Search and Hit Enter

Buku dan Kesejahteraan

HARI ini aku ke perpustakaan nasional. Aku berangan seperti Rangga di pelataran Kwitang (AADC), Clark Kent dengan kaca mata tebal berikut tumpukan data reportasenya di Daily Planet (Superman), atau Peter Parker yang selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan kota (Spiderman). Bukan bermaksud menjadi hero, sebab aku tak pernah berkeinginan untuk berkuasa absolut di dunia ini. Itu tak pantas, kalau pun aku setangguh mereka.

Aku hanya sedikit meniru Kenneth O’ Donnel, asisten khusus Kennedy, yang tak perlu terkenal tapi berkontribusi besar pada pemenangan Pilpres AS untuk Partai Demokrat, baik saat menangani Kennedy atau pun adiknya, Robert  ‘Bob’ Kennedy (Thirteen Days). Atau kalimat penting, “Bila orang lain tahu apa yang kau kerjakan, berarti kau gagal.” (SWAT) Atau, Tan Malaka, seorang Komunis-Nasionalis-Islam, yang jarang berada di Indonesia, tapi berperan penting bagi kemerdekaan Republik Indonesia.

Jelas saja aku iri pada Raya yang gila kerja (Dunia Tanpa Koma), Elizabeth Bennet yang sering berjalan berkeliling desanya di pagi hari hanya untuk membaca buku (Pride & Prejudice), juga Maria yang cerdas (Ayat-Ayat Cinta).

Atau sebenarnya, kegilaanku tak terkendali saat tak kutemukan tempat nyaman di Jakarta. Katanya, Utan Kayu bisa memberiku banyak asupan intelektual. Tapi, aku masih saja merasa, kalau semua itu tak berujung. Utan Kayu hanya menyajikan kebrutalan imaji yang bagiku, terlalu lambat mengeksekusi realitas. Aku butuh yang sejuk tapi radikal. Katanya, TIM banyak diisi orang-orang idealis. Tapi, selain terkadang aku tak nyaman juga dengan operator-operator gerakan yang ternyata juga haus kekuasaan, hanya toko buku itu yang sedikit mengurai kejengahanku. Itu pun tak terlalu memadai, lantaran aku butuh menulis.

Bermacam hotel aku kunjungi, tapi aku hanya mengerti satu hal… tak ada yang baru di kepalaku. Bermacam kafe aku datangi, tapi aku pun berpapasan dengan satu hal… banyak hal yang sangat aku bisa kira-kira. Pun saat bermacam tokoh penting aku ajak bicara, tapi ternyata… aku merasa semakin kosong.

Padahal, aku ingin pecahkan banyak hal. Aku ingin tahu, apakah pemusatan modal di beberapa tangan itu keniscayaan yang akan selalu terjadi sepanjang masa? Aku ingin paham, apakah padatnya jalan-jalan Jakarta karena karyawan yang harus berangkat di pagi hari itu sebuah keharusan sejarah? Pantaskah semisal aku berangan-angan, suatu saat, orang bekerja keras tanpa harus ketakutan dengan jam kerja. Aku ingin mengerti, adilkah bila upah yang diterima seseorang itu, harus didasarkan pada ijazah atau daya pikir seseorang? Layakkah argumenku bila kemudian banyak orang yang bekerja ‘kasar’ itu, lantas dapat disejajarkan upahnya dengan manajer atau direktur sekalipun.

Aku berlebihan. Sebab, masih terlalu pelik bila kemudian aku menganggap semua ini selesai, tanpa proses yang sistematis. Setiap kali aku berpikir tak adil tentang tidak meratanya pendapatan, aku belum bisa memastikan pula, mengapa ada perilaku homo economicus yang diciptakan Tuhan. Akhirnya, dengan membebek, aku pasti akan mengaburkan kembali pandanganku dan berujar, “Siapa sih yang pengin hidup susah?” Setiap cela yang kususun untuk menegasikan iktikad baik pemilik modal untuk memperlakukan karyawan-karyawan itu, aku juga tak sanggup mengkontribusikan mental dan moral kebersamaan seperti apa yang kemudian harus dibangun, untuk memberikan kesejahteraan yang sama bagi semua orang. Aku pun tak dapat mengelak dengan pertanyaan klise, “Sekolah kan butuh biaya besar?”

Berkeras aku bergumul pada pemikiran-pemikiran Kiri Baru yang tren pada dekade 60-an di AS. Kritik terhadap ketimpangan industrialisasi AS itu tergerus oleh ingar-bingar globalisasi. Ya, AS butuh identitas adidaya untuk mempertahankan semua kekayaan dan kepongahannya. Aku hanya ingin mengutip beberapa prinsip dasar tentang penguasaan modal yang manusiawi. Sebab, kalau tak aku temukan celah manusiawinya, berarti penguasaan modal memang salah. Atau, bila lantas aku temukan bermacam pinta pemikir Kiri Baru yang dapat meyakinkanku tentang banyak kelemahan sistem perekonomian AS yang memuja individualisme dan globalisasi maka aku akan sedikit berbungah bahwa ada sedikit keinginan untuk meniadakan pemusatan modal pada segelintir orang; meski aku belum tahu formulanya.

“Mas, sudah setengah enam. Perpustakaan mau tutup,” sapa petugas perpusnas membuyarkan semua desain idealku tentang dunia yang lebih baik.