Search and Hit Enter

Give and Gift

Sedari dulu, tak banyak yang kuhapal tentang berempati pada sesuatu yang dianggap orang lain sebagai hal penting. Kalau perihal kolosal seperti kemiskinan, kebangsaan, atau perubahan sosial, barangkali aku bisa berkhotbah tak kurang dari berlusin argumen, bersanding dengan teoretikus dari berbagai zaman, atau mengutip berkompleks petuah-petuah orang penting. Tapi, day to day, aku tak tahu banyak tentang hubungan personal, sebagai sosok pribadi yang harus bersikap baik pada pribadi lain.

Terkadang aku suka pada ketololanku yang ketika itu jelas aku yakini benar. Aku gampang tersenyum sendiri bila mengingat semua ratapku yang ternyata tidak berbanding lurus dengan anugerah hidup yang aku dapat. Ya, aku merasa lebih bahagia dengan anugerah yang tak terkira. Suatu waktu aku merasa sangat gagal. Tapi waktu yang lain membuktikan semua sesalku itu salah. Bahwa perilakuku banyak yang salah adalah benar. Tapi semua sesal yang aku bangun lantaran perilaku salahku itu tak perlu dibesar-besarkan. Aku telah kebanjiran banyak hal indah.

Sebab, bahkan Rasulullah pun menyesal. Sewaktu Isra’ Mi’raj ia disuguhi sebuah apel oleh Jibril. Karena ia teringat umatnya yang tak berkesempatan makan apel bersamanya, ia pun menggigit apel itu sedikit. Apa ucap Jibril? “Segigitanmu itu jumlah umatmu yang akan masuk surga.” Rasul pun menyesal. Ia berpikir, andai tahu akan begitu, tentu beliau akan menggigit apel itu sebanyak-banyaknya.

Aku hanya ingin mengetengahkan bahwa sedikit demi sedikit aku merasa perlu untuk berdamai dengan kenyataan. Tentang aku yang tak sempurna. Tentang aku yang ingin bersandar. Tentang aku yang sangat sering salah. Tentang aku yang pernah sangat mengecewakan orang lain. Tentang aku yang ketakutan pada langkah-langkahku. Takut apakah semua orang yang pernah aku sakiti akan memaafkanku.

Aku teringat Shandi Aulia, si cewe Eiffel I’m in Love—meski aku tak terlalu suka filmnya. Suatu waktu ia diwawancarai infotainment, mengapa setelah putus dengan pacarnya, ia tak segera punya pacar baru. Ia menjawab, “Menurutku salah kalau seseorang ingin berpacaran karena ia pengen dimengerti. Bagiku, pacaran itu tepat kalau aku telah tahu apa yang akan aku berikan pada pasanganku.”

Nah lho, Shandi yang kadang aku remehkan itu bisa memberi fatwa penting tentang relationship. Bahwa kalau kita ingin bersama orang lain maka berpikirlah tentang apa yang semestinya diberikan, bukan sebaliknya. Itu kalimat eksistensialis Jean Paul Sartre. Itu humanisme. Dan pada konteks memberi, itu islami.