan untuk memberi dukungan moral bahwa semua tetap akan selamat. Jadi, kekhawatiran hanya ada di lingkaran satu kabinet, tentang rudal yang akan sampai di AS hanya dalam 5 menit. Evakuasi setangguh apa pun tentu tidak akan bisa mengelak dari kecepatan rudal. Sebenarnya, skenario evakuasi itu tak ada gunanya dalam praktiknya nanti.

Kenneth O’Donnel, Asisten Khusus Presiden, meraih gagang telepon. Ia menghubungi Hellene, istrinya, untuk mungkin, terakhir kalinya berbicara. “Sayang, tolong jaga anak-anak kita. Jangan sampai TV mati, hingga aku kabarkan padamu TV perlu dimatikan.”

Sang istri bertanya khawatir, “Lantas kau ada di mana? Aku tak akan pergi tanpamu.” Selama ini, ia memang sering sendirian mengurus kelima anaknya yang tentu saja sering tak bisa diatur, ketimbang penurut.

“Aku bersama Presiden,” jawab Ken pendek.

“Oo… bagus ya. Sementara aku mengurus kelima anak kita, kau bisa aman bersama Presiden,” hela Hellene bernada kecewa. Biasanya ia sangat bisa mengerti posisi Ken. Tapi, untuk kali ini, ia tak lagi bisa menoleransinya.

“Bukan, Sayang. Kita tak akan biarkan hal buruk akan terjadi.”

Sang istri pun menangis sesenggukan. Ken lantas menghibur dengan sedikit garansi. “Aku yakin keadaan akan membaik. Sebab, Jack (John F. Kennedy) dan Bob (Robert Kennedy) adalah orang-orang pintar.”

Di tengah derai tangisnya, sang istri masih sempat menjawab kalimat itu, “Kau juga pintar.”

Kenneth O’Donnel adalah Manajer Pemenangan Pemilu-nya Kennedy. Mereka bersama sejak masih sekolah di Fakultas Hukum Universitas Harvard. Bersama Robert Kennedy yang ketika itu menjabat Jaksa Agung, ketiganya mengarsiteki kepemimpinan Partai Demokrat di White House. Dalam banyak hal, Ken tidak hanya diposisikan sebagai pengatur schedule kepresidenan tapi juga penasihat politik bagi Presiden.

Soliditas ketiganya sangat sulit diretakkan meski dengan isu politik sekuat apa pun, hingga Kennedy terbunuh di tahun 1963. Juga kematian Robert Kennedy yang hanya tinggal dilantik menjadi presiden setelah JFK. Ternyata, banyak yang tak suka pada Kennedy’s.

Ada cerita lain tentang kekuasaan dan uang bagi ketiganya. Saking kayanya, hingga meninggal, JFK tak mengambil gaji kepresidenannya. Sewaktu Ken mengantar Bob ke kedutaan besar Rusia untuk melakukan lobi terakhir agar tidak terjadi Perang Dunia ke-3 (masih pada konteks Krisis Kuba), mereka berdialog di dalam mobil. Ken bersedia mengganti posisi sopir istana dan praktis, di mobil itu hanya ada mereka berdua. Padahal, sebelumnya mereka baru saja saling marah karena saling curiga ada pengkhianatan di antara mereka.

“Aku tak tahu apakah bisa menyelesaikan ini,” ucap Bob agak khawatir.

Dengan sungging lebar Ken menimpali, “Aku tak bisa berharap pada orang lain atas keselamatan nyawa Hellene dan anak-anakku.”

“Terkadang aku tidak tahu untuk apa semua ini. Sebenarnya, aku benci dibilang sebagai yang terpintar atau yang terkejam.”

“Aku tak tahu kalau kau. Kalau aku untuk uang,” Ken melirik Bob, “bukan, apa kau tidak ingat bahwa kita merasa lebih baik dari yang lain.” Komitmen mereka, kehadiran di politik adalah karena orang lain tak terlalu mampu berbuat banyak.

Seperti yang diketahui, lobi itu kemudian berhasil. Soviet akhirnya mau menarik semua rudalnya dari Kuba setelah ada kesepakatan bahwa AS juga akan menarik rudal Jupiternya dari Turki. Dan perang besar pun urung terjadi.

Saat sarapan, Ken menangis di pelukan Hellene. Ken berkata, “Everyday that the sun comes up says something about us.” Benar, semua akan baik-baik saja.

Yang lebih penting, benar kata Hellen bahwa Ken juga laki-laki pintar… sebanding dengan Jack dan Bob.

Aku iri berat pada Ken. Ia sangat beruntung.