Search and Hit Enter

Hilman Lupus

Suatu ketika Lupus sukses menjahili seorang cewe, siswa baru di sekolahnya. Tanpa dinyana, bukannya marah, si cewe malah bersemangat menjadi teman Lupus. Terang saja Lupus terisak-isak darah. Ia malu bukan main kalau kelakuannya malah berbuntut anugerah. Tapi, setelah ia lirikkan mata sebelahnya, dan diikuti mata sebelahnya lagi, ia kaget tujuh kali berturut-turut. Ternyata, si cewe sangat rupawan. Yah, daripada tiap hari nungguin tukang siomay yang suka naikin harga semaunya, mendingan jalan-jalan bareng teman barunya itu. Begitu pikir Lupus.

Belum lagi matahari terbit di hari selanjutnya, Lupus dan teman barunya telah bergelak layaknya sohib yang telah saling kenal puluhan tahun lamanya. Saking lengketnya, si cewe tak sempat marah meski stok tebakan Lupus menipis. Padahal, apa kerennya Lupus tanpa tebakan?

Beberapa minggu kemudian, si cewe mengundang Lupus datang ke rumahnya. Entah apa yang ada di benak si cewe, tapi yang pasti ia tak bosan dengan mimik Lupus yang sok serius tapi kadang innocence itu.

“Pus, jangan sampai telat, ya. Aku tungguin kamu,” ujar si cewe dengan senyum lebar. Si cewe lupa kalau Lupus biang telat. Guru BP sekolahannya sampai speechless tiap kali akan memberi nasihat ke Lupus. Bagaimana tidak keterlaluan kalau sebulan kemarin saja, ia cuma sehari tepat waktu. Itu juga gara-gara Maminya minta dianterin ke dokter gigi abis Subuh. Takut ngantri panjang, katanya.

Mendengar ajakan si cewe, Lupus hanya bisa komat-kamit, dan kemudian… mengangguk pucat. Baru kali ini ia didamba sampai segitunya. Maminya saja paling banter cuma ingatin agar cepat pulang. Itu pun lantaran tugas bersihin got depan rumah dan WC tiap harinya.

***

Waktu yang ditunggu pun datang. Sejak sore si cewe supersibuk. Rambut panjangnya ia cabik-cabik mirip baru saja ketumpahan adonan kue bolu. Tindiknya ia tumpuk di kuping, hidung, alis, sampai dagu. Baju belelnya yang baru saja dicuci ia paksa kering. Maklum, hanya baju itu yang bisa bikin dia PD. Tak jelas apa yang dia mau malam ini. Tapi sepertinya, ia hanya tak ingin tampil wajar di depan Lupus.

Jam enam berdentang. Si cewe mulai duduk di ruang tamu. Ia baca majalah-majalah bekas di meja. Ia putar lagu-lagu melo zaman Diana Ross sampai Christina Aguilera. Sesekali ia melirik pintu. Sesekali ia melihat jam. Sesekali ia berdiri, lalu duduk lagi. Sesekali ia membetulkan dandanannya di depan cermin kecil sebelah wastafel. Sesekali ia pasang telinganya. Jangan-jangan ada yang mengetuk pintu lamat-lamat, dan dia tak mendengarnya. Sesekali ia meringis, cuma ingin pastikan apa ada biji cabai di giginya. Semua sesekali itu kalau dikumpulin jadi banyak kali. Kali Ciliwung, Kalideres, Kalimalang, Kalifornia….

Semenit… dua menit… 30 menit… 1 jam. Tak ada perubahan keadaan sama sekali. Ah, mungkin Lupus kena macet. Maklum, Jakarta memang belum sembuh dari penyakit ini. Selain banyak preman, banjir, dan sampah, macet masih sangat meresahkan kota megapolitan ibu kota Republik Indonesia ini.

Semenit… dua menit… 30 menit… 2 jam. Tetap tak ada tanda-tanda makhluk ajaib itu akan muncul. Apa yang terjadi? Sudah pukul 8 malam. Jangan-jangan…. Ah, mungkin Lupus sakit perut gara-gara kebanyakan makan mangga tetangga sebelah.

Semenit… dua menit… 30 menit… jam 9. Tet!!!! Si cewe pingsan. Tak ada alasan lagi.

***

Esok harinya, di sekolah, Lupus sama sekali tak disapa si cewe. Bukan main sakit hati si cewe. Setiap kali bayangan Lupus melintas, tak jemu ia buang wajahnya. Hingga tak ada lagi yang mau terima buangan wajah itu. Tapi Lupus masih saja nekat. Ia keluarkan semua jurus mabuknya. Tetap saja si cewe bergeming.

Setelah darah terakhir… Lupus pun melempar handuk. Ia menyerah.

Si cewe mulai bertatap tajam. Ia mendidih seakan mau meledak. Entah apa jadinya kalau dia seguru dengan Son Go Ku. Bisa-bisa ia berubah wujud. “Shula… mahaken!!” teriak Shulato, kartun Jepang zaman aku SMP.

“Pus, kamu tuh makhluk yang ngga berperasaan… ngga punya hati… kebangetan… 4*&!!%@#$)*^!!4*&!!%@#$)*^!!4*&!!%@#$)*^!!4*&!!%@#$)*^!!4*&!!%@#$)*^!!”

Berderet kalimat pasti berdesing di muka Lupus. Sangat cepat, sampai Lupus tak lagi bisa mengejanya. Ia hanya bisa rasakan suara ratusan nyamuk kelaparan, atau mirip lusinan kaleng rombeng yang jatuh di porselain perpustakaan.

“Kamu ngga datang kenapa, sih?” Lupus kaget. Hanya pertanyaan itu yang masuk ke telinganya.

Lupus nyengir kuda. Ia garuk rambutnya yang tak gatal. Sekuat tenaga ia tatap si cewe dan berkata, “Aku ngga tahu alamat rumah kamu.”

Si cewe pingsan lagi. Hari gini gitu loh!!?

***

Haha…. aku berusaha jadi Hilman. Walau tak serenyah tulisan-tulisannya, aku mengaku kerasukan tulisannya sejak masih duduk di bangku SD, dan sekuat tenaga berlagak menirunya. Konyol, jenaka, sekolahan, cinta keluarga, solider, full tebakan, romantis-seadanya, dan smart. Aku kagum pada penulis yang tak pernah mau mengakui tahun kelahirannya itu. Yang paling penting, ia tepat mendeskripsikan apa yang aku mau tentang sosok yang banyak berkeinginan dengan kemampuan pas-pasan.

Lebih dalam, Hilman sebenarnya ingin mendedahkan cara baru beridealisme dengan wajar. Ia ingin membangun karakter kuat generasi muda dengan cita-cita tinggi tanpa melupakan canda dan kebersamaan. Bukan main sulitnya adukan pola yang disusun Hilman untuk membahasakan nilai ke dalam bahasa cakap yang penuh tebakan. Benaknya mungkin penuh sesak dengan argumen-argumen rigid psikososial remaja yang harus tetap dimotivasi di tengah kondisi sulit. Namun, ia terus berjalan dengan semua keraguan itu dan mewujudkan dunia ragu penuh pertanyaan, tapi tetap reflektif dan… wajar.

Aku belajar dari Hilman tentang indahnya berdamai dengan kenyataan, bukan dalam artian taken for granted. Hilman sering menertawakan kondisi dan menganggap semua kebodohannya selalu bisa dimaklumi. Meratap jelas tidak diajarkan untuk menjadi orang baik.

Mami Lupus pun berfatwa, “Pus, kalau kamu sudah berharap, berarti kamu juga harus siap kecewa.”