Search and Hit Enter

Ikrar Menikah, Sebuah Episteme

Sinar matamu pancarkan kedamaian… yang slama ini kita impikan. Lirih suaramu taburkan kesejukan. Besar artinya untuk diriku

Lembut sikapmu hadirkan kehangatan… yang slalu ingin kuungkapkan. Manis senyummu getarkan jiwa ini. Abadilah adanya dirimu

Damainya cinta untukmu… yang takkan mungkin hilang… semua. Lembutnya cinta untukku. Kan kupeluk slamanya.

Agungnya cinta menunggu di sana. Raih dengan hati yang terbuka

Terkadang, aku kesulitan mengakhiri tulisan. Aku ingin tinggalkan kesan sapa yang maksimal. Aku ingin punya diferensiasi kuat atas semua tulisan-tulisanku yang pernah ada. Pasalnya, aku sangat tidak ingin tampak membosankan.

Bila kemarin aku menulis, sekarang menulis, dan esok (semoga) tetap menulis, tampaknya keinginanku untuk terus berharap keajaiban pada semua tulisanku itu tak akan sirna. I want to be the next you, mirip lagunya Leigh Nash dalam album ‘Blue in Blue’, eks vokalis Sixpence None The Richer yang kini bersolo karir. Aku suka cara dandan dan rambutnya.

Barangkali pula ini momentum sakral, saat aku memutuskan untuk merasa perlu beranjak ke titik hidupku selanjutnya. Ini bukan tentang hidup dari bawah yang terus ke atas, kemudian berbenturan pada keniscayaan hidup yang berputar—kadang di bawah kadang di atas—atau sejarah yang bersiklus. Ya, aku tak menganggapnya sebagai ‘tingkatan hidup’. Aku hanya merasa berpindah dari titik satu ke titik lain.

Titik baru itu adalah ‘belajar hidup bersama’. Tentang kebanggaan pada kebersamaan khusus. Tentang berpikir (think) dan mencari hikmah (the thing). Tentang ‘mengerti dan berbagi’ dan bahwa ‘kasih itu tak sulit’. Juga tentang harapanku pada kesempurnaan realitas yang dibangun atas keduanya.

Bahkan Rasulullah ingin diselimuti Khadijah usai dibaiat Jibril perihal kerasulan beliau. Rasul resah, apakah benar apa yang diucapkan makhluk Tuhan pembawa wahyu itu. Ia bertanya pada Khadijah untuk setidaknya, mengurangi keresahan luar biasa beliau. Artinya, wajar bila aku menaruh kebimbanganku pada porsi yang tak tanggung-tanggung bila hendak melangkah pada titik hidup baru yang aku maksud.

Yang tak kalah penting, aku serasa di atas kenyataan wajar. Serupa dengan aku yang tak perlu berbesar diri lantaran dari SD hingga SMP prestasiku di sekolah hanya menuai sekali berangking dua. Sisanya, selalu nomor satu. Ketika itu aku tak lantas menganggap semua itu sesuatu yang pantas dikompensasi. Aku hanya merasa perlu menjalaninya dengan wajar.

Sepersis kenyataan bahwa aku tak mungkin bisa menembus STPDN dan STAN—keinginan ortuku usai aku lulus SMA—lantaran aku tak tahu menahu semua akses yang semestinya aku lalui. Benar, aku bocah dusun yang tak begitu tahu, bagaimana bersekolah yang ‘tepat’ pasca-SMA. Dan aku datang ke UMPTN tanpa impian besar Harvard atau setidaknya, UGM. Aku hanya merasa perlu untuk menjalani semuanya; berikut sederet harapan ortu menjadi anak yang berguna.

Sewajar aku pimpin HMJ IESP dan LPM Pabelan dengan voting mutlak. Sementara bahkan pun aku tak pernah mengimpikan sebelumnya, sedikit pun. Aku hanya tertarik pada semua desain kebijakan makro yang terus ada di tangan menteri-menteri; juga seabrek dahsyat reportase. Aku duduk di kursi yang menurut beberapa kawan, justru memperuncing keapaadaanku; bukan membuatku berubah menjadi tamak kekuasaan.

Saat itu, aku tak pernah menyusun visi tentang Ketua HMJ yang kelak akan berpolitik di pentas nasional, karena HMJ adalah basis massa riil. Ketika itu, aku tak pernah nekat berkehendak bahwa memimpin Persma akan memosisikanku sebagai aktor penting penentu kebijakan, kelak. Semua hanya aku jalani dengan rutinitas yang sangat membuatku merasa ‘ada’.

Sepantar dengan apa yang aku jalani kini. Terkadang, aku sangat meyakinkan diri untuk tidak silau, meski aku duduk sederet dengan tokoh-tokoh politik, ekonomi, pendidikan, budaya nasional. Terkadang, aku menghardik diri untuk tidak terkesima pada artis, musisi, dan pesohor, meski bahkan aku bisa menatap mereka dengan nuansa ‘biasa saja’. Dan terkadang, aku hanya terhenyak pada sosok-sosok semirip anchor Metro TV.

Benar, semua berjalan begitu saja.

Lihatlah, aku mengawali tulisanku dengan lirik Damainya Cinta milik Gigi.

Berbaris tafsir tentang cinta pun kemudian mendatangiku. Cinta yang damai untukmu; yang takkan mungkin hilang. Dan lembutnya cinta untukku; akan kupeluk selamanya. Cinta agung itu tengah menunggu di sana. Aku ingin meraihnya dengan hati yang terbuka.

Aku seperti Mr. Darcy dalam Pride & Prejudice yang tiba-tiba merasa telah berada di tengah-tengah cerita. Entah apa yang membaiat realitas ini, termasuk sejak kapan aku berpikir tentang ingin dan praktik kebersamaan itu, persisnya aku telah mengenal sosok penting yang membuat tulang rusukku ‘sakit’. Sebab, bisa jadi ia adalah tulang rusukku yang sengaja pernah diambil-Nya. Sebab, jangan-jangan itu memang makhluk bernama perempuan; yang ditakdirkan untuk menenangkanku di dunia ini.

‘Bersama’. Setelah bergelut dengan terminologi dan reputasi ‘mandiri’ ternyata aku bertatap pada kebersamaan yang penting. Kalau kata seorang kawan, “Butuh partner untuk membesarkan calon-calon profesor Harvard.” Kalau kata seorang kawanku yang lain, “Ada seseorang yang bisa bikinin kopi enak.” Kalau kata salah tiga kawanku, “Bila pulang kerja ada seseorang yang bisa ditatap dan menghilangkan semua kepenatan yang ada.” Kalau kata kawanku yang lain lagi, “Butuh seseorang yang tak bisa disebut alasan mengapa seseorang itu harus dibutuhkan.” (additional explain: semua tokoh ini belum laku—kesahihannya belum teruji)

Ya, mandiri kini berujung pada kebersamaan yang lebih bermaslahat. Tak ada penjelas khusus atas ini. Selama bersama, masing-masing tak bisa hidup wajar tanpa kebersamaan. Sebab, semua terjadi atas kehendak yang sulit diterjemahkan; hanya bisa dirasa. Mungkin itu sebabnya ada terminologi ‘fitrah’. Makanya kebersaman itu untuk beribadah kepada-Nya. Sebab, dedikasi pada selain-Nya hanya akan membuat kebersamaan itu absurd.

Bila hidup terasa sulit—sebab kalau pun tak dianggap sulit juga tak akan sulit—kebersamaan bisa menjawabnya. Sangat mungkin bila suatu saat hidup terasa sangat miskin, sangat tidak terhormat, sangat membosankan, sangat menyebalkan, sangat mencurigakan, sangat merepotkan, sangat mengerikan, sangat…. Semua itu dapat dihadapi dengan berbagi. Dan hidup tak lagi terasa sulit.

Berbeda itu wajar. Jadi, biarkan saja. Karena aku yakin pasti ada kesamaan yang kemudian hadir untuk melengkapi perbedaan itu. Ada keberbedaan tentu ada kesamaan. Keduanya berkelindan meyakinkan dunia tentang indahnya perbedaan… dan kesamaan. Perbedaan dan kesamaan salah satunya dapat tersimpul dalam kepercayaan dan janji bersama tentang ketidakmenyesalan atas kebersamaan ini. Apa pun yang terjadi, semestinya terlewati dengan ridha masing-masing; bukan justifikasi poin masa lalu yang tak perlu. Tak perlu karena hari ini memang terjadi karena masa lalu. Jadi, masa lalu adalah sebab yang tak bisa dihilangkan. Tak perlu karena masa lalu dapat disandarkan hikmah hari ini, untuk menatap dan menjalani hari esok. Sekali lagi, menyesal atas kebersamaan jelas hal yang tak perlu.

Terakhir, ridha Allah adalah tujuan kebersamaan. Detik demi detik tersusun atas harapan besar untuk menghilangkan murka dan menjadi makhluk Tuhan yang taat. Bukan hanya saat shalat berjamaah di masjid, tapi juga saat ‘shalat’ di keseharian. Bila shalat diawali dengan basmalah (dengan nama Allah), berarti semua desah hidup didedikasikan ke DIA. Berarti, uang, kekuasaan, status tak bisa dianggap sebagai dedikasi hidup.

Bukan hanya saat berpuasa wajib atau sunah, tapi juga saat ‘puasa’ di tengah kemiskinan. Bukan hanya saat berzakat fitrah dan mal, tapi juga saat ‘berzakat’ atas hidup yang hanya sementara; untuk Tuhan. Bukan hanya saat berhaji ke Baitullah, tapi juga saat ‘berhaji’ menyelesaikan problem kemasyarakatan yang ada di sekitar.

Finally, aku berdoa memiliki Longbourn, rumah keluarga Bennet. Rumah indah berisi makhluk-makhluk cerdas, rasional, centil, hingga tak suka pesta. Yang paling penting, karena dialah rumah itu, adalah hal susah melahirkan sesuatu yang sangat diimpikan, seperti keluarga… dapat menemaniku hingga dunia berakhir; dalam kondisi apa pun dan sebagai siapa pun.

Di luar itu, seorang kawan angkat bicara.

“Tidak semua keinginan dapat terwujud. Karena itu, dalam bahasa kita mengenal kosakata ‘kecewa’.”

Itu kalimat pentingnya. Kalimat ini bisa berlaku universal; untuk semua orang. Ia juga sangat penting bagi si pengucap; karena ia meyakininya lantas mengabarkannya pada orang lain. Dan kalimat ini jelas sangat penting untukku. Ya, kecewa adalah representasi keinginan yang tidak dapat terwujud. Namun kekecewaan menjadi sangat wajar bila pada kenyataannya, kecewa justru simpulan atas keinginan yang tidak dapat terwujud.