Search and Hit Enter

Dependensi Si Cantik: Reposisi Perempuan, Era Informasi, dan Kapitalisme Global

Bukan perkara mudah menjejaki analisis kalangan Neo-Marxis seputar perselingkuhan modal dan kekuasaan yang kini, mendominasi kehidupan umat manusia. Bagaimana tidak? Hari ini, jeda kebutuhan dan keinginan sangatlah tipis. Hari ini, kapitalisme dan sosialisme tak menarik lagi diperdebatkan. Hari ini pula, perempuan seperti tak punya pilihan, selain selalu berpenampilan menarik dengan referensi yang direkayasa.

Ingar-bingar era informasi ternyata tidak hanya menekuk panji-panji nasionalisme. Zaman dengan triliunan referensi seperti sekarang telah berhasil mempecundangi norma sedemikian rupa. Kecenderungan dapat didesain dengan pencitraan. Baik dan buruk dijual berdasarkan kesepakatan pemilik modal dan konsumen. Bila pada kenyataannya mentalitas manusia berubah menjadi rakus dan serakah, sebagian kalangan bilang, ini memang zaman edan.

Sekali waktu, modal tampak kejam, lantaran banyaknya monopoli dan PHK. Pada waktu berbeda, kekuasaan tampak arogan, karena memberi ruang pemodal untuk mengkooptasi negara. Namun, dalam waktu bersamaan, keniscayaan tentang dominasi ternyata bukan isapan jempol. Sebab, bagaimana mungkin ada gerakan perlawanan, bila garis tegas antara yang benar dan salah mulai dikaburkan?

Pun dengan perempuan. Pun dengan koherensi perempuan dan pasar. Pun dengan keterlibatan perempuan atas pasar. Pun kuatnya pasar membentuk kecenderungan perilaku perempuan. Ada media di sana. Ada propaganda di sana.

Ocehan Joseph Stiglitz, seorang nobelis ekonomi, tentang asimetri informasi yang melahirkan kesenjangan, seperti berlalu ditelan gegap-gempitanya event-event hiburan dan fashion show. Tiap hari, simulasi media tentang baju dan pernak-pernik yang seharusnya dipakai diberondongkan. Iklan-iklan tak jelas ujung pangkalnya melesak dalam ke benak setiap perempuan, tentang hidup yang dijajakan, libidotis.

Genderang perang kaum feminis, malahan semakin meliarkan perempuan pada kadar yang tak tanggung-tanggung. Eksistensi perempuan dikemas menarik pada konsep ‘mandiri’ dari laki-laki. Lebih mirip demarkasi, sebenarnya. Lihatlah, semakin banyak saja perempuan yang menikah di usia tua, hanya karena mengejar karier pekerjaan. Untuk kebanggaan sebagai perempuan, kata sebagian dari mereka.

Lebih jauh, kalangan entertainment seperti membiasakan diri dengan berjualan sensualitas perempuan. Tengoklah, sebuah iklan telepon genggam di negeri ini. Verbal dan penuh kebanggaan, mereka menjual komoditas dengan menampilkan gambar perempuan berbaju separuh. Apa hubungannya? Sensualitas menjadi marak diminati sebagai ‘sesuatu yang layak dinikmati secara wajar’.

Gejala ini jelas kemudian berubah menjadi simulacra; membludak tak tentu arah. Menembus barikade norma hingga ke sudut-sudut ningrat peradaban Nusantara yang selama ini tak tertembus. Tak sedikit kemudian, tampak di perdesaan gadis-gadis belia dengan dandanan artis sinetron yang kata orang ‘seksi’. Serasa mustahil membendung citraan-citraan itu, meski dengan segudang seruan moral agama. Sesuatu yang tabu kini melebur dalam persepsi kebutuhan, yang bermuara pada ‘permakluman aneh’; ini memang zamannya.

Fascinatio

Membahas perempuan dan pasar hari ini, layaknya seorang cendekiawan uzur yang terkungkung dalam paradoksi-paradoksi tak berkesudahan. Daya tariknya, meminjam istilah Daniel Dhakidae dalam Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003), menghunjam dalam selayak fascinatio.

Mengutip Daniel, fascinatio adalah sesuatu yang begitu menarik perhatian, tapi pada gilirannya, dalam makna asli, justru mengandung dua arti sekaligus, yaitu selain sesuatu yang lebih dari sekadar menarik perhatian karena sangat memukau, akan tetapi juga mengandung arti kedua: hantu. Sesuatu yang fascinans, tulis Daniel, bukan saja memiliki kemampuan dan daya seperti besi-berani, akan tetapi juga sekaligus obsesi yang menakutkan.

Mengapa bagi sebagian kalangan perempuan dianggap fascinans? Barangkali, untuk menepatgampangkan pembahasan, sejarah dapat sedikit membantu. Sebab, banyak pula yang yakin pada ungkapan terkenal, tentang adanya perempuan hebat di belakang laki-laki hebat. Kalau pun si perempuan memilih sendirian, ia tetap tampak karismatis dengan anggapan ‘single parent yang tak perlu laki-laki’.

Kisah tentang pemimpin-pemimpin dunia yang takluk di kaki perempuan tak terbilang banyaknya. Mata-mata terbaik sepanjang masa banyak didominasi perempuan. Selalu saja ada perempuan penting dalam setiap perubahan zaman. Kini, kecenderungan dunia juga dimobilisasi oleh perempuan-perempuan genius yang menghabiskan waktu dan pikirannya; tak berbeda jauh dengan kaum laki-laki.

Walhasil, perempuan semakin tampak fascinans. Lentik tapi kejam. Halus tapi tega. Binal tapi sadis. Sama halnya dengan mengkriteriakan perempuan pada setting globalisasi informasi seperti sekarang. Siapa pun akan berhati-hati. Salah-salah, analisis baru tentang mobilitas perempuan justru melahirkan babak baru eksistensi yang semakin tidak dimengerti. Salah-salah perbenturan itu malahan tak berkesudahan.

Sejauh ini, pada konteks eksistensi perempuan, alasan kodrati seperti dihilangkan, atau setidaknya dianggap tidak ada. Guratan nasib membawa perempuan untuk mendukung modal dan kekuasaan pada porsi yang tak tanggung-tanggung. Perempuan dibaiat mampu memimpin negara, sementara ia jelas-jelas berurusan dengan tumbuh dan besarnya sang anak. Perempuan diberi ruang besar untuk menjadi pekerja keras di perusahaan-perusahaan bonafide, tanpa toleransi yang layak tentang fisiknya yang tak sekuat laki-laki. Begitu seterusnya.

Perdebatan eksistensi yang tak berujung, sebenarnya. Tentang perempuan dan apa yang seharusnya dilakukan perempuan. Tentang perempuan yang dipaksa menerjemahkan keperempuanannya, lantaran dianggap ‘tak sadar’. Sementara dalam satu waktu, perempuan juga menjadi obyek utama berhasil tidaknya kecenderungan socio sebuah bangsa dibentuk oleh modal.

Meski semakin sulit mengidentifikasi, mana obyek dan mana subyek, isu perempuan dan keperempuanan telah menjadi bulan-bulanan masa; sefamilier pembahasan tentang agama dan ekonomi. Bagaimana tidak? Siapa pun yang ingin terkenal, pelajari dan bawalah kekuatan perempuan. Siapa pun yang ingin berkusa, tentukan posisi dukungan pada perempuan. Siapa pun yang ingin kaya, pilihlah perempuan yang tepat dalam setting modal kekinian.

Perempuan dan pasar jelas fascinans. Memaksa siapa pun untuk agak merasa terkelabui dengan cerita-cerita eksistensi, yang entah kapan dapat diterabas, dan dianggap sebagai ‘ketidakmampuan peradaban’. Bahwa eksis tidaknya seorang perempuan, sebenarnya juga telah dikodratkan; tanpa perlu perjuangan berbusa-busa, apalagi berlebihan.

Menjual Simbol

Pada awalnya, gerakan jilbab di Indonesia sekitar dekade 1980-an jelas hendak menyampaikan pesan penting tentang aurat yang harus ditutupi. Tak hanya di kampus-kampus, hampir di setiap jalan kini dapat dijumpai perempuan-perempuan berkerudung. Bagi kalangan pendukung jilbab, tentu realitas ini adalah sebuah keberhasilan yang layak dipertahankan. Namun, bagi pemodal, kenyataan tersebut justru ditangkap sebagai peluang eksistensi baru.

Lihatlah deretan busana muslim yang mahal di outlet-outlet terkemuka. Lihatlah sinetron-sinetron yang didesain ‘islami’ dengan pendapatan iklan berantrean panjang. Lihatlah produk-produk kecantikan yang sengaja dikreasi untuk mensupplai kebutuhan perempuan-perempuan berkerudung. Bagian tubuh yang tertutupi itu digempur dengan komoditas kecantikan yang bermacam rupa.

Perempuan Muslim kemudian dicitrakan sebagai sosok trendi dengan dandanan menarik dan mahal, plus seabrek aktivitas yang konon, dianggap modern. Jilbab sebagai seruan norma agama berubah menjadi komoditas tak terbendung, yang jelas menghasilkan keuntungan luar biasa besar. Ada anggapan umum, bahwa Muslimah sekarang harus peka terhadap perkembangan zaman, dan harus dapat berbaur dengan semua realitas kekinian.

Di sisi lain, munculnya bermacam salon kecantikan dan tempat kebugaran di mana-mana juga membentuk preferensi perempuan pada kadar yang aneh-aneh. Perempuan di masa ini diberi rujukan muluk tentang rambut yang seperti ini, badan yang seperti itu, baju yang begini, hingga ke cara melirik yang begitu.

Bangunan persepsi tentang kesempurnaan perempuan yang direkayasa itu dijejalkan secara sistematis melalui media, interaksi, gaya hidup, hingga ke bualan-bualan penjual obat awet muda. Lusinan cerita dapat diketengahkan tentang perempuan-perempuan hari ini yang tak mementingkan isi kepala lagi; hanya untuk obsesi gila bernama ‘seksi’. Reputasi kampus bahkan bergeser menjadi sensual, lantaran perilaku dan dandanan mahasiswi-mahasiswinya.

Citraan keseksian itu mengubur realitas tentang kompetisi dunia yang terang-terang kejam dan tak memberi ruang pada kualifikasi rendah. Banyak perempuan Indonesia yang kemudian terpaksa menghilangkan ‘idealisme perempuan’, karena tekanan aturan perusahaan.

Lamunan perempuan tentang tubuh ideal juga memengaruhi masyarakat. Penilaian publik pada tubuh semakin kental. Semua hal tak urung selalu dihubungkan dengan menarik atau tidak menariknya tubuh. Pantas dan tidak pantas bahkan digerakkan oleh kekasatmataan. Semua hal verbal lebih menyibukkan ketimbang kualitas di balik yang tampak.

Hal sulit tak terkendalikan lainnya adalah penerimaan perempuan akan kecenderungan pasar. Mengapa harus ke salon? Ya biar terlihat cantik. Haruskah ke salon? Ya salon lebih praktis. Bagaimana semisal tak pergi ke salon? Ya nanti malah dibilang tidak cantik. Begitu seterusnya.

Sebagian perempuan beranggapan bahwa kenyataan tentang kampanye ‘permak badan’ sebagai keharusan yang tak dapat dibantah. Mereka yakin, dengan turut serta dalam kecenderungan ini, maka mereka akan membahagiakan banyak orang. Semua perempuan lantas diberi peluang seluas-luasnya untuk tampil dengan referensi bervariasi majalah dan acara fashion televisi. Terkadang, tanpa memedulikan seperti apa bentuk badannya, mereka bergerak sekuat tenaga, menuju perikehidupan cantik yang diceritakan media.

Menjemput Kebebasan

Melihat perempuan dalam bingkai pasar dapat ditertawai nyinyir, sebenarnya. Berburuk sangka menjadi tidak perlu lagi, lantaran kenyataannya memang demikian. Kata orang bijak, menyelesaikan persoalan berawal dari kesadaran untuk menganggapnya sebagai realitas. Itu pun bila dianggap sebagai masalah. Sebab, kini saking banyaknya rujukan, orang tak tahu lagi, mana masalah yang sesungguhnya, dan mana yang hanya simtom masalah.

Upaya banyak perempuan untuk mengibarkan seruan kebebasan tapi tanpa batasan yang jelas kini selayaknya dijernihkan. Apa sih kebebasan itu? Apakah kebebasan berkehendak sebebas-bebasnya? Ataukah kebebasan yang berselaras dengan norma?

Keterkungkungan perempuan di bawah dominasi pasar menjadi realitas buram yang tak perlu ada bila kaum perempuan mampu menangkap gejala alamiah pasar pada kadar sewajarnya. Pasar hanya ada karena transaksi. Ideologi pasar hanya dapat merangsek kuat bila transaksi kemudian melebur pada keinginan yang didesain.

Ukuran ketercukupan itu akan ada dengan penerimaan yang cukup pada asas fungsionalitas yang tak berlebihan. Keinginan berlebihan akan bermuara pada ketergantungan merugikan. Kaum perempuan akan melakukan hal-hal di luar akal, bila berperilaku berlebihan. Semisal, memermak tubuh gila-gilaan, tanpa proporsionalitas, tentu itu berlebihan. Mengonsumsi produk tersier tanpa daya beli yang cukup, jelas akan membuat tekanan berarti pada ekonomi keluarga. Begitu seterusnya.

Bebas yang sesungguhnya adalah bebas dari ketergantungan. Menentukan kebutuhan wajar dengan ukuran wajar adalah manifestasi kebebasan. Berpikir, berucap, dan berperilaku tak berlebihan akan menciptakan keseimbangan. Bila pun berhadapan dengan realitas apa pun, tak akan dapat menenggelamkan identitas dasar perempuan; sebagai makhluk penyayang, pemalu, dan penjaga utama keluarga bahagia.

Nurcholish Madjid, atau biasa dipanggil Cak Nur, seorang intelektual Muslim, pernah berujar, “Modernisme itu bukan westernisasi; tapi rasionalisasi.” Pengaruh asing apa pun tak akan berarti buruk bila kesadaran akan rasionalisasi cukup. Sebab, moralitas akan berbanding lurus dengan rasionalitas. Juga dengan kewajaran yang tak berlebih-lebihan.

Adalah baik memosisikan perubahan realitas signifikan hari ini pada kadar sewajarnya, dengan respons sewajarnya. Pemahaman yang cukup akan bermuara pada kehidupan bahagia, tanpa tekanan yang tak perlu.

Selamat datang, kebebasan para perempuan. Kebebasan makhluk cantik yang akan selalu cantik, tanpa keberlebihan. Ya, independensi si cantik.