Search and Hit Enter

Deliar Noer

Taufik Abdullah, seorang sejarawan unggulan republik ini, menulis dengan penuh perasaan sesak dan haru di majalah Tempo Ed 23-29 Juni 2008. Ia menulis tentang Deliar Noer, salah satu pemikir Islam Indonesia yang wafat pada hari Rabu 18 Juni 2008 pukul 10.30 WIB di usia 82 tahun. Pemikir yang sangat aku yakini kebesarannya, tapi tak pernah aku cermati pemikiran-pemikirannya. Dulu, aku lebih memilih Cak Nur, Harun Nasution, atau Ahmad Wahib ketimbang gagasan-gagasan moderasi yang lebih halus itu.

‘Perginya Pendamai Santun’, begitu judul tulisan Taufik. Tanpa banyak menelaah, atau belum membaca tulisan lebih jauh, aku akan berkesimpulan cepat dari judul itu. Jelas termaktub di sana tulisan perpisahan bagi seorang baik. Anak manusia yang memiliki integritas perdamaian selama hidupnya. Ia berusaha keras bertindak bijak di tengah konflik, dengan mencari semua solusi tanpa harus berdarah-darah. Yang lebih menukik, ia adalah sosok yang juga santun. Sebab, jarang adanya bila pendamai itu santun. Seringnya, karena pendamai berusaha kuat menyelesaikan persoalan maka ia akan menyusun bargaining di tengah konflik; agar semua kebajikan kedamaian yang ia maui didengar.

Sulit ditengarai, apakah Taufik memberi judul ini lantaran ia yang sangat mengerti cara berpikir Deliar, atau sebenarnya, kesan kedekatan emosional keduanyalah yang tengah berurun rembuk. Terkadang, banyak hal yang sulit dipisahkan dari pola pikir, sikap, dan perilaku seseorang. Namun, media dan segala peranti kesan terkadang juga berhasil membangun gengsi khusus atas ketiga hal itu yang perlu dipisahkan. Pertanyaan ini terjawab dari caption yang ditulis Tempo pada ilusrasi foto Deliar di tahun 2002 dengan, selalu berusaha jujur. Sebuah ungkapan yang mengharukan untuk menjembatani pendeskripsian prestasi seseorang di antara berjibun gengsi media atas berita yang ia muat. Tempo kesulitan memungkiri kejujuran itu.

Pada awal tulisan, Taufik mengutip Otobiografi Deliar Noer, Aku Bagian Ummat, Aku Bagian Bangsa. “Dan banyaklah yang kemudian kuhadapi tanpa menduga sebelumnya. Pemberhentianku sebagai Rektor IKIP Jakarta, lama mengajar di banyak perguruan tinggi di Indonesia, interogasi yang kualami…. Namun akhirnya berlalu tanpa pengaruh berarti. Agaknya, hal ini yang mempermudah aku melaluinya. Maka penyesalan pun menjauh, terhadap diri dan orang lain.”

Aku tidak tertarik dengan ‘pemberhentian’ atau ‘interogasi’ sebagai simplifikasi kekontroversialan Deliar di masa lalu. Aku perlahan menyusun hikmah atas dua kalimat terakhir. Ya, Deliar merasa bahwa amnesia publik atas semua perilakunya di masa lalu, yang ia anggap terbaik, justru sangat menenangkannya. Sebab, ia kemudian merasa tidak perlu untuk mempertanggungjawabkan penyesalan itu, karena belum menampakkan hasil signifikan.

Aku bayangkan, betapa sesak perasaannya saat menuliskan itu. Tentu bukan sesak karena ia yang mulai dilupakan, tapi sesak karena ia yang terbebani sesal atas semua perilakunya di masa lalu. Padahal, Deliar tak serendah itu di mata publik. Aku menilai, umumnya cendekiawan selalu merasa terbebani tugas yang amat sangat berat, tapi juga sangat berbahagia ketika ia, setidaknya berhasil menerjemahkannya dalam aksi yang tidak signifikan. Sedikit sentimentil, tapi menurutku, sangat wajar.

Nah, pernyataan Deliar memberi ruang besar bagi dedikasiku atas penyelesaian problem kemanusiaan yang ada. Bila Deliar saja, yang shalatnya pasti lebih baik dariku, merasa tetap berbahagia dengan ‘pelepasan’ sesal yang ia tanggung maka aku tak akan bertakabur ria dengan semua inginku atas dunia yang lebih baik.

Pendapat umum berkata, bukankah bila hal baik yang ditawarkan ke publik, lantas tidak diterima, berarti sebuah kegagalan? Bukan, Deliar tidak berpikir begitu. Barangkali, sebanding dengan hidayah Tuhan yang tak pernah aku mengerti. Seseorang hanya berupaya menjelaskan keyakinan suci tentang kehidupan yang direstui-Nya, sementara apakah orang lain akan mengikuti atau tidak, itu jatah Tuhan. Itu hidayah-Nya. Wajar bila kemudian, manusia tak perlu merasa bahwa dialah yang berhasil menyadarkan seseorang yang dianggap telah keluar dari jalur Tuhan.

Deliar berujar tentang hidup sekadarnya, yang penuh kerja keras, tanggung jawab, dan keberserahan diri, tanpa bertendensi kuat untuk lahir menjadi sosok yang didamba atau dirindukan banyak pihak. Sebab, di akhir masa, semua itu hanya sebagian kecil dari cerita peradaban yang tengah bergerak. Namanya sedikit, pasti tak memuaskan. Sedikit pasti berbanding lurus dengan kenisbian. Namun, yang sedikit itu dijalankan dengan penuh keyakinan, ikhtiar, dan kerendahhatian.

Aku mengerutkan dahi. Apakah sesosok baik Deliar, atau sepantarnya memang memilih ‘sendiri’ atau ‘terasing’? Ia berperilaku wajar layaknya kebanyakan, tapi ia punya pilihan untuk berbicara pada dirinya, untuk hidup yang tak melulu seperti biasanya; untuk hidup yang bahkan, berbeda dengan yang lain. Ia telah berusaha menafsir kuat perintah Tuhan di ranah yang benar. Namun, bila kemudian ia teguh, dan kawan-kawannya memilih hengkang dari sisinya maka ia akan memilih untuk kembali pada-Nya. Mautkah yang ia maksud?

“Ya Allah, Engkau perintahkan aku istiqamah, dan ini kuusahakan juga. Tetapi acap pula godaan mengganggu, karena istiqamah membawa pada kesepian. Sikap konsisten mudah menyebabkan kawan di sekelilingku lari…. Ya Allah, dekatkan aku pada-Mu,” begitu sepenggal tulisannya yang, juga dikutip Taufik.

Semoga Allah memberikan tempat yang paling layak pada beliau. Semoga aku bisa berbuat sebaik beliau. Atau setidaknya, sejujur beliau.