Search and Hit Enter

Entitas Alternatif Non-Modal dan Negara

“Ketoprak satu, Pak,” pintaku pada penjual ketoprak di depan tempat tinggalku.

Hanya ialah satu-satunya penjaja sarapan paling loyal di sekitaran sini. Meski tiap pagi perutku terasa perih minta diisi, lantaran biasanya aku tak pernah sarapan, tetap saja aku tak bisa berharap pada varian makan selain ketoprak. Ya, di pagi hari, tak ada penjual makanan lain di tempat ini.

Untung saja mereka tak terus-terusan menyiksa hasrat laparku. Menjelang sore hari, beberapa warung tenda mulai didirikan, meski, tak terlalu banyak juga. Setidaknya, mataku agak berbinar untuk pilihan lain yang sedikit menolong maluku, bila ada yang berkunjung.

“Baru pulang?” tanya penjual ketoprak ramah.

“Ya, Pak. Dari Purwokerto. Ada yang nikahan,” jawabku ringkas.

Benar. Kemarin, aku hadiri pernikahan seorang kawan di Cilacap. Karena tak ingin mengganggu banyak orang di sana, aku pun menerima ajakan kawan lainku lagi, untuk mampir dulu ke rumahnya di Purwokerto. Tujuan lainnya, sekalian membicarakan banyak hal, yang dulu, sewaktu kuliah, tak tersampaikan dengan baik.

Lumayan, dalam durasi dua hari, banyak hal yang bisa diungkap, muncul lusinan permakluman atas masa lalu, sekaligus merenda visi bersama untuk membangun semuanya lebih baik.

Lantaran ini pula, aku dapat merumuskan sket buku baruku berjudul, Bukan Negara Bukan Konglomerasi. Rencananya, buku ini aku dedikasikan untuk diriku sendiri, sebagai pijakan masa depan, juga membangun kehidupan yang lebih baik bagi dunia tempat aku berpijak.

Kemarin, aku berceramah pesat, “Sekarang aku bisa mengkristalkan perseteruan kapitalisme dan sosialisme ke dalam konstruksi realitas baru yang lebih baik. Aku tidak setuju pada penguasaan negara secara absolut atas aset-aset ekonomi, tapi aku juga tidak setuju pada konglomerasi. Bayangan ideal tentang hidup bernegara adalah ketika semua lembaga milik negara bisa dibanggakan. Suatu ketika, rakyat harus berbangga pada PLN, PDAM, Diknas, atau yang lain, karena kemegahan dan reputasi baiknya. Jadi, semua orang akan berlindung di balik kebesaran lembaga-lembaga itu, bukan karena kepala dinasnya, jaringan kerja institusinya, atau backing politiknya; tapi sebagai warga negara, seseorang akan merasa tidak berarti, bila tanpa legitimasi formal kelembagaan negara. Namun, ketika seseorang hadir di tengah masyarakat sebagai personal masing-masing, yang terasa adalah kesamaan peran sebagai warga negara. Artinya, meski ia pejabat publik, tapi ia tak dapat membanggakan jabatan publik, lantaran ia hanya berlindung pada institusi besar milik rakyat. Ia harus sadar setiap saat, bahwa institusi yang ia pimpin tak lebih semata-semata titipan rakyat, dan tak bisa dimanfaatkan secara personal.

Aku juga tak menyetujui konglomerasi. Penguasaan aset-aset ekonomi di tangan beberapa gelintir orang akan menyebabkan timpangnya distribusi pendapatan. Negara berhak mengatur penumpukan modal ini. Sederhananya, masing-masing orang tak boleh beraset lebih dari Rp1 miliar. Bila seseorang telah melewati batas itu, negara berhak untuk membuatnya beralih pada bangunan bisnis baru, guna pemerataan distribusi pendapatan. Jadi, menurutku, orang-orang yang memiliki uang lebih dari Rp1 miliar, tanpa ada upaya untuk mendistribusikannya, adalah orang-orang yang tidak mengerti keseimbangan sosial.

Aku setuju menabung. Bukan dalam pengertian menabung yang berbunga atau deposito. Tapi menabung sebagai cadangan dana kebutuhan mendadak dan rencana jangka panjang. Itu pun tak boleh lebih dari Rp1 miliar.

Aku tidak setuju passive income, yakni pendapatan berkala yang didapat karena investasi tanpa kerja langsung. Makanya aku tak pernah setuju pada MLM. Bagiku, kerja itu keringat. Setiap keringat yang menetes akan dihargai sebagai ibadah di depan Tuhan. Artinya, bila ada pendapatan yang didapat hanya karena ketergantungan akses, jelas itu bukan kerja, tapi membangun penindasan atas orang lain.

Aku jelas tak ingin menjadi orang yang kaya raya. Aku hanya ingin hidup dengan uang yang tepat guna, dan dapat menjadi sosok solusi. Bila ada orang yang meminta tolong padaku, semoga aku dapat memberikan solusi tepat. Bisa berupa bantuan langsung, tidak langsung, atau setidaknya, dapat menjadi teman bicara yang baik. Seorang kawan pernah berkata, godfather adalah orang yang mampu menolong orang yang berkesulitan, pada saat yang tepat. Meski aku pun tak pernah ingin dielu-elukan sebagai godfather.”

Kawanku hanya manggut-manggut. Ia menatapku dalam-dalam dan berujar, “Tapi, cobalah untuk berhadapan dengan kenyataan, bahwa banyak orang yang lebih setuju monopoli, daripada berbagi. Kamu tidak bisa terus-terusan menghindar dari kenyataan dengan membangun sistem baru untuk membendung semua itu. Sekali waktu, hadapi dan tundukkan sistem yang buruk itu. Karena di mana pun, selalu ada orang-orang yang tidak berkeinginan baik.”

Ia lantas mengulas alasanku hengkang dari perusahaan tempat aku bekerja sebelumnya. Ia menghubungkan semua motifku itu dengan literatur-literatur psikologi bisnis yang ia tekuni.

Aku pun meresponsnya intensif. Terang saja aku akan berbuat semampuku. Aku berkeyakinan, banyaknya sahabat Rasul yang kaya, bukan dalam pengertian jumlah kekayaan yang dimiliki, tapi kaya yang diumatkan. Jadi, aku sangat tidak setuju dengan pernyataan, “Bila kita kaya, kita akan dapat melakukan ibadah lebih maksimal.”

Pandai mencari uang, aku setuju. Namun, memiliki uang dalam jumlah berlebihan hingga menumpuk, jelas aku tak setuju. Uang Abdurrahman bin Auf tak banyak yang mampir ke keluarganya. Ia bahkan bilang, “Aku takut, andaikan semua nikmat Allah telah diberikan padaku ketika aku masih di dunia.” Masuk akal. Sebab, siapa yang mau hidup di dunia enak, eh ketika di akhirat menjadi orang-orang yang merugi.

“Adalah salah bila kita tidak bisa bertarung dengan jaringan Wall Street. Atau, kita yang memble di depan pasar bebas, juga Microsoft. Maksudku, kita tetap harus berusaha keras menandingi mereka. Kita juga harus pandai berbisnis dan berkompetisi. Namun, semua itu tidak dalam rangka penumpukan modal, seperti mereka. Tujuannya adalah fungsi kontrol, dengan membangun jalur-jalur distribusi pendapatan ke seluruh dunia.”

***

“Kalau mau pakai kerupuk, di kaleng sebelah sana,” ujar penjual ketoprak mengagetkanku.

“Ya, Pak. Ketopraknya kepedasan.”