Search and Hit Enter

Feri dan Percaya

A Pair of Silhouettes. (Foto: Westportnow.com)

Suatu ketika pada 11 September 2008….

Feri, adik lelakiku, baru saja meneleponku. Ini telepon keduanya setahun terakhir. Seperti yang sudah-sudah, ia memang tak terlalu suka memberi kabar pada keluarga. Atau anggaplah, sejak dulu keluargaku tak terbiasa saling beri kabar, lantaran budaya nekat masing-masing yang terkadang, sulit dimaklumi. Kalau dulu orang tuaku menikah tanpa restu, aku yang jarang bersua orang tua sedari lulus SD, Vera—bungsuku—yang maksimal dua kali pulang karena aturan pondoknya, Feri jauh lebih dramatis. Ia tak dijamah kasih sayang orang tua sejak kelas 4 SD. Ketika itu, ia tak begitu ambil peduli, lantaran ada simbah putriku yang berganti peran menjadi orang tua asuh.

Minus Vera, sekolahku dan Feri tak pernah atas konfirmasi orang tua. Aku dan Feri memilih dan mendaftar ke sekolah pilihan masing-masing tanpa antaran orang tua. Tentu dengan kualifikasi yang dipunya. Karena sejak kecil Feri lebih tertarik pada sepakbola maka wajar bila nilainya jeblok. Ia pun mampir ke sekolah swasta sederhana di pesisir Lasem dan berorientasi menjadi pedagang yang sukses. Tak seberuntung aku yang mengantongi ijazah SMA favorit, ia putus sekolah menjelang kelulusannya. Kabarnya, kiriman uang yang telat membuat ia hilang kendali dan memutuskan untuk hidup di jalan.

Beberapa bulan setelahnya, tak ada kabar sedikit pun darinya. Upayaku untuk bertanya ke mana-mana nihil. Orang tuaku pun tak bisa berbuat banyak. Dan lebaran pun terpaksa berurai air mata ibuku. Benar, Feri tak kunjung muncul hingga hitungan tahun.

Setelah kembali ke kehidupan masing-masing, keluargaku seperti melupakan Feri. Tak hanya Feri, seorang pamanku juga hilang entah ke mana. Feri kasus kedua. Walau shock, karena pernah terjadi, risaunya tak terlalu berlama-lama. Semua anggota keluarga hanya berdoa agar tak terjadi keadaan menyedihkan.

Tanpa dinyana, Feri muncul kembali. Ternyata selama ini ia berkelana ke berbagai tempat untuk setidaknya, bertahan hidup. Kudengar, ia doyan berkelahi antar geng, mencuri, madat, dan menjalani hidup yang jauh dari Tuhan. Aku tak tahu persis apa yang terjadi. Ibuku menceritakan semuanya.

Setelah kehidupan kelamnya, kini Feri berjualan bakso di Jakarta bersama seorang kawan. Bahkan ia sempat menantangku, “Udah bisa punya duit sendiri belum? Jangan cuma bisa minta kerjaannya.”

Dalam kebahagiaan itu, badai pun datang kembali. Entah karena alasan apa, Feri tak lagi berjualan bakso. Ia pulang dengan sedikit bicara. Parahnya, lebih dari setahun setelahnya, ia kembali ke perangai kasarnya. Setiap hari ia bangun siang, ngelayap, dan pulang pagi harinya. Kata-kata ibuku tak lagi ia dengar. Suara bapakku telah di ujung tenggorokan. Suatu ketika, Bapak bahkan sempat menyatakan, “Feri bukan anakku.”

Aku pun pulang. Aku bicara dengannya. “Kalau mau jadi penjahat jangan yang kacangan. Sekalian aja yang pegang senjata. Aku tahu caranya,” begitu pembukaan yang aku tawarkan. Ia bergeming. Matanya nanar menatap ke luar jendela.

“Masa kamu ngga pengen berubah? Hidup begini-begini aja.”

Feri khusyuk menikmati angin dan tak menganggap omonganku.

“Oke. Begini saja. Kalau mau, mulai besok, kita hidup bareng lagi. Ngga usah di rumah. Ngga usah nyusahin orang tua,” akhirku.

Tetap saja tak ada respons.

Hingga saat aku berpamitan, Feri ternyata sudi turut denganku. Meski dengan mimik yang kosong, aku tetap bersyukur pada Tuhan. Semoga ini jalan terbaik untuknya.

Selanjutnya, ia aku tempatkan di sebuah pondok pesantren tradisional agar orientasi keagamaannya kembali fokus. Aku berharap, ia bisa normal seperti saat menantangku untuk punya uang sendiri dulu.

Syukurlah, setelah beberapa minggu berlalu, raut mukanya mulai cerah. Ia banyak tersenyum. Tentu saja aku bahagia. Saat itulah mulai aku tawarkan program penting untuknya. Aku memintanya untuk menyelesaikan sekolahnya yang tinggal beberapa bulan itu dengan belajar di program Kejar Paket C. Setelah itu, aku akan mengikutkannya pada bimbingan belajar menjelang penerimaan mahasiswa baru di kampus negeri.

Feri menuruti kata-kataku untuk belajar di program Kejar Paket C, dengan kompensasi modal dagang. Ia hendak berjualan voucher HP di kaki lima. Sekolahnya tidak tiap hari, jadi ia bisa belajar di pondok, juga berdagang. Bukan main sumringahnya aku. Tiba-tiba Feri berubah secepat itu.

Beberapa bulan berjalan, ia bilang padaku hendak ke luar dari pondok dan berniat hidup di kos-kosan. Aku kaget. Katanya, ia tak disukai seorang pengasuh pondoknya, dan ia mulai tak betah. Aku mulai khawatir. Benar saja. Bisnis voucher-nya jeblok, ia tak lagi ke pondok, mulai bersama perempuan, dan mulai gila uang.

Setelah suntikan modal keduaku untuk bisnis batiknya, ia izin pulang karena terserang sakit jantung stadium rendah. Aku percaya saja. Ternyata, ia menangguk utang jutaan pada seorang kawannya, mulai renggang dengan perempuannya, dan dua bisnisnya remuk. Yang paling aku sesalkan, ijazah Kejar Paket C-nya tak sempat ia ambil. Padahal, ia baru saja menempuh ujian kelulusan. Bahkan hingga ijazah itu dikembalikan kepada Diknas, Feri tak kunjung mengerti.

Sekitar sebulanan di rumah, Feri kembali menghilang. Ketika pergi, dia hanya sempat menitip pesan pada ibuku, “Tolong angkat jemuranku.”

Hampir setahun kemudian, ada SMS masuk ke HP-ku bernomor asing. Ternyata Feri. Kini ia di Pontianak, setelah sempat mampir di Makassar. Sewaktu aku tanya, apa bisa makan, ia hanya membalasnya singkat, “Udah… ngga usah dipikirin.”

Telepon pertama Feri padaku hanya tentang permintaan agar aku menenangkan ibuku kalau saja mengkhawatirkannya. Klise, ia bilang semua baik-baik saja. Meski aku tahu ia masih sangat kesulitan. Beberapa kali ia minta kiriman pulsa dan uang. Ketika itu, aku hanya berpesan agar ia serius dan tak merepotkan orang lain. Urusan rumah, biar aku yang mengurusnya.

Sebenarnya, beberapa kali aku meneleponnya. Tapi ia punya banyak sekali nomor. Kalau tak aktif, pasti Feri tak mau mengangkat teleponku. Paling banter, ia mengonfirmasi dengan sedikit SMS. Hingga kemudian pada hari ini, Feri meneleponku untuk kedua kalinya.

Ia berkisah tentang profesinya sekarang sebagai pramusaji di sebuah rumah makan padang bernama Rumah Bundo di bilangan Jl Diponegoro Pontianak. Setelah mengabsen semua anggota keluarga, ia meminta maaf andai tak bisa pulang pas hari lebaran, lantaran uangnya tak cukup. Ia juga belum bisa banyak membantu untuk menyelesaikan persoalan keluarga. Sedapatnya ia tertawa lantaran sekarang ia dianggap orang Padang asli. Seperti biasa, aku hanya berpesan agar dia serius dan kalau memungkinkan, sekolah lagi.

Feri mengajariku untuk percaya. Aku berkeinginan sekali mengunjunginya.