Search and Hit Enter

Feri, Minang, dan Eksistensi

Feri dan Oza - 18 Agustus 2013 Ada apa dengan Padang dan Minang? Dulu, aku mengenal Padang dari Perang Paderi-nya Tuanku Imam Bonjol dan Jam Gadang. Atau sedikit cerita seorang kawan yang tak ingin mencuci tangannya bersih-bersih karena baru saja makan nasi padang. “Biar aroma rendangnya masih ada,” begitu katanya. Atau seorang kawan yang saking ketagihannya nekat membeli nasi padang hanya dengan kuah dan sayurannya, tanpa daging. Uda-uda itu tetap saja tersenyum manis. Atau iklan TV tentang segerombolan anak sekolahan yang makan di restoran padang hanya plus kuahnya, lantaran uang kiriman mereka belum datang.

Hari ini, aku baru tahu kalau Padang juga membuat Feri, saudara lelakiku, kepincut. Seorang liar di sampingku yang ternyata bisa sejenis dengan orang-orang Padang. Meski bisa jadi hanya itulah kesempatan kerja yang ia dapat, tapi aku sangat berterima kasih pada orang-orang Minang itu. Kaum pekerja keras yang tak menabukan laki-laki untuk memasak. Perempuan mereka membayari semua keperluan menikah, tak seperti di Jawa.

Tapi kalau benar-benar mau ditelisik, faktanya memang ada banyak hal di kepalaku yang sangat Padang, dan aku sangat sulit menerka bahwa semua ini terjadi begitu saja selama aku hidup. Aku kira, dahulu pasti memang ada akarnya, terkait asal muasal kultur yang tak pernah dibahas, bahkan oleh dinasti yang melahirkanku ini. Semacam keterputusan sejarah yang aku sendiri belum mengerti.

Menurut Harry A. Poeze, orang Belanda yang menekuni Tan Malaka hingga lebih dari seperempat abad, mengatakan ada tiga ciri mengapa tokoh nasional republik dan puluhan pahlawan di negara-negara sekitaran Indonesia berasal dari Minang. Jawabannya, Padang memiliki kultur egalit-demokratis, berpendidikan, dan suka merantau.

Sejak dulu keluargaku sangat egalit dan demokratis. Saking egalitnya, ibu tak pernah merasa bahwa bapak adalah satu-satunya pemimpin di rumah. Beliau gemar sekali bicara ‘keras’ pada bapak soal apa pun. Dan bapak tak ubahnya seperti pemimpin de jure yang sangat bisa mengerti mengapa ibu seperti itu. Tak ketinggalan, anak-anak mereka tak pernah merasa bahwa tanggung jawab rumah tangga ada di satu-dua orang. Semua berkesempatan membangun atau menghancurkan keluarga. Musyawarah sangat penting di keluargaku.

Orang tuaku memang tak cukup pendidikan, tapi mereka sangat terobsesi pada sekolah tinggi anak-anaknya. Semasa kecil, bapakku selalu meyakinkanku bahwa kelak, aku bisa menjadi Insinyur Pertambangan yang bergaji 9,5 juta. Angka yang belum bisa aku raih, bahkan hingga kini. Ia bertekad menguliahkanku meski ia tak paham fakultas dan jurusan apa yang tepat untukku. Saat aku sarjana, bapak sempat berkata padaku, “Andai bapak punya uang pasti bapak akan biayai S2 kamu.” Feri dianggap tak takzim pada orang tua karena tak mau bersekolah serius. Sementara itu, Vera tengah digadang-gadang menjadi seorang dokter yang dibanggakan.

Keluargaku juga bernalar perantau. Sejak kecil bapak dan ibuku bekerja di tempat seorang kaya di kampungnya. Menjelang usia remaja masing-masing punya cerita sendiri menaklukkan ibu kota. Aku dan Feri dibesarkan Simbah Putriku. Dan sejak simbah tercintaku meninggal, sesaat setelah aku dan Feri menyelesaikan puber pertama, hidup menggelandang bukan hal aneh. Aku dan Feri seperti dibesarkan lingkungan masing-masing, dengan norma masing-masing pula. Vera… sejak lulus SD ia telah di pondok yang butuh 15 jam perjalanan bus. Terkadang, saat liburan ia malahan berkunjung ke rumah kawannya ketimbang pulang ke rumah.

Komplit sudah kriteria Poeze untuk mendesakkan kultur Minang dalam kehidupanku. Aku tak dibesarkan orang Minang atau besar di Padang, tapi aku punya mental seperti orang Padang. Oya, masa kecilku juga habis untuk mengaji dan tidur di surau, bermain di kali, berjalan kaki menembus hutan, dan berpetualang seperti di Padang. Bedanya, di keluargaku tak ada gelar-gelar kerabat seperti di Minang.

Semasa mahasiswa aku lebih mengagumi Hatta ketimbang Soekarno. Entah, bisa jadi karena aku yang mahasiswa ekonomi, dan aku yang tak sepintar Bung Karno untuk berorasi, juga menaklukkan hati perempuan. Aku memilih untuk mendeteksi persoalan tidak dengan bicara, tapi beranalisis. Aku mengagumi kepemimpinan, tapi tetap saja memilih pasukan elite ketimbang massa. Aku tak terlalu bisa berurusan dengan banyak orang dan nyaman dengan rekayasa sistem.

Sewaktu darah moderasi Cak Nur mulai mengalir di ubun-ubunku, aku kesengsem pada Sjahrir yang selalu kooperatif dalam menyelesaikan persoalan. Ia yakin bahwa kemerdekaan akan bisa diperoleh tanpa setetes darah pun. Jelas bahwa Cak Nur dan Sjahrir sangat berbeda, tapi aku suka cara mereka memoderasi konflik.

Mentas mahasiswa aku tak kunjung menemukan desain praksis gerakan, hingga aku berkenalan dengan pemikiran Tan Malaka, seorang komunis Trotsky yang mendukung Pan-Islamisme dan menolak revolusi tahap pertama Lenin, diktatur proletariat. Lenin menerjemahkan marxisme menjadi komunisme yang dapat ditempuh melalui dua tahap revolusi. Pertama, mewujudkan diktatur proletariat dengan membentuk partai tunggal partai komunis. Kedua, mewujudkan masyarakat sosialis dengan memusatkan keputusan ekonomi dan politik di tangan negara. Tan sempat akan digantung Muso, Ketua PKI setelahnya, karena memilih garis perjuangan ini.

Setelah dirunut, ternyata aku memiliki karakter kritisme yang kuat dari tiga referensi tokoh Minang itu. Meski pada praktiknya mereka mengambil jalan yang sama sekali berbeda, tapi ketiganya sangat mempengaruhi proses revolusi republik. Bersama Soekarno, Hatta dianggap proklamator. Bersama Amir Sjarifuddin, Sjahrir punya peran atas darurat pemerintahan setelah Soekarno-Hatta akan diadili sekutu karena dianggap berkolaborasi dengan Jepang. Dan Tan Malaka bergabung dengan Jenderal Besar Soedirman untuk menolak kedua kepemimpinan nasional itu serta menyerukan kemerdekaan 100%.

Aku merasa, Padang adalah rumah keduaku. Aku bisa sangat memahami orang Padang karena aku dibesarkan dengan cara Padang. Aku bisa sangat percaya pada orang Padang karena latar belakang mereka yang selalu konsisten, kental ajaran Islamnya, dan mencintai republik.

“Fer, kamu kuliah lagi aja. Orang Minang kan pinter-pinter,” saranku ketat. Aku tahu, Feri tak akan mendengarkanku. Ia jelas punya agenda sendiri untuk kebaikan bersama. Ya, aku mempercayainya.