Search and Hit Enter

Cakep, Manis, dan Cantik

Menurutku, cakep, manis, dan cantik itu berbeda. Setidaknya, sensor insting kelelakianku atas tiga diksi ini memang unik aku rasakan. Aku jelas sangat suka menatapi wajah-wajah cakep itu. Atau betah dengan aura-aura manis itu. Atau mengulum senyum tanda aku juga berhasrat pada kepribadian cantik. Bahkan dalam satu waktu, aku bisa sangat rakus untuk mendapatkan ketiganya. Maklum, aku kan laki-laki yang sangat normal.

Batasan cakep itu ada pada penilaian yang full fisik dan kasat mata. Cakep merepresentasi kecenderungan preferensi publik terhadap sosok perempuan yang ‘umumnya’ dianggap good looking. Tamara Blezinsky itu cakep. Semua cowo pasti bilang ya, tak peduli dia kakek-kakek atau anak-anak usia puber pertama. Tamara punya kualifikasi bentuk dan lekuk tubuh yang sering ditayangkan media. Kalau awalnya, cewe-cewe seperti Tamara diteorisasi akan menemui pasarnya dengan bentukan persepsi bahwa dia memang ‘bintang’ maka sekarang semua orang telah berkesimpulan, ia benar-benar cakep.

Dulu di Jazirah Arab, perempuan yang disukai publik adalah yang berbadan gemuk. Konon, Cleopatra bahkan juga berbadan tambun. Semua itu tampak di relief dan artefak yang masih ada sekarang. Gemuk menandakan kesuburan, sehat, dan makmur. Namun, setelah Revolusi Industri, orang mulai mengganti preferensi dengan badan perempuan yang kurus tapi sintal. Tipe tubuh ini menandakan efisiensi, kecekatan, dan kedinamisan.

Perlahan dan pasti, perempuan-perempuan berbadan gemuk mulai tersingkir dan disingkirkan, meski kelebihsukaan beberapa kalangan pada perempuan gemuk tetap ada. Apakah ini salah satu bentuk kekejaman dunia, atau semacam antitesis dinamika yang akan terus berkembang, kita serahkan saja pada penjual obat penyusut perut, pil diet, hingga puluhan alat-alat kesehatan untuk menurunkan berat badan.

Sama seperti di masa lalu, sewaktu Citra hand & body lotion yang diperuntukkan cewe-cewe di kawasan tropis, mengabarkan pada publik Indonesia bahwa cewe idola itu berkulit kuning langsat. Tapi setelah dominasi produk make-up asing mulai mengental, indahnya kulit kuning langsat bergeser menjadi kulit putih. Dan bahkan Citra menelurkan produk Citra White, untuk berbaur dengan perubahan citra kecantikan yang telanjur dominan. Meski bila diselisik lebih jauh, semua itu hanya kesan yang dibikin dan kebutuhan yang direkayasa.

Jadi, cakep sangat dekat dengan keinginan publik atau kecenderungan yang bisa saja didesain. Media sangat berperan mengarahkan kelebihsukaan ini. Lihatlah, sekarang ini semua sudut tubuh perempuan dari ujung rambut kepala hingga ujung kaki disediakan kosmetik dan perawatannya; baik luar maupun dalam; baik yang tampak maupun yang tampak. Ini pertanda bahwa sebenarnya ada orientasi kuat untuk memecahkan misteri kecantikan, meski dari waktu ke waktu bisa berubah.

Termasuk Naomi Campbell yang dapat bersanding dengan Claudia Schiffer, atau Halle Berry yang meroket mendahului Cameron Diaz, atau 50 Cent yang tak mau berfoto bareng dengan Kylie Minogue, hanya karena takut citra negronya tak lagi bertaji. Belum tentang Barrack Obama yang tiba-tiba memimpin kulit putih, atau Nayla Alatas yang model itu. Ada tampilan baru tentang ‘perseteruan’ yang bisa saja dibikin untuk lebih merasuki pasar; tak hanya perempuan berkulit putih.

Sementara itu, batasan manis membangun asosiasiku agak berbeda. Cewe tipe ini tidak ingar-bingar performance-nya. Ia punya kualifikasi standar yang tak gegap gempita, coreng montreng, atau funk-modis. Tapi, cewe manis punya segudang cara untuk membuat lawan bicaranya kerasan bersamanya. Cewe manis pandai membuat komunitasnya betah pada pekerjaannnya. Cewe manis punya seabrek perhatian pada lingkungan di sekitarnya. Cewe manis juga punya empati tinggi pada persoalan dan mungkin, sesekali berpikir bahwa dia memang seksi.

Kata orang, itu inner beauty. Tapi aku tak setuju. Cewe manis, selain inner beauty juga pandai berdandan meski bukan pesolek. Jadi, istilah inner beauty bukan untuk melupakan tampilan fisik. Istilah inner beauty bukan untuk mengganti kata ‘tidak manis’. Inner beauty bukan pelarian citra dari cewe-cewe yang tidak dipilih publik. Sebab, inner beauty pasti berbanding lurus dengan kemampuan si cewe untuk me-manage dirinya.

Semisal yang aku dapat selama ini, dan membuatku berkesimpulan rigid bahwa cewe-cewe Pabelan itu manis. Sumpah!!! Aku putar argumenku. Cewe manis dapat membuat semua persoalan sulit menjadi lebih santai, kekhawatiran melunak menjadi soft, dan kekagetan bisa berbalik menjadi kejutan yang dapat membangun spirit untuk maju. Ia dapat menyiasati keapaadaannya dengan kecerdasannya. Hingga ia punya cara sendiri untuk tak minder di depan realitas apa pun. Ia sederhana tapi menarik. Ia tak perlu kelihatan dominan, tapi ia sangat penting. Dan yang jelas, ia pendamba dan pelaku konsistensi. Ya, ia sangat loyal alias setia.

Nah untuk batasan cewe cantik, aku pasti akan lebih sensitif. Cewe model ini sangat gampang mengubah-ubah persepsiku atasnya. Terkadang, aku menilainya cakep. Di saat lain, aku mengiranya dia manis. Dan satu waktu, aku terkagum-kagum dengan semua hal yang ada di dirinya. Ia enak dilihat, smart, peduli, juga seksi. Yang paling penting, di luar semua kualifikasi itu, aku pasti akan banyak berpikir tentang beberapa hal di dirinya yang aku sendiri masih belum bisa merasionalisasikannya. Ya, spechless!!

Ia tampak berbeda. Ia terkesan menentang arah kebanyakan, dengan caranya sendiri. Ia selalu kelihatan dinamis. Ia bisa berkorban. Ia pantang surut. Ia tak merendahkan. Ia pendukung tangguh. Ia penyabar ulung. Ia mengerti. Ia….

Oke, aku menyerah. Frida Lidwina itu cantik.